Terkini, Makassar — Generasi Muda Indonesia Tionghoa (GEMA INTI) menyampaikan keprihatinan mendalam terkait dugaan diskriminasi dan rasisme terhadap Cathlyn, calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional asal Makassar yang dikabarkan gugur dalam proses seleksi karena latar belakang etnisnya.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Umum GEMA INTI, Erfan Sutono, melalui surat pernyataan sikap resmi organisasi.
Dalam keterangannya, GEMA INTI menilai apabila dugaan tersebut benar terjadi, maka hal itu merupakan pelanggaran terhadap prinsip keadilan dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
“Peristiwa ini, jika benar terjadi, merupakan bentuk pelanggaran terhadap prinsip keadilan, kesetaraan, serta semangat Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi dasar berdirinya bangsa Indonesia,” ujar Erfan Sutono dalam pernyataan resminya.
GEMA INTI menegaskan bahwa tidak boleh ada perlakuan berbeda terhadap anak bangsa berdasarkan suku, ras, agama, maupun latar belakang budaya.
Organisasi tersebut juga menilai diskriminasi dalam bentuk apa pun dapat mencederai nilai persatuan dan semangat kebangsaan.
Menurut Erfan, setiap generasi muda Indonesia memiliki hak yang sama untuk mengembangkan potensi, berprestasi, serta mengabdi kepada bangsa dan negara tanpa dibatasi oleh identitas etnis tertentu.
“Diskriminasi dalam bentuk apa pun tidak hanya melukai individu yang bersangkutan, tetapi juga mencederai nilai persatuan dan semangat kebangsaan yang telah kita bangun bersama,” lanjutnya.
Dalam surat pernyataan sikap itu, GEMA INTI mendesak Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan pihak terkait lainnya untuk segera mengambil langkah konkret atas polemik yang berkembang.
Adapun tuntutan yang disampaikan meliputi klarifikasi terbuka dan investigasi menyeluruh atas dugaan diskriminasi, menjamin proses seleksi Paskibraka berlangsung transparan dan objektif, memberikan keadilan kepada Cathlyn, serta mempertegas komitmen negara dalam melindungi warga dari praktik rasisme dan diskriminasi.
GEMA INTI juga mengingatkan bahwa keberagaman merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga bersama, bukan dijadikan alasan untuk membatasi kesempatan generasi muda.
“Berbeda bukan alasan untuk dibedakan,” demikian kutipan penegasan dalam surat pernyataan sikap tersebut.
“GEMA INTI berharap polemik yang mencuat dapat menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh pihak terhadap keadilan, kesetaraan, dan persatuan bangsa Indonesia,” demikian pernyataannya.



