Harga Minyak WTI Masih Tertekan, Dolar AS dan Sentimen Global Jadi Beban Pasar

medcom.id
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan Senin (25/5). Tekanan tersebut dipicu kombinasi sentimen teknikal bearish dan faktor fundamental global yang masih membebani pasar energi.
 
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai pergerakan WTI pada grafik harian menunjukkan tren penurunan yang semakin kuat. Menurut dia, peluang pelemahan lanjutan masih terbuka apabila harga gagal bertahan di area support utama.
  Baca juga:  Banyak Gangguan Pasokan, Kilang Minyak Asia Tenggara Lagi Ngerem Produksi
Secara teknikal, harga WTI beberapa kali gagal menembus area resistance yang berada di sekitar level swing high sebelumnya. Kondisi ini mengindikasikan tekanan jual masih mendominasi dan membatasi ruang penguatan harga dalam jangka pendek.
 
Struktur pergerakan harga juga mulai membentuk pola bearish baru setelah momentum kenaikan sebelumnya tidak mampu dipertahankan. Saat ini, level support penting berada di kisaran USD89,89 per barel. Jika area tersebut berhasil ditembus, maka harga minyak berpotensi melanjutkan pelemahan menuju support berikutnya di sekitar USD85,11 per barel.

Dari sisi indikator teknikal, stochastic masih bergerak turun dan menunjukkan momentum bearish yang belum mereda. Hal itu menandakan peluang rebound masih relatif terbatas selama belum ada sentimen positif yang kuat di pasar. Permintaan Global Melemah Selain faktor teknikal, tekanan terhadap harga minyak juga datang dari sisi fundamental. Kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global membuat pasar memperkirakan permintaan energi akan ikut melemah dalam beberapa waktu ke depan. Ketika pertumbuhan ekonomi melambat, konsumsi energi biasanya ikut menurun sehingga berdampak langsung pada permintaan minyak mentah di pasar internasional.
 
Di sisi lain, penguatan dolar Amerika Serikat turut menjadi faktor tambahan yang menekan harga minyak. Karena minyak diperdagangkan menggunakan dolar AS, penguatan mata uang tersebut membuat harga minyak menjadi lebih mahal bagi negara dengan mata uang lain. Kondisi itu berpotensi mengurangi permintaan global dan memperbesar tekanan bearish di pasar energi.
Pelaku pasar juga terus memantau kemungkinan peningkatan pasokan dari negara-negara produsen utama, termasuk arah kebijakan produksi kelompok OPEC+.
 
Jika suplai minyak meningkat di tengah permintaan global yang melambat, maka ketidakseimbangan pasar dapat memperbesar risiko penurunan harga minyak mentah.
Selain itu, sentimen risk-off di pasar keuangan global membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berbasis komoditas dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman.
 
Dengan kombinasi tekanan teknikal dan fundamental tersebut, harga minyak WTI diperkirakan masih bergerak dalam tren bearish dalam jangka pendek. Pelaku pasar kini menanti perkembangan ekonomi global, arah dolar AS, serta kebijakan produksi minyak dunia sebagai faktor utama penentu arah harga berikutnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PTPN jalankan arahan Kepala BP BUMN, Kakek Mujiran bebas
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
Indonesia Berpotensi Kuasai US$600 Miliar Ekonomi Digital ASEAN
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
AS Mulai Mundur! Kesepakatan Nuklir Iran Terancam Gagal Total Setelah Muncul Fakta Mengejutkan
• 2 jam laluerabaru.net
thumb
SMAN 2 Sidrap Juara LKBB-PB MPR RI Sulsel 2026 dan Melaju ke Final Nasional di Jakarta
• 4 jam lalupantau.com
thumb
Foto: Menjelajah Tradisi Unik Karapan Sapi Brujul di Probolinggo
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.