JAKARTA - Ahmad Bahar bersama putrinya, Ilma Sani Fitriana, didampingi Aliansi Ormas Islam untuk Perlindungan Perempuan pada Senin (25/5/2026) mengajukan permohonan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Langkah ini diambil sebagai buntut perseteruan mereka dengan Ketua Umum Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu Jaya (GRIB Jaya), Rosario de Marshal alias Hercules.
Kuasa hukum kedua korban, Gufroni dari LBH APPP Muhammadiyah, menyebut langkah ini merupakan tindak lanjut atas laporan dugaan penyanderaan yang sempat dialami oleh Ilma.
"Kebetulan kami dari beberapa perwakilan LBH dari koalisi ormas Islam ini datang sebagai tindak lanjut dari kasus dugaan penyanderaan yang telah kita laporkan pada hari Jumat yang lalu," ucap Gufroni di Kantor LPSK, Jakarta Timur, Senin.
Menurutnya, permohonan ini diajukan untuk menjamin keselamatan dan keamanan Ahmad Bahar beserta putrinya selama proses hukum atas laporan polisi yang tengah berjalan. Permohonan perlindungan ini meliputi pendampingan hukum, fisik, hingga bantuan psikologis untuk Ilma yang kini mengalami tekanan mental.
Baca Juga:Satu Jemaah Haji Indonesia Wafat di Tanah Suci Akibat Serangan Jantung"Maka untuk menjamin keselamatan, keamanan, dan perlindungan, kami memohon kepada pimpinan LPSK untuk segera mengambil suatu keputusan agar Mbak Ilma dan ayahnya mendapatkan perlindungan. Kami juga meminta kepada LPSK untuk memberikan bantuan secara psikologis atau counseling, karena Mbak Ilma ini terguncang jiwanya, dan LPSK punya program untuk itu," ucap Gufroni.
Adapun polemik ini bermula ketika para anggota GRIB mendatangi kediaman rumah Ahmad Bahar pada Minggu (17/5/2026). Mereka mencari Ahmad Bahar karena diduga telah mengirimkan pesan ancaman kepada istri Hercules. Lantaran Ahmad Bahar sedang tidak berada di rumah, anggota GRIB membawa paksa Ilma ke Markas GRIB Jaya di Kedoya, Jakarta Barat.
Gufroni menyebut, pesan ancaman tersebut tidak murni dikirim oleh Ahmad Bahar. Sebab, saat itu ponsel milik Ahmad Bahar dan Ilma diduga kuat telah diretas oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
"Itu sudah dibantah berkali-kali berdasarkan data-data yang kita miliki bahwa itu terjadi karena handphone milik Ilma dan Pak Bahar memang benar-benar diretas," ucap Gufroni.
Baca Juga:DDC 2026 Tegaskan Peran Manusia di Era Akselerasi AIIa meyakini pesan ancaman tersebut bukan dilakukan oleh Ahmad Bahar dan Ilma, karena mereka berdua selama ini tidak mengenal keluarga Hercules. Keduanya juga tidak pernah menyimpan nomor ponsel keluarga Hercules.
"Jadi alih-alih punya nomor telepon mereka, kenal pun tidak, tidak pernah ketemu. Jadi sangat tidak mungkin kalau Ilma atau Pak Bahar mengancam-mengancam Hercules dan istrinya," sambungnya.




