Menumbuhkan semangat bercocok tanam "Orang Rimba" di Jambi 

antaranews.com
8 jam lalu
Cover Berita
Batang Hari, Jambi (ANTARA) - Matahari belum sepenuhnya tinggi ketika kendaraan kami berhenti di ujung jalan, di wilayah Sungai Terap, Desa Jelutih, Kecamatan Bathin XXIV, Kabupaten Batang Hari, Jambi.

Di sana, sekitar lima sudung —rumah tradisional Orang Rimba— berdiri tersebar di antara pepohonan, tanpa pola tata letak yang kaku.

Dari kejauhan, Tumenggung Nyenong (73), pemimpin kelompok tersebut, menatap kedatangan kami dengan wajah teduh. Ia seolah mengirimkan isyarat selamat datang kepada rombongan jurnalis dan komunitas pendamping yang berkunjung ke wilayah sisi timur Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) itu.

Belum lama perbincangan dimulai, Tumenggung Nyenong segera menunjukkan berbagai jenis umbi berukuran besar hasil kebunnya. Umbi-umbi itu tersusun rapi di kolong sudung, menjadi cadangan pangan bagi keluarganya.

“Kalau ada ubi, kami makan ubi. Kalau ada beras, ya kami makan beras,” ujar Tumenggung Nyenong pada Sabtu, 23 Mei 2026.

Ia menjelaskan bahwa umbi-umbi tersebut aman dikonsumsi dan kerap menjadi pengganti nasi. Jenisnya beragam, mulai dari umbi ketan, umbi manis, hingga umbi kelapa. Seluruhnya ditanam di lahan tak jauh dari tempat tinggal mereka.

Selain umbi-umbian, Tumenggung Nyenong juga mulai mengembangkan tanaman lain seperti singkong, keladi, durian, mangga, petai, dan pinang. Upaya bercocok tanam ini dijalankan perlahan, mengikuti anjuran pemerintah dan para pendamping, sebagai strategi memenuhi kebutuhan pangan di tengah perubahan lingkungan.

Menurut Nyenong, dalam beberapa tahun terakhir, Orang Rimba mulai serius mengadopsi pola tanam agroforestri, yaitu menanam berbagai jenis tanaman bernilai ekonomi dalam satu kawasan kebun. Harapannya, pola ini dapat menjaga ketersediaan pangan sekaligus memberikan sumber penghidupan yang lebih stabil.

Langkah ini menjadi kian penting mengingat tradisi melangun—berpindah meninggalkan wilayah tertentu setelah ada anggota keluarga yang meninggal—masih terus dijalankan. Dalam tradisi ini, mereka meninggalkan tempat tinggal untuk sementara waktu guna menghormati arwah dan menghapus kesedihan.

“Tradisi melangun tetap kami pertahankan karena itu adat yang tidak bisa hilang. Langit dijunjung, bumi dipijak, itu aturan adat,” tutur Tumenggung Nyenong.

Karena itu, keberadaan kebun menjadi vital. Setidaknya, ketika kembali dari melangun, mereka masih memiliki tanaman pangan yang siap panen tanpa harus memulai hidup dari nol.

Hal serupa dilakukan oleh Tumenggung Ngelembo (53). Di lahan garapan barunya, ia menanam berbagai komoditas non-kayu seperti jengkol, mangga, kelengkeng, durian, sawo, dan petai. Bibit tanaman tersebut merupakan bantuan dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi.

Meski belum menikmati hasil panen, Ngelembo tetap berusaha merawat tanaman-tanaman itu di tengah keterbatasan pengalaman bercocok tanam.

“Kendalanya banyak, terutama tanaman yang mati karena cuaca ekstrem, baik panas maupun hujan. Ini masih tahap belajar,” katanya.

Selain mengembangkan agroforestri, sebanyak 169 kepala keluarga dari lima kelompok Orang Rimba di Sungai Terap juga menerima pembagian lahan kebun karet seluas 114 hektare. Lahan tersebut berasal dari alokasi perusahaan pengelola Hutan Tanaman Industri (HTI) berdasarkan kesepakatan dengan pemerintah daerah.

Setiap keluarga memperoleh lahan kurang dari satu hektare. Sebagian Orang Rimba menggantungkan hidup dari hasil sadapan getah karet, meski penghasilannya masih jauh dari mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Nyerban (37), anggota kelompok Tumenggung Nyenong, mengakui bahwa hasil menyadap karet belum mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. Untuk menambah penghasilan, ia menanam talas dan cabai secara mandiri, sekaligus merawat pohon buah-buahan bantuan KKI Warsi.

Baca juga: Orang rimba dilibatkan dalam penanganan Karhutla di Jambi

Adaptasi di Sako Selenseng

Di bagian selatan bentang alam TNBD, tepatnya di kawasan Sako Selenseng, Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, pola adaptasi serupa juga mulai diterapkan.

Sejumlah Orang Rimba di wilayah itu mengembangkan tanaman agroforestri seperti alpukat, rambutan, dan pinang. Salah satunya adalah Tengganai Basmen (63). Di lahan seluas kurang dari satu hektare, ia mencoba mengembangkan tanaman bantuan KKI Warsi yang telah diterimanya sejak 2018.

Kini, pohon pinang miliknya mulai berbuah. Namun, rendahnya harga jual membuat ia tidak rutin memanen hasilnya. Banyak buah pinang dibiarkan matang di batang dan baru dipungut setelah jatuh ke tanah.

“Kemarin ada 20 kilogram dijual dengan harga Rp8.000 per kilogram. Untuk kualitas bagus, harga itu masih terlalu murah,” ujarnya.

Penghasilan tersebut tentu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, Basmen juga menanam kelapa sawit di lahan garapannya yang berada di zona tradisional TNBD.

Meski mulai mengadopsi pola pertanian masyarakat sekitar, Basmen tetap mempertahankan tradisi berburu di hutan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Baginya, berburu bukan sekadar cara mencari makan, melainkan bagian dari warisan leluhur Orang Rimba.

“Landak, kancil, dan biawak masih ada. Tapi babi sekarang susah ditemukan, entah kenapa. Mencari ikan juga tergantung musim; kalau musim hujan, ikan banyak di sungai,” katanya sambil duduk di bawah rindang pohon pinang di belakang rumahnya.

Baca juga: APBDes di Jambi bisa digunakan untuk pemberdayaan orang rimba



Peran Pendampingan KKI Warsi

Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi terus berupaya membuka akses pengetahuan bagi Orang Rimba melalui pendampingan agroforestri di kantong-kantong permukiman mereka. Langkah ini diambil seiring makin sulitnya masyarakat adat tersebut memperoleh sumber pangan dari hutan akibat perubahan lingkungan.

Melalui pola agroforestri, Orang Rimba didorong untuk beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa harus meninggalkan nilai-nilai adat yang mereka pegang teguh.

Data KKI Warsi mencatat, populasi Orang Rimba di bentang alam TNBD bagian timur dan selatan mencapai 228 kepala keluarga atau sekitar 1.082 jiwa, yang berada di bawah naungan enam tumenggung.

Project Officer KKI Warsi, Jauharul Maknun, menyatakan bahwa pihaknya merasa memiliki tanggung jawab untuk mendampingi Orang Rimba, sejalan dengan upaya pemerintah dan kelompok pemerhati lainnya.

Salah satu bentuk pendampingan tersebut adalah pengembangan agroforestri di kebun-kebun Orang Rimba, baik di kawasan adat, wilayah HTI, maupun zona tradisional TNBD.

“Selain fokus pada pendidikan dan kesehatan, sejak 2018 Warsi juga mendorong pengembangan agroforestri untuk membantu kecukupan ekonomi kelompok Orang Rimba,” ujar Maknun.

Tak hanya menyediakan bibit buah-buahan dan pinang, Warsi juga memberikan pendampingan teknis mengenai cara tanam, pemupukan, hingga perawatan tanaman.

Di setiap kantong komunitas, Warsi membentuk kader pertanian yang direkrut dari kalangan Orang Rimba sendiri agar proses pendampingan lebih mudah diterima dan berkelanjutan.

“Misalnya di Bukit Suban, ada kader pertanian bernama Sipintak. Dia membantu pendampingan Warsi, mulai dari distribusi bibit hingga pembuatan pupuk organik,” kata Maknun.

Dengan semakin tumbuhnya kesadaran untuk membangun ketahanan pangan secara mandiri, Maknun meyakini kesejahteraan Orang Rimba akan perlahan membaik. Hal ini dapat tercapai tanpa harus memutus hubungan mereka dengan adat dan hutan, yang selama ini menjadi inti dari kehidupan mereka.

Baca juga: Warsi dorong pemulihan hutan sebagai ruang hidup Orang Rimba

Baca juga: Enam desa di Jambi susun Perdes Orang Rimba dan Talang Mamak


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
USU Terima 3.150 Mahasiswa Baru Jalur SNBT 2026, Pendaftar Capai 36 Ribu Orang
• 6 jam lalupantau.com
thumb
Menkum Sebut Usia Pensiun Polri 60 Tahun Demi Aspek Keadilan
• 19 jam lalurctiplus.com
thumb
Timwas Haji DPR Soroti Keterlambatan Bus dan Distribusi Konsumsi Jemaah yang Kembali Berulang
• 4 jam lalupantau.com
thumb
Risa Amel Buktikan Dangdut Klasik Bisa Tetap Relevan untuk Gen Z
• 27 menit lalukumparan.com
thumb
Juventus Terima Kabar Buruk Jelang Bursa Transfer Musim Panas, Alisson Becker Terancam Gagal Direkrut
• 8 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.