Jejak Kedahsyatan Gempa Yogyakarta Setelah Dua Dasawarsa

kompas.id
13 jam lalu
Cover Berita

Iki kiamat opo yo (Apakah ini kiamat ya)?” ucap Sulasmono seketika saat tanah tempatnya berpijak berguncang hebat akibat gempa pada 27 Mei 2006. Ia segera berlari ke luar rumah dan meninggalkan rutinitas mencuci bajunya untuk mendapati sejumlah rumah tetangganya di Kampung Nglepen, Dusun Sengir, Desa Sumberharjo, Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, ambles seperti tertelan bumi pada pagi itu.

Pria yang waktu itu masih berusia 16 tahun tersebut secepat mungkin berusaha mencari anggota keluarganya yang lain untuk memastikan mereka semua selamat. Meski rumahnya rusak parah dan tidak bisa ditempati lagi, ia bersyukur tidak ada satu pun anggota keluarga ataupun tetangganya yang menjadi korban jiwa akibat peristiwa gempa berkekuatan 5,9 skala Richter itu.

Meskipun demikian, sebagian tanah pada kampung tercintanya itu ambles sedalam 7 meter dengan lebar 15 meter. Panjang retakan akibat gempa itu memanjang sejauh lebih dari 300 meter.

Kampung Nglepen pun tinggal sejarah karena dianggap terlalu berbahaya untuk dijadikan permukiman. Seluruh penduduk kampung itu kemudian direlokasi ke bekas lahan tebu yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari lokasi kampung semula.

Kampung Nglepen yang ditinggalkan. (Kompas/Ferganata Indra Riatmoko)

Bekas rumah warga di Kampung Nglepen. (Kompas/Ferganata Indra Riatmoko)

Sulasmono (36) melintas di depan bekas rumah saudaranya di Kampung Nglepen. (Kompas/Ferganata Indra Riatmoko)

Retakan pada dinding rumah di Kampung Nglepen. (Kompas/Ferganata Indra Riatmoko)

Salah satu bekas tandon air di Kampung Nglepen. (Kompas/Ferganata Indra Riatmoko)

Kenangan akan bencana itu selalu membekas di benak Sulasmono, bahkan hingga 20 tahun kemudian. ”Ini adalah bekas jalan menuju rumah saya,” ujar Sulasmono (36) sembari menunjuk ke sebuah jalan dengan lebar kurang dari 1 meter yang telah ditumbuhi rumput lebat di bekas Kampung Nglepen, Senin (18/5/2026).

Kampung yang dahulu bernuansa aman dan damai itu kini seolah menjadi artefak yang menjadi pengingat akan kedahsyatan gempa Yogyakarta tahun 2006. Sejumlah rumah dalam kondisi rusak dibiarkan terbengkalai dan ditumbuhi semak yang meninggi.

Sulasmono dapat menceritakan dengan detail tentang kondisi kampung dan rumah-rumah di kawasan permukiman itu sebelum peristiwa gempa. ”Saya sering mengantar tamu (wisatawan) ke tempat ini. Mereka biasanya penasaran dengan kondisi terkini Kampung Nglepen,” ujar pria yang kembali dipercaya untuk memimpin Kampung Wisata Domes itu.

Sejak tahun 2007, penduduk Kampung Nglepen menempati rumah berbentuk kubah atau yang sering disebut rumah dome di tempat relokasi. Terdapat 80 rumah dome yang dibangun dengan konsep rumah tahan gempa bagi para korban bencana itu.

Saat ini terdapat 20 rumah dome yang tidak ditempati. Walakin, perkampungan yang kini dikenal dengan nama Kampung Wisata Domes itu tetap memiliki daya tarik tersendiri bagi sebagian kalangan.

”Perkampungan dome ini merupakan satu-satunya di Asia,” klaim Sulasmono. Meski rumah berdiameter 7 meter itu harus dicat berkala agar tidak bocor, rumah dome tetap menjadi rumah kebanggaan bagi warga setempat.

Kusdiyanto (44) membuka pintu rumah dome miliknya di Dusun Gersik, Desa Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, Kamis (21/5/2026). (KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO)

Rumah dome milik keluarga Kusdiyanto di Dusun Gersik, Desa Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (21/5/2026). (KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO)

Kusdiyanto (44) menempati rumah dome bersama keluarganya di Dusun Gersik, Desa Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (21/5/2026). (KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO)

Rumah dome juga dibangun oleh sebagian warga Bantul. Kusdiyanto (44) adalah salah satu warga yang masih mempertahankan rumah dome-nya di Dusun Gersik, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul.

”Rumah saya dulu rata dengan tanah akibat gempa. Saya membangun rumah dome dengan biaya sendiri karena waktu itu ikut terlibat dalam proyek pembangunan rumah dome di Prambanan,” ujar Kusdiyanto.

Berbekal balon cetakan untuk membuat rumah dome, ia dan kakaknya membangun rumah itu di bekas teras rumahnya. Porselen di bekas ruang tamu ia pertahankan sebagai pengingat akan rumahnya yang dulu.

Gempa pada tahun 2006 itu membuat mayoritas rumah di Dusun Gersik roboh. ”Rumah-rumah di sini dulu roboh semua karena dahulu kami membangun rumah tanpa besi pada tulangnya,” kata Sispurwanto (79).

Ia pun berkisah tentang peristiwa gempa 20 tahun lalu sambil berdiri di fondasi bekas reruntuhan Mushala Al-Ikhlas yang roboh dan tidak dibangun kembali hingga kini. Potongan tembok dalam kondisi miring masih terlihat di lokasi itu dan menjadi penanda kedahsyatan peristiwa yang merenggut nyawa ribuan warga tersebut.

Meski sebagian warga nyaris lupa akan peristiwa yang terjadi dua dekade lalu itu, bencana gempa tersebut mengubah banyak hal dalam kehidupan masyarakat Bantul dan kawasan sekitarnya. Kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana semakin menguat dan masyarakat lebih waspada akan bencana serupa dengan membangun rumah yang memiliki struktur yang diharapkan lebih tahan gempa agar risiko jatuhnya korban jiwa bisa diminimalkan.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Populer: Harga Minyak Mentah Anjlok; PT DSI Resmi Jadi BUMN
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Sita 5 Jam Tangan Mewah Fadia Arafiq, KPK Hari Ini Periksa Manajer Butik INTime Senayan City
• 12 jam laluokezone.com
thumb
Dasco: Putusan MK soal Keterwakilan Perempuan Bersifat Final dan Mengikat
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Masih Ingat Park Hang-seo? Eks Rival Terberat Shin Tae-yong Resmi Comeback Jadi Pelatih Klub Thailand
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Lagi Naik Daun, Winger PSM Rizky Eka Diperebutkan Persebaya dan Adhyaksa FC
• 7 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.