Bisnis.com, JAKARTA — Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menilai banyak negara yang iri dengan pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi, namun dibarengi dengan inflasi yang cukup rendah dan defisit fiskal di bawah 3%.
Pada forum yang turut dihadiri oleh Asean+3 Macroeconomic Research Office (AMRO), Suahasil menyebut pertumbuhan ekonomi hingga 5,61% (yoy) pada kuartal I/2026 merupakan yang tertinggi sejak beberapa tahun belakangan.
Di sisi lain, inflasi masih bisa dikendalikan pada level 2,42% (yoy) pada Mei 2026.
"Dengan kombinasi pertumbuhan ekonomi 5,6% dan inflasi 2,4%, saya bertaruh ini menjadi sumber kecemburuan dari banyak negara lain. Tidak mudah mencapai pertumbuhan 5,6% dengan inflasi 2,4%," jelasnya di kantor Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Jakarta, Senin (25/5/2026).
Tidak hanya itu, Suahasil menyebut kondisi ekonomi makro ini bisa tercapai dengan defisit APBN yang masih di bawah batas 3% terhadap PDB. Pada akhir 2025 lalu, defisit fiskal tercatat sebesar 2,9% dengan pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2025 yang juga tinggi sebesar 5,39% (yoy).
Perlu dicatat bahwa estimasi defisit APBN 2,93% terhadap PDB ini merupakan di antara yang terbesar sejak beberapa tahun belakangan.
Baca Juga
- Ekonomi RI Bebas dari Tanda-Tanda Krisis, Wamenkeu Beri Penjelasan
- Bos OJK Ungkap Jurus Perkuat Ekonomi Daerah di Tengah Krisis Global
- Nafas Lega Sisi Fiskal Sebelum Ditempa untuk Capai Target Ekonomi
Meski demikian, Suahasil melihat dari perspektif lain. Dia membandingkan bahwa banyak dari negara-negara lain yang kini sudah tidak lagi mempertahankan batas defisit APBN 3%. Namun, pertumbuhan ekonominya pun tidak setinggi Indonesia.
"Anda bisa lihat banyak negara-negara lain tidak lagi mempertahankan defisit fiskal 3%, namun pertumbuhan ekonominya lebih rendah. Jadi, saya sangat berharap tiga kombinasi ini, dan kami bisa memperlihatkan kombinasi indikator lainnya, guna menunjukkan kekuatan Indonesia," terangnya.
Pada 2027, Suahasil juga menekankan keinginan Presiden Prabowo Subianto untuk semakin mempersempit defisit fiskal. Target yang tertuang pada Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) menargetkan defisit berada sekitar 1,8% sampai 2,4% terhadap PDB.
"Ini di bawah perencanaan kami tahun ini [2,68%]. Kami harus melaksanakan instruksi ini, namun kami bisa mengerjakan hal tersebut," pungkasnya.





