Sulawesi Selatan, VIVA – Seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Provinsi Sulawesi Selatan 2026 mendadak viral di media sosial setelah muncul dugaan diskriminasi hingga rasisme dalam proses penentuan peserta nasional.
- Tangkapan Layar TikTok @friska_32
Polemik ini mencuat usai seorang siswi asal Makassar bernama Cathlyn Yvaine Lesmana disebut gagal lolos ke tingkat pusat meski dikabarkan memiliki nilai seleksi yang tinggi.
Perdebatan publik semakin meluas karena Cathlyn disebut merupakan peserta keturunan Tionghoa. Sejumlah akun media sosial hingga komunitas Purna Paskibraka Indonesia (PPI) mempertanyakan transparansi proses seleksi dan menduga adanya kejanggalan pada tahap akhir penentuan peserta.
Diragkum VIVA Selasa, 26 Maret 2026, polemik bermula ketika nama Cathlyn yang sebelumnya disebut masuk kandidat kuat delegasi Sulsel ke tingkat nasional justru tidak tercantum dalam daftar akhir peserta yang akan berangkat ke Jakarta.
Informasi yang beredar menyebut Cathlyn memperoleh nilai sangat tinggi pada tes akademik, termasuk wawasan kebangsaan dan intelegensi umum. Hal itu membuat banyak pihak mempertanyakan alasan dirinya tidak dipilih sebagai wakil Sulawesi Selatan.
Di media sosial, muncul berbagai narasi yang menyebut adanya pergantian peserta secara mendadak. Bahkan, beberapa unggahan menuding peserta unggulan dianulir dan digantikan oleh kandidat lain yang sebelumnya tidak masuk jajaran teratas hasil seleksi.
Kasus ini semakin sensitif setelah berkembang isu bahwa Cathlyn menjadi satu-satunya peserta keturunan Tionghoa dalam seleksi tersebut. Dugaan adanya diskriminasi rasial pun mulai ramai diperbincangkan publik.
Akun resmi Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) Kota Makassar juga sempat mengunggah pernyataan yang menegaskan bahwa segala bentuk diskriminasi dan rasisme bertentangan dengan nilai Pancasila dan semangat kebhinekaan.
Dalam unggahan tersebut ditegaskan bahwa Paskibraka seharusnya menjadi simbol persatuan, bukan ruang yang membuka peluang diskriminasi terhadap peserta berdasarkan latar belakang tertentu.
Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Makassar turut menyoroti sejumlah dugaan kejanggalan selama proses seleksi berlangsung. Dalam kronologi yang beredar, PPI menyebut proses penentuan akhir dilakukan tertutup dan memunculkan pertanyaan terkait transparansi penilaian.
Mereka juga menyinggung adanya tahapan penilaian kepribadian yang disebut tidak pernah dibuka secara rinci kepada peserta maupun pendamping daerah. Selain itu, muncul dugaan adanya tes tambahan seperti kemampuan bahasa daerah yang disebut tidak tercantum dalam panduan resmi pusat.





