Militer AS Gempur Fasilitas Rudal Iran saat Negosiasi Damai Berlangsung di Qatar

katadata.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan baru ke wilayah selatan Iran pada Senin (25/5), waktu setempat. Serangan itu menyasar sejumlah target, termasuk fasilitas peluncuran rudal dan kapal yang diduga hendak memasang ranjau Washington menyebut operasi tersebut sebagai tindakan defensif untuk melindungi pasukannya.

Serangan itu berlangsung ketika negosiator utama Iran dan Menteri Luar Negeri Iran berada di Doha, Qatar, untuk membahas potensi kesepakatan dengan AS guna mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan.

Seorang pejabat yang mengetahui kunjungan tersebut mengatakan Washington dan Teheran sama-sama menurunkan harapan terhadap kemungkinan tercapainya terobosan dalam waktu dekat.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, sebelumnya menyampaikan pemerintah AS masih membuka ruang penuh bagi jalur diplomasi sebelum mempertimbangkan langkah lain terhadap Iran.

Rubio menyebut kedua pihak telah membahas proposal yang cukup progresif terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan dimulainya negosiasi mengenai program nuklir Iran.

“Ada proposal yang cukup solid terkait kemampuan mereka membuka kembali Selat Hormuz, menjaga selat tetap terbuka, lalu masuk ke dalam negosiasi yang nyata, signifikan, dan berbatas waktu mengenai isu nuklir. Mudah-mudahan kami bisa mewujudkannya,” ujar Rubio, sebagaimana diberitakan oleh Reuters.

Presiden AS, Donald Trump, juga mengomentari proses negosiasi tersebut melalui unggahan di Truth Social pada Senin lalu. Trump menyebut pembicaraan dengan Iran berjalan baik, tetapi ia memperingatkan kemungkinan munculnya serangan baru apabila perundingan gagal mencapai kesepakatan.

Trum menilai kesepakatan itu hanya akan menjadi 'Kesepakatan Besar' bagi semua pihak, atau tidak ada kesepakatan sama sekali. Beberapa jam setelah pernyataan Trump, Komando Pusat AS atau United States Central Command (Centcom) mengumumkan pihaknya kembali melancarkan serangan untuk melindungi pasukan AS dari ancaman militer Iran.

Juru Bicara Centcom, Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins mengatakan militer AS tetap mempertahankan pasukannya sambil menahan diri selama masa gencatan senjata berlangsung.

Pada hari yang sama, Iran mengklaim berhasil menembak jatuh drone siluman menggunakan sistem pertahanan udara baru. Sejumlah kantor berita Iran melaporkan pemerintah belum mengungkap asal drone tersebut.

“Ini adalah sinyal dari kami bahwa tidak ada lagi drone siluman yang dapat menembus langit Teluk Persia,” lapor kantor berita Iran, Fars, mengutip pejabat yang tidak disebutkan namanya.

Israel dan Lebanon sebenarnya telah menyepakati gencatan senjata pada pertengahan April. Namun, Israel tetap melanjutkan serangan udara dengan alasan membela diri dari ancaman Hizbullah. Kelompok ini tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata tersebut.

Pejabat yang mengetahui kunjungan delegasi Iran ke Doha mengatakan pembahasan utama dalam perundingan mencakup pengelolaan Selat Hormuz dan stok uranium Iran yang telah diperkaya.

Gubernur bank sentral Iran juga ikut menghadiri pembicaraan untuk membahas kemungkinan pencairan dana Iran yang selama ini dibekukan sebagai bagian dari kesepakatan akhir.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, sebelumnya mengatakan Iran baru akan membahas isu nuklir setelah kedua pihak menyepakati kerangka dasar perjanjian.

Trump sendiri berulang kali menyatakan tujuan utama AS dalam perang ini hendak mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir dari uranium yang diperkaya tingkat tinggi. Namun, pemerintah Iran terus membantah tuduhan tersebut.

Ketegangan di kawasan juga meningkat setelah Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan negaranya akan memperbesar serangan terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.

Tak lama setelah pernyataan Netanyahu, militer Israel mengumumkan serangan terhadap infrastruktur Hizbullah di Lembah Bekaa bagian timur Lebanon dan sejumlah wilayah lainnya.

Poin Krusial Kesepakatan Iran

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan rancangan kesepakatan Iran belum mengatur secara rinci mekanisme pengelolaan Selat Hormuz. Ia mengatakan Iran tidak akan memungut biaya bagi kapal yang melintas.

Namun, Iran akan mengenakan biaya layanan navigasi dan perlindungan lingkungan berdasarkan protokol yang nantinya disepakati bersama Oman. Surat kabar Nikkei Jepang, mengutip sumber diplomatik Timur Tengah, melaporkan AS dan Iran tengah membahas rencana pembukaan kembali Selat Hormuz sekitar 30 hari setelah kedua pihak mencapai kesepakatan damai.

Dalam skema tersebut, Iran akan membersihkan ranjau di Selat Hormuz selama 30 hari. Setelah itu, kapal dari seluruh negara dapat kembali melintas secara bebas dan aman.

Sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu, jumlah kapal yang melintas di Selat Hormuz turun drastis. Saat ini hanya beberapa lusin kapal yang melintas setiap hari, padahal sebelumnya jalur itu dilalui sekitar 125 hingga 140 kapal per hari.

Televisi pemerintah Iran melaporkan sebanyak 32 kapal dan lima kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir dengan izin dari angkatan laut Garda Revolusi Iran.

Konflik tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan biaya bahan bakar, pupuk, serta pangan. Namun pada Senin, harga minyak turun lebih dari 4% ke level terendah dalam dua pekan setelah pasar optimistis kesepakatan damai dapat segera tercapai.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Terekam CCTV! ART Baru 1 Bulan Gasak Emas dan Uang Dolar Majikan di Surabaya
• 19 jam lalurctiplus.com
thumb
Timnas Indonesia Punya Kabar Baik, Rafael Struick Resmi Lamar Sang Kekasih di Pulau Bali
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Bojan Hodak Tinggalkan Kursi Pelatih Persib Bandung
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
SURGE Bidik 5 Juta Pelanggan Internet Rakyat Tahun Ini, 100 Mbps Rp 100 Ribu
• 4 jam lalukatadata.co.id
thumb
Sapi Kurban di Pemalang Lepas dan Melompat ke Sungai, Polisi Turun Tangan
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.