JAKARTA, KOMPAS.com - Penumpang bernama Ikhsan (32) tidak bisa menemani anak takbir keliling Idul Adha 2026 imbas gangguan KRL Tangerang, Selasa (26/5/2026).
Dia menghabiskan malam takbiran dengan terjebak hingga 1,5 jam di Stasiun Duri, Jakarta Barat.
Raut kelelahan tampak jelas di wajah Ikhsan yang kini duduk menunggu tanpa kepastian di area Hall Stasiun Duri.
"Dari sekitar jam 21.00 WIB lah sudah di sini, transit dari Manggarai tadi, enggak bergerak. Capek saya juga, mending duduk dulu saja menunggu nanti sudah agak sepi," ungkap Ikhsan saat ditemui Kompas.com di lokasi, Selasa malam.
Baca juga: Cerita Penumpang Saat KRL Duri-Tangerang Gangguan: Tiba-tiba Berhenti, AC dan Lampu Mati
Kondisi peron yang sempit dan gerbong kereta yang terlalu berdesak-desakan membuatnya memilih menepi ke lantai atas dan menunggu penumpukan melandai.
Tertundanya perjalanan sejumlah KRL ini akhirnya memaksa Ikhsan mengurungkan rencananya untuk menemani sang anak ikut takbiran bersama warga di lingkungan rumahnya.
"Mau langsung tidur saja kayaknya jadinya, biar besok pagi masih sempat shalat Id. Enggak ada tenaga, paling jam 23.00 WIB saya baru jalan kali ya," keluh Ikhsan.
KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo Kepadatan penumpang di Stasiun Duri arah Tangerang masih terjadi hingga Selasa (26/5/2026) jelang tengah malam.
Ia juga menyoroti lambatnya penguraian kepadatan karena kereta yang tiba mayoritas hanya berupa rangkaian delapan gerbong.
Selain itu, jarak kedatangan antarkereta atau headway juga disebut masih belum normal sehingga membuat penumpukan semakin parah.
"Masalahnya dari tadi itu di bawah penuh banget sesak, enggak bisa semuanya langsung masuk, makanya saya ke atas lagi. Jeda antar keretanya itu lama banget," ucapnya.
Cerita serupa dialami Yuni (33) yang terjebak selama satu jam sejak tiba di Stasiun Duri pukul 21.30 WIB dari arah Tanah Abang.
Baca juga: Jelang Tengah Malam, Penumpang Berdesakan di Stasiun Duri Imbas Gangguan KRL
Niatnya pulang ke Cipondoh, Tangerang menggunakan KRL terpaksa dibatalkan karena ia membawa anaknya yang baru berusia empat tahun.
Ia mengaku tidak ingin membawa sang anak berdesak-desakan di peron dan harus berdiri lama saat menunggu kedatangan kereta.
"Tadi dari rumah mertua di Tanah Abang, mau ke Cipondoh. Biasanya paling lama menunggu 30 menit, ini tadi enggak sanggup pas lihat transit sepadat ini," tutur Yuni yang memilih duduk menepi di dekat stopkontak untuk mengisi daya ponselnya.