Alarm Perang Dunia? Rusia Hujani Kyiv dengan 90 Rudal dan 600 Drone dalam Semalam

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pada Minggu dini hari, 24 Mei 2026, ibu kota Ukraina, Kyiv, mengalami salah satu serangan udara terbesar sejak perang Rusia-Ukraina dimulai. Gelombang serangan besar-besaran yang dilancarkan Rusia menggunakan kombinasi rudal balistik, rudal hipersonik, dan ratusan drone tempur menyebabkan ledakan dahsyat di berbagai wilayah kota dan memicu kepanikan massal di tengah malam.

Pemerintah Ukraina menyatakan bahwa serangan tersebut kemungkinan melibatkan penggunaan rudal hipersonik generasi baru Rusia, yaitu Oreshnik, senjata yang selama ini disebut-sebut sebagai salah satu rudal paling sulit dicegat di dunia.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi bahwa berdasarkan hasil analisis awal militer dan intelijen Ukraina, Rusia diduga menggunakan rudal Oreshnik untuk menyerang Kyiv dan wilayah sekitarnya.

Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah Ukraina sebelumnya melancarkan serangan drone terhadap sejumlah target strategis Rusia, termasuk kapal perang, fasilitas minyak, serta pangkalan drone militer.

Ledakan Mengguncang Kyiv Tengah Malam

Menurut laporan otoritas setempat, serangan dimulai sesaat setelah pukul 01.00 dini hari waktu Kyiv. Warga di berbagai distrik ibu kota melaporkan mendengar suara alarm serangan udara disusul rentetan ledakan keras yang mengguncang kota.

Beberapa saksi mata mengatakan langit malam Kyiv dipenuhi cahaya ledakan dan jejak rudal pencegat dari sistem pertahanan udara Ukraina.

Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, melalui akun Telegram resminya menyatakan bahwa sebagian rudal Rusia berhasil menembus pertahanan udara dan menghantam kawasan permukiman.

Akibat serangan tersebut, sejumlah gedung apartemen mengalami kerusakan berat. Pecahan kaca dan puing bangunan dilaporkan berserakan di beberapa distrik pusat kota.

Selain itu, sebuah bangunan sekolah di pusat Kyiv dilaporkan terbakar hebat setelah terkena dampak ledakan. Tim pemadam kebakaran dan petugas penyelamat segera dikerahkan ke lokasi untuk mengevakuasi warga dan memadamkan api.

Zelenskyy Sudah Memberi Peringatan Sehari Sebelumnya

Sehari sebelum serangan terjadi, tepatnya pada 23 Mei 2026, Presiden Zelenskyy telah mengeluarkan peringatan publik melalui platform X.

Dalam pernyataannya, ia mengatakan bahwa berdasarkan informasi intelijen Ukraina dan data dari negara-negara mitra Barat, Rusia sedang mempersiapkan serangan besar menggunakan berbagai jenis senjata terhadap Kyiv dan sejumlah wilayah lain di Ukraina.

Zelenskyy menyebut bahwa negara-negara Eropa telah mengamati adanya peningkatan aktivitas militer Rusia yang mengarah pada persiapan peluncuran rudal strategis.

Ia kemudian mengimbau masyarakat Ukraina untuk selalu memperhatikan alarm serangan udara dan segera menuju bunker atau tempat perlindungan pertahanan sipil ketika sirene berbunyi.

Menurut Zelenskyy, penggunaan rudal hipersonik seperti Oreshnik serta upaya Rusia memperpanjang perang dapat menciptakan preseden berbahaya bagi konflik global di masa depan.

Ia menegaskan bahwa komunitas internasional harus memberikan respons nyata dan meningkatkan tekanan terhadap Moskow agar perang tidak semakin meluas.

Rusia Luncurkan 90 Rudal dan 600 Drone

Dalam laporan resmi yang disampaikan pemerintah Ukraina setelah serangan berlangsung, Rusia disebut meluncurkan sekitar 90 rudal dari berbagai jenis, termasuk 36 rudal balistik.

Selain itu, sekitar 600 drone tempur dan drone kamikaze juga dikerahkan dalam operasi tersebut.

Gelombang serangan masif ini disebut menjadi salah satu operasi udara terbesar Rusia sepanjang tahun 2026.

Militer Ukraina mengklaim sebagian rudal dan drone berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara, namun jumlah proyektil yang sangat besar membuat beberapa target tetap terkena hantaman langsung.

Rudal Oreshnik Jadi Sorotan Dunia

Sorotan terbesar dalam serangan kali ini tertuju pada dugaan penggunaan rudal hipersonik Oreshnik.

Rudal ini disebut mampu melaju dengan kecepatan lebih dari Mach 10 atau lebih dari sepuluh kali kecepatan suara.

Oreshnik juga dilaporkan menggunakan teknologi multi-warhead re-entry, yaitu kemampuan membawa beberapa hulu ledak yang dapat memisah dan menyerang target berbeda dalam satu peluncuran.

Selain itu, rudal tersebut dirancang untuk menghancurkan target bawah tanah dan bunker pertahanan dalam.

Karena kecepatannya yang sangat tinggi serta lintasan manuvernya yang kompleks, sistem pertahanan udara modern saat ini disebut sangat sulit mencegat rudal jenis tersebut.

Jika benar digunakan, maka ini merupakan ketiga kalinya Rusia mengoperasikan rudal Oreshnik dalam perang melawan Ukraina.

Sebelumnya, Rusia pertama kali menggunakan rudal tersebut pada 21 November 2024 untuk menyerang kota Dnipro di tenggara Ukraina.

Penggunaan kedua dilaporkan terjadi pada 9 Januari 2026 ketika Rusia menyerang infrastruktur strategis di wilayah Lviv dekat perbatasan Polandia.

Gudang Senjata Ukraina Dilaporkan Hancur

Sejumlah laporan militer menyebutkan bahwa serangan Rusia kali ini menghancurkan beberapa gudang persenjataan Ukraina serta fasilitas logistik dan infrastruktur militer lainnya.

Namun hingga kini, rincian kerusakan secara lengkap masih belum diumumkan secara resmi oleh pemerintah Ukraina.

Di tengah kekacauan pasca-serangan, muncul pula rumor yang belum dapat diverifikasi mengenai kemungkinan tewasnya Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina, Oleksandr Syrskyi.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Ukraina maupun sumber independen mengenai kabar tersebut.

Ukraina Juga Dituduh Menyerang Sekolah di Rusia

Di sisi lain, Rusia sebelumnya menuduh Ukraina melakukan serangan terhadap sebuah asrama sekolah di wilayah Rusia pada malam hari ketika para siswa sedang tidur.

Menurut pihak Rusia, serangan tersebut menyebabkan sedikitnya 16 siswa tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka atau hilang.

Hingga kini, informasi tersebut masih sulit diverifikasi secara independen karena situasi perang yang terus berlangsung dan pembatasan akses media di wilayah konflik.

Kedutaan Besar AS Sempat Keluarkan Peringatan Darurat

Menjelang serangan besar itu, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kyiv sebelumnya telah mengeluarkan peringatan keamanan kepada warga negara Amerika di Ukraina.

Dalam pemberitahuan resmi tersebut, Kedutaan menyatakan telah menerima informasi mengenai kemungkinan terjadinya serangan udara besar dalam waktu 24 jam ke depan.

Warga Amerika diminta untuk segera mencari tempat perlindungan apabila alarm serangan udara berbunyi.

Peringatan itu kemudian dianggap sebagai salah satu indikasi bahwa intelijen Barat memang telah mendeteksi persiapan operasi militer besar oleh Rusia sebelum serangan terjadi.

Ketegangan Perang Kian Memanas

Serangan besar pada 24 Mei 2026 menunjukkan bahwa perang Rusia-Ukraina kini kembali memasuki fase yang jauh lebih berbahaya.

Penggunaan rudal hipersonik, serangan drone skala besar, serta meningkatnya intensitas balasan dari kedua pihak memperlihatkan bahwa konflik tidak hanya semakin brutal, tetapi juga semakin sulit diprediksi.

Banyak analis militer menilai bahwa jika penggunaan senjata strategis seperti Oreshnik terus meningkat, maka risiko eskalasi konflik yang lebih luas akan semakin besar, termasuk kemungkinan meningkatnya keterlibatan negara-negara Barat dalam dukungan pertahanan Ukraina.  (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dituntut 5 tahun penjara, eks Wamenaker "Noel" baca pleidoi hari ini
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Heboh Kaki Pria di Tambora Putus Disebut Korban Begal, Ternyata Korban Kecelakaan Tunggal
• 4 jam laludisway.id
thumb
Pikiran Sehat, Tubuh Kuat: Mengapa Kesehatan Mental Adalah Kunci Kebugaran
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Marak Aksi Begal, Polres Metro Bekasi Gelar Operasi Kejahatan Jalanan
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Wamen ESDM Beberkan Penyebab Blackout Sumatera: Murni Karena Kondisi Alam
• 3 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.