KOMPAS.com - Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI melalui Asisten Deputi (Asdep) Potensi Kawasan Perbatasan Darat (PKPD) melaksanakan pengukuran dan pemutakhiran Indeks Pengelolaan Kawasan Perbatasan pada Pusat Pertumbuhan Kawasan Perbatasan (IPKP PPKP) Entikong di Kecamatan Entikong dan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat (Kalbar), Rabu (20/5/2026).
Mewakili Deputi Bidang Pengelolaan Potensi Kawasan Perbatasan BNPP RI, Asdep PKPD Brigjen TNI Topri Daeng Balaw menjelaskan bahwa pengukuran IPKP dilakukan untuk memotret capaian pembangunan kawasan perbatasan secara faktual sekaligus menyusun profil kawasan secara komprehensif.
Menurutnya, hasil pengukuran tersebut akan menjadi dasar dalam memetakan berbagai tantangan pembangunan sekaligus merumuskan kebutuhan intervensi program dari kementerian dan lembaga terkait.
“Pengukuran dan pemutakhiran IPKP ini bertujuan memperoleh gambaran riil kondisi kawasan perbatasan, termasuk sektor-sektor yang masih memerlukan penguatan melalui program lintas kementerian dan lembaga,” ujar dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin (25/5/2026).
Baca juga: Abrasi Pantai Berpotensi Ubah Garis Batas Negara, Warga Pulau Sebatik Ngadu ke DPRD Kaltara
Dalam pengukuran tersebut, tim Asdep PKPD mencatat sejumlah isu pada layanan pemeriksaan lintas batas negara.
Di sektor kepabeanan, masih dibutuhkan mesin pemindai sinar-X di terminal keberangkatan untuk pemeriksaan barang ekspor yang saat ini masih dilakukan secara manual.
Sementara itu, pada layanan keimigrasian, keterbatasan ruang pelayanan dinilai memengaruhi optimalisasi layanan, mengingat rata-rata sekitar 250 orang dideportasi dari Malaysia setiap pekan.
Topri juga mengungkapkan rencana pengaktifan kembali sistem autogate di PLBN Entikong, masing-masing dua unit di pintu kedatangan dan keberangkatan, guna mempercepat pelayanan keimigrasian.
Selain itu, pihak imigrasi tengah berkoordinasi untuk mengaktifkan kembali pas lintas batas sebagai upaya meningkatkan pelayanan bagi masyarakat perbatasan.
Baca juga: Momen Langka Warga Perbatasan Kupang Soraki Helikopter Wapres Gibran Rakabuming
Di sektor kesehatan, Karantina Kesehatan berupaya meningkatkan pengawasan terhadap penyakit infeksi dan menular. Namun, dukungan sarana ekspedisi untuk pemeriksaan lanjutan sampel masih menjadi kebutuhan mendesak.
Kondisi layanan dasar lainnya juga menjadi perhatian, terutama keterbatasan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang mendorong sebagian masyarakat memilih berobat ke negara tetangga karena dinilai lebih memadai.
Pada aspek pengembangan ekonomi lokal, Topri menyoroti potensi industri kreatif masyarakat yang memanfaatkan limbah lidi daun sawit menjadi piring anyaman dan berbagai produk bernilai ekonomi lainnya.
Selain itu, terdapat Kelompok Tani (Poktan) Kamboja di Dusun Sontas, Desa Entikong, yang mengembangkan usaha penggilingan padi dan menghasilkan beras hitam serta beras merah berkualitas.
Produk tersebut bahkan telah dipasarkan lintas provinsi melalui marketplace dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) lokal.
Baca juga: DPRD Bantah Pernyataan Plt Bupati Pati Soal Pembatalan Raperda Pajak UMKM
“Usaha ini terbukti meningkatkan pendapatan petani karena nilai jualnya lebih tinggi dibandingkan gabah biasa. Potensi seperti ini perlu terus didorong agar ekonomi lokal perbatasan semakin kuat,” jelas Topri.





