Pelaksanaan wukuf di Padang Arafah menjadi puncak spiritual ibadah haji. Memobilisasi ribuan jemaah secara serentak tentu bukan perkara mudah di tengah ketatnya regulasi Pemerintah Arab Saudi tahun ini.
Direktur Utama Patuna Travel, Syam Resfiadi, mengungkapkan, Arab Saudi kini menerapkan pengawasan ketat berbasis digital melalui aplikasi Nusuk. Jemaah maupun petugas tanpa izin resmi dipastikan tak bisa menembus kawasan Arafah. Guna menyiasati potensi kemacetan dan ketatnya pemeriksaan, Patuna memberangkatkan seluruh jemaah serentak pada pukul 22.00 waktu setempat.
"Pengetatan tahun ini luar biasa, bahkan mutawif kami yang tak keluar kartu Nusuk-nya harus menunggu di hotel. Dengan berangkat jam 10 malam, pemeriksaan memakan waktu sekitar 1,5 jam. Alhamdulillah, jemaah paling cepat tiba jam 2 pagi dan seluruhnya terkumpul sebelum Subuh," papar Syam dikutip dari Live Event Metro TV, Selasa 26 Mei 2026.
Ia menilai ketegasan regulasi ini justru berdampak positif karena membuat pergerakan jauh lebih lancar dibandingkan masa transisi sistem pada 2024 atau 2025 lalu.
Kesuksesan manajerial ini tak lepas dari jam terbang Patuna Travel sebagai pionir biro perjalanan haji dan umrah sejak era 1970-an. Pengalaman lebih dari empat dekade membuat Patuna tidak hanya hafal medan Makkah, Mina, dan Arafah, tetapi juga sangat memahami psikologi dan karakter jemaah haji Indonesia.
Wukuf: Wisuda Spiritual dari Sang Pencipta
Di balik kesuksesan logistik, Syam menekankan pentingnya meresapi makna wukuf. Di tengah teriknya Arafah, wukuf adalah momen pengakuan atas segala kelemahan dan dosa manusia.
"Wukuf ini ibarat mengambil ijazah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah melihat hamba-Nya yang ikhlas beribadah, dan insyaallah yang lulus akan 'diwisuda' di Arafah ini," tuturnya.
Ia menambahkan, pada momen wukuf inilah Allah membanggakan umat manusia di hadapan para malaikat, karena mereka bersimpuh dan memohon ampunan-Nya di tengah beratnya ujian fisik di Padang Arafah.




