Saham Astra (ASII) Jatuh Lebih dari 8 Persen, Apa yang Terjadi?

idxchannel.com
2 jam lalu
Cover Berita

Saham PT Astra International Tbk (ASII) turun tajam pada Selasa (26/5/2026), meski perseroan baru saja mengumumkan strategic review dan program buyback saham.

Saham Astra (ASII) Jatuh Lebih dari 8 Persen, Apa yang Terjadi? (Foto: Astra)

IDXChannel - Saham PT Astra International Tbk (ASII) turun tajam pada Selasa (26/5/2026), meski perseroan baru saja mengumumkan strategic review dan program buyback saham senilai Rp8 triliun yang sebelumnya mendapat respons positif dari sejumlah analis.

Tekanan jual asing yang masih deras di pasar domestik turut membebani pergerakan saham emiten raksasa otomotif hingga tambang tersebut.

Baca Juga:
IHSG Ditutup Koreksi ke 6.130, Kenaikan Saham Prajogo Tak Mampu Tahan Pelemahan

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham ASII ditutup jatuh 8,48 persen ke level Rp5.125 per unit. Nilai transaksi mencapai Rp434,8 miliar dan volume perdagangan 82,64 juta saham.

Penurunan ini membuat saham ASII melemah 14,58 persen dalam sepekan dan tergelincir 18,97 persen dalam sebulan terakhir.

Baca Juga:
Harga Tembaga Melemah usai Serangan Baru AS ke Iran Tekan Sentimen

Investor asing tercatat membukukan jual bersih (net sell) Rp315,73 miliar di pasar reguler dalam sepekan terakhir. Sementara, dalam sebulan belakangan, nilai net sell asing menyentuh angka Rp462,77 miliar, berdasarkan data penutupan Senin (25/5).

Sebelumnya, Astra mengumumkan hasil strategic review yang telah dijalankan sejak semester II-2025, dengan fokus utama meningkatkan total shareholder return (TSR) atau kombinasi kenaikan harga saham dan dividen bagi pemegang saham.

Baca Juga:
Purbaya Bongkar Dugaan Skandal Under-Invoicing CPO, 10 Eksportir Besar Masuk Radar

Dalam pemaparan manajemen, ASII menegaskan akan tetap berfokus pada tiga bisnis inti yang selama ini menyumbang sekitar 90 persen laba perusahaan, yakni otomotif, jasa keuangan, serta alat berat dan solusi pertambangan.

Di luar itu, perseroan akan lebih selektif mengevaluasi pengembangan portofolio bisnis baru agar tetap selaras dengan ekosistem inti perusahaan.

Dari sisi alokasi modal, ASII menetapkan empat prioritas utama, yakni belanja modal rutin (maintenance capex), pembagian dividen dengan payout ratio sekitar 45-50 persen, ekspansi anorganik melalui akuisisi strategis, serta program buyback saham.

Manajemen juga menyiapkan dana buyback hingga Rp8 triliun untuk 12 bulan ke depan. Program tersebut akan dievaluasi secara berkala sesuai kondisi pasar dan kebutuhan perusahaan.

Untuk strategi akuisisi, ASII menekankan fokus pada bisnis yang mendukung tiga lini inti atau mampu memberi dampak signifikan terhadap laba. Perseroan juga memprioritaskan akuisisi dengan skema controlling atau path to control.

Selain itu, ASII memperkenalkan skema remunerasi berbasis saham bagi direksi guna menyelaraskan kepentingan manajemen dengan pemegang saham. Perseroan turut menetapkan target TSR di level low-teens compound annual growth rate (CAGR) dalam lima tahun ke depan.

Analis Stockbit Sekuritas Andrian Tanuwijaya menilai, pada Selasa (26/5), strategic review tersebut pada dasarnya merupakan formalisasi arah kebijakan yang selama ini telah disampaikan manajemen, termasuk komitmen payout ratio 45-50 persen yang sudah dijalankan dalam dua tahun terakhir.

Namun, menurut dia, terdapat sejumlah poin baru yang menjadi perhatian pasar, seperti target TSR yang lebih terukur, penerapan share-based remuneration, serta pendekatan akuisisi yang dinilai lebih disiplin.

Menurut hitung-hitungan Andrian, komitmen buyback Rp8 triliun cukup meaningful sebagai support teknikal saham ASII, meski dampaknya ke harga saham tetap bergantung pada kecepatan eksekusi.

Ia menambahkan, target TSR low-teens CAGR juga menjadi tolok ukur baru bagi investor untuk mengevaluasi kinerja manajemen dalam jangka panjang, terutama jika dibandingkan dengan TSR historis ASII dalam 10 tahun terakhir yang berada di kisaran 6 persen.

Sementara, analis DBS Group Research menilai program buyback saham senilai Rp8 triliun yang disiapkan Astra International (ASII) dalam 12 bulan ke depan menjadi kejutan positif bagi pasar karena nilainya lebih besar dari perkiraan.

Dalam ulasannya, seperti dikutip Dow Jones Newswires, Selasa (26/5/2026), DBS menyebut langkah tersebut mempertegas fokus baru ASII terhadap peningkatan total shareholder return (TSR), setelah perseroan menyelesaikan strategic review beberapa waktu lalu.

Menurut DBS, nilai buyback Rp8 triliun setara sekitar 3,5 persen dari kapitalisasi pasar ASII saat ini, sehingga dinilai cukup signifikan untuk mendukung pergerakan saham.

Selain buyback, DBS juga menilai penegasan fokus ASII pada tiga segmen utama, yakni otomotif, jasa keuangan, serta alat berat dan solusi pertambangan, memberikan arah strategi yang lebih jelas bagi perusahaan ke depan.

Analis DBS memperkirakan aktivitas merger dan akuisisi (M&A) ASII selanjutnya akan diarahkan untuk memperkuat ekosistem otomotif, bisnis suku cadang, hingga layanan yang terkait sektor pertambangan.

DBS pun mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ASII dengan target harga Rp7.500 per saham.

Suara lainnya datang dari analis Bahana Sekuritas Raja Abdalla. Dalam riset tertanggal 25 Mei 2026, Raja menilai strategic review ASII menandai perubahan penting arah strategi perseroan, dari konglomerasi yang berfokus pada ekspansi bisnis menjadi perusahaan dengan pendekatan alokasi modal yang lebih disiplin dan berorientasi pada imbal hasil pemegang saham.

Menurut dia, fokus baru ASII tercermin dari penekanan pada TSR, disiplin portofolio, hingga penggunaan hurdle rate dalam pengambilan keputusan investasi.

Pasar saat ini masih menyoroti komitmen buyback, dividen, dan peluang merger dan akuisisi (M&A), namun Bahana melihat perubahan pola pikir manajemen sebagai faktor yang berpotensi mendorong re-rating saham dalam jangka panjang.

Bahana mempertahankan rekomendasi buy untuk ASII dengan target harga Rp7.300 per saham.

Raja menilai investor kini mendapatkan kombinasi imbal hasil tunai yang menarik serta peluang kenaikan valuasi apabila perseroan mampu mengeksekusi monetisasi aset, mempercepat evaluasi portofolio bisnis, dan memperjelas prioritas investasi pada lini pertumbuhan baru. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polisi Ungkap Penyebab Kemacetan Panjang di Tanjung Priok
• 21 jam laluliputan6.com
thumb
Mobil Listrik China Kuasai 15 Persen Pasar Eropa, BYD hingga Chery Melonjak
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Harga Komoditas: Batu Bara-Nikel Kompak Menguat
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Satu Lagi Brand Lifestyle Tumbler hingga Tableware Hadir di Indonesia
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
BPOM Temukan 22 Obat Herbal Berbahaya, Mayoritas Produk Stamina Pria
• 13 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.