Harga Emas dan Perak Terbang Tinggi, Bakal Bertahan Lama?

cnbcindonesia.com
12 jam lalu
Cover Berita
Foto: Pexels/Steinberg

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak terbang seiring menguatnya harapan tercapainya kesepakatan damai untuk mengakhiri perang Iran. Pelemahan dolar juga membantu permintaan emas.

Merujuk Refinitiv, harga emas ditutup di US$ 4570,56 per troy ons pada perdagangan Senin (25/5/206). Harganya melesat 1,37%. Kenaikan ini berbanding terbalik dengan pelemahan 0,8% pada Jumat pekan lalu.

Harga emas melandai pada hari ini. Pada Selasa (26/5/206) pukul 06,42 WIB, harga emas melemah 0,16% ke US$ 4563,03 per troy ons.

Harga emas spot naik 1,2% menjadi US$4.561,51 per ons pada pukul 13.19 GMT, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni menguat 0,9% menjadi US$4.563,60 per ons. Pasar AS tutup karena libur Memorial Day.

Pasar tetap optimistis meskipun Amerika Serikat (AS) dan Iran sama-sama meredam peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Sabtu bahwa kedua negara sebagian besar telah menegosiasikan nota kesepahaman terkait kesepakatan yang akan membuka kembali Selat Hormuz.

Baca: Cukup Sudah Jadi "Kurban" Market, Investor IHSG Juga Ingin Bahagia

Meski demikian, kedua pihak masih berselisih dalam sejumlah isu sulit yang harus diselesaikan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan.

Pasar saham menguat, sementara harga minyak turun di bawah US$100 per barel dan menyentuh level terendah dalam dua pekan. Dolar AS juga bergerak di sekitar level terendah dalam sepekan terakhir.

"Pasar aset keuangan saat ini sangat dipengaruhi oleh harga minyak, dan harga emas bukan pengecualian," kata analis UBS Giovanni Staunovo, dikutip dari Refinitiv.

"Harga minyak yang lebih rendah mendukung emas karena pasar memperkirakan hal itu akan memengaruhi kebijakan moneter Federal Reserve," ujar Staunovo, seraya menambahkan bahwa ia memperkirakan tren ini akan berlanjut dalam jangka pendek.

Baca: Koalisi Israel Pecah Saat Perang, Netanyahu Hadapi Ancaman Lengser

Harga emas telah turun sekitar 14% sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari, dipicu oleh tingginya harga energi yang memunculkan kekhawatiran inflasi dan prospek kenaikan suku bunga AS.

Pelaku pasar kini melihat peluang sebesar 40% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga AS sebesar 25 basis poin pada Desember. Angka tersebut berubah drastis dibanding ekspektasi sebelum konflik pecah, ketika banyak ekonom memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini.

Kevin Warsh resmi dilantik sebagai Ketua The Fed pada Jumat di tengah momen penting bagi ekonomi AS, ketika lonjakan harga bensin akibat konflik Timur Tengah memicu inflasi dan melemahkan sentimen konsumen.

"Trump telah meningkatkan harapan pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran, yang dapat membuka kembali Selat Hormuz. Prospek tersebut menekan harga minyak dan pada akhirnya memberikan dorongan positif bagi emas dari sisi prospek inflasi," kata Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer, kepada CNBC Indonesia.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pada Senin bahwa AS akan mencapai kesepakatan yang baik dengan Iran atau menghadapi negara tersebut "dengan cara lain".

Dolar AS bergerak di sekitar level terendah dalam sepekan, sehingga emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.


(mae/mae) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kejagung Terus Bongkar Korupsi Sektor Tambang, Pengusutan Kasus Bauksit Tuai Apresiasi Publik
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
BCA UMKM Fest 2026 Padukan Panggung Budaya dan Produk UMKM
• 23 jam lalukatadata.co.id
thumb
Pagelaran Sabang Merauke Hadir Kembali, Usung Kisah "Hikayat Srikandi Nusantara"
• 20 jam laluintipseleb.com
thumb
Sebanyak 2771 Peserta SNBT Lolos Jadi Calon Ksatria Airlangga
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
China Jadi Negara Kreditur Terbesar Kedua di Dunia, Salip Jepang
• 6 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.