Menkeu Purbaya Berani Sebut 10 Raksasa Sawit Mainkan Harga Ekspor, Negara Rugi Rp1,48 Triliun

disway.id
18 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa menyebut adanya dugaan praktik manipulasi nilai ekspor atau under invoicing dalam perdagangan minyak sawit mentah (CPO) yang dilakukan sejumlah perusahaan besar sawit. 

Ia menyampaikan ada 10 eksportir sawit terbesar yang terlibat di mana diduga perusahaan-perusahaan tersebut melakukan pola serupa.

"10 terbesar, semuanya melakukan hal itu. Jadi boleh dipastikan semuanya melakukan hal itu," kata Purbaya di DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.

BACA JUGA:Siapkan Rp60 Triliun untuk Aceh dan Sumatera, Purbaya: Jangan Takut, Anggarannya Ada

Akibat dugaan manipulasi tersebut, negara diperkirakan mengalami kerugian sekitar US$84 juta atau setara Rp1,48 triliun dengan asumsi kurs Rp17.700 per dolar AS. 

Bahkan, bendahara negara ini meyakini potensi kerugian itu bisa jauh lebih besar, apabila praktik-praktik kotor serupa ditemukan pada seluruh transaksi perusahaan-perusahaan terkait.

"Itu (US$84 juta) dari sampel yang diambil. Kalau dari semuanya (transaksi), ya pasti lebih besar. Karena kan itu (sampelnya) hanya sedikit saja, tiga kapal. Tapi kalau semua, iya (bisa lebih dari US$84 juta)," ujarnya.

BACA JUGA:Purbaya Siap Copot Dirjen Bea Cukai Usai Terseret Dugaan Suap SGD 213.600

Melihat ini, Purbaya telah melaporkan langsung nama-nama dalam daftar perusahaan sawit yang diduga melakukan praktik manipulasi harga ekspor tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto. 

Diketahui sebelumnya, Purbaya menegaskan, jika kasus under invoicing ini bisa terungkap dan diproses secara hukum, akan berdampak pada penerimaan negara.

Dalam hal ini Purbaya sempat membeberkan modus yang sama yang dilakukan perusahaan-perusahaan tersebut. 

BACA JUGA:IHSG Bangkit dan Ditutup Hijau, Purbaya: Investor Mulai Paham

Kala itu, mereka mengekspor produk ke perusahaan afiliasinya di Singapura dengan harga lebih rendah dari harga sebenarnya.

Selanjutnya, produk tersebut kemudian dijual kembali ke negara tujuan, dengan harga jauh lebih tinggi.

Bahkan, salah satu perusahaan terbukti hanya melaporkan nilai ekspor sebesar US$2,6 juta, sementara nilai impor yang tercatat di Amerika Serikat (AS) mencapai US$4,2 juta.

  • 1
  • 2
  • »

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anggota DPR usulkan "awardee" LPDP kesehatan mengabdi di wilayah 3T
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Brimob Polda Riau Sediakan Layanan Ganti Oli dan Servis Gratis untuk Ojol
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Harga Emas Antam Turun di Rp 2.798.000/Gram, Galeri24 Naik ke Rp 2.794.000/Gram
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Strategi BKPM Tarik Investasi ke Sektor Industri
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Manfaat Rutin Jalan Kaki 15 Menit Setiap Pagi
• 23 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.