Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Haji dan Umrah RI menetapkan kuota haji Indonesia tahun 1447 Hijriah atau 2026 Masehi sebanyak 221.000 jemaah. Berdasarkan data pada aplikasi Nusuk Masar, kuota tersebut terdiri atas 203.320 jemaah haji reguler (92 persen) dan 17.680 jemaah haji khusus (8 persen).
Jumlah ini tetap sama seperti tahun sebelumnya dan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025 tentang perubahan ketiga atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah.
Dari jumlah kuota ini, pada operasional di hari ke-33, yaitu tanggal 23 Mei 2026, Kementerian Haji dan Umrah Indonesia melaporkan sebanyak 202.636 jemaah telah berangkat dari Indonesia ke Arab Saudi melalui 527 kloter keberangkatan. Sebanyak 267 kloter jemaah mendarat di Madinah dan 260 kloter mendarat di Jeddah.
Layanan Fast Track/Makkah Route yang kembali diberlakukan tahun ini, menarik antusiasme tinggi para jemaah. Setidaknya lebih dari setengah dari jumlah jemaah tahun ini atau sebanyak 125.234 jemaah dapat menikmati kenyamanan ini.
Dengan jumlah jemaah yang besar, keberlanjutan program fast track ini merupakan buah yang dipetik dari perjuangan diplomasi dengan Arab Saudi. Untuk tahun ini, layanan ini dioperasikan di empat bandara embarkasi di Indonesia, yakni Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Adisoemarmo, Bandara Juanda, dan Bandara Sultan Hasanuddin.
Selain fast track, penambahan titik embarkasi haji tahun ini juga menjadi langkah konkret peningkatan pelayanan haji setelah beralih di bawah kendali Kementerian Haji dan Umrah.
Selain itu, perlu dicatat, pemberangkatan haji tahun ini tidak luput dari berbagai tantangan termasuk kondisi geopolitik di Timur Tengah. Salah satu dampak utamanya, kenaikan harga avtur tak terelakkan.
Sempat muncul wacana pembengkakan biaya dibebankan kepada jemaah. Kendati begitu, akhirnya biaya tambahan diputuskan ditanggung oleh negara. Pertanyaannya kini, bagaimana proses penyelenggaraan haji ini ditanggapi oleh warganet di media sosial?
Pada periode masa persiapan, keberangkatan jemaah dari Indonesia, kedatangan jemaah di Arab Saudi, hingga masa menjelang puncak haji ini, berbagai aspek layanan santer diperbincangkan warganet pada periode 1 April hingga 20 Mei 2026.
Litbang Kompas melalui Kompas Monitoring mengumpulkan unggahan dan komentar di media sosial terkait isu ini. Terpotret, krusialnya proses keberangkatan dan vitalnya layanan transportasi haji termasuk layanan penting lain seperti konsumsi, akomodasi, dan kesehatan menjadi perhatian warganet.
Dengan kata kunci ”Kementerian Haji dan Umrah” dan ”kemenhaj” dari platform Facebook, Instagram, X, Tiktok, Threads, dan Youtube terkumpul data yang kemudian dikurasi relevansinya terhadap layanan penyelenggaraan haji. Dari hasil analisis pemetaan unggahan dan komentar ditemukan delapan topik terkait layanan penyelenggaraan haji yang paling banyak mendapat reaksi dari warganet.
Keberangkatan haji yang meliputi kedatangan para calon jemaah di asrama-asrama haji hingga waktu pemberangkatan dari seluruh embarkasi, menjadi topik teratas yang paling banyak diperbincangkan dengan dominasi sentimen netral sebesar 55,3 persen.
Unggahan maupun komentar yang dominan netral ini termanifestasi dari masifnya unggahan yang sifatnya berbagi informasi keberangkatan dari seluruh titik pemberangkatan di seluruh Indonesia.
Pada unggahan atau komentar bernada positif dengan persentase 39,5 persen terpotret deretan doa dari warganet bagi para calon jemaah haji yang bertolak ke Arab Saudi.
Namun perlu mendapat catatan, proses pemberangkatan yang diperbincangkan warganet tak luput dari perbincangan negatif sebesar 5,3 persen. Komentar maupun unggahan bernada negatif ini mengkritisi lamanya waktu seremonial pemberangkatan yang mengakibatkan kelelahan dari jemaah khususnya jemaah lansia.
Beberapa konten lainnya mengekspresikan rasa ragu atas pemberangkatan haji tahun ini setelah adanya peralihan ke Kemenhaj. Meskipun minor, tetapi perbincangan negatif terkait transisi otoritas penyelenggaraan ini perlu mendapatkan atensi.
Pada perhelatan perdana haji di bawah naungan Kemenhaj ini, tentu banyak pihak menaruh pandangan tajam. Publik memantau akankah penyelenggaraan bertransformasi lebih baik, atau justru transisi ini menimbulkan kendala.
Pada aspek krusial lain, masalah terkait koper jemaah misalnya, yang termasuk pada topik teratas kedua tentang transportasi dan logistik, mendapatkan sentimen negatif relatif tinggi, yakni sebesar 21,8 persen.
Beberapa isu negatif terkait koper jemaah ini, antara lain soal kualitas kurang memadai, keterlambatan pengiriman, kerusakan pascakedatangan di Arab Saudi, serta polemik pengadaan.
Bahkan, warganet turut merespons, senada dengan kritik anggota komisi VIII DPR, Selly Andriany Gantina, yang mempertanyakan mengapa pengadaan koper dilakukan oleh pihak maskapai bukan langsung oleh kementerian.
Selain itu pada pertengahan April terdapat perbedaan signifikan dalam porsi distribusi antara dua maskapai utama. Di satu sisi, Saudi Airlines mencapai distribusi 74,1 persen sementara Garuda Indonesia baru di angka 50,8 persen.
Jaminan distribusi logistik jemaah merepresentasikan sisi humanis dari pelayanan haji yang sudah selayaknya berpihak kepada jemaah terutama kelompok lansia dan disabilitas yang memiliki keterbatasan dalam memobilisasi barang bawaan mereka. Lancarnya distribusi koper ini juga menjadi salah satu faktor signifikan dalam menjaga fokus ibadah para jemaah selama di tanah suci.
Meskipun di topik layanan transportasi sentimen negatif cukup menonjol, namun porsi perbincangan positifnya ada di posisi tertinggi kedua dibandingkan aspek layanan haji lain.
Berikutnya, dominasi sentimen positif teratas pada layanan haji tahun ini ada pada layanan ibadah. Menjaga stamina dan kebugaran tubuh menjadi imbauan yang tak bosan disampaikan Kemenhaj di berbagai kanal media sosialnya.
Hal ini makin intensif muncul dalam periode menjelang ibadah puncak haji, yakni wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah atau 26 Mei 2026. Puncak ibadah haji sering disebut dengan ibadah di Armuzna, singkatan dari Arafah-Muzdalifah-Mina.
Dalam topik layanan ibadah yang menuai 55,7 persen sentimen positif, warganet mengekspresikan dukungan terhadap skema tanazul dalam rangkaian puncak haji. Sebanyak 20.000 orang jemaah Indonesia akan diikutkan tanazul pada puncak haji Armuzna.
Tatkala tanazul, yang merupakan salah satu program baru dalam penyelenggaraan haji di bawah Kemenhaj, mendapatkan respons dominan positif, hal ini menjadi salah satu pijakan awal yang apik untuk penyelenggaraan haji.
Isu layanan ibadah lain yang menuai atensi yakni terkait pembayaran dam. Pembayaran dam yang diakomodir oleh Kemenhaj, di satu sisi dianggap memudahkan, tetapi ada juga warganet yang justru mempertanyakan mengapa hal ini juga dikelola oleh Kemenhaj.
Terkait hal ini, melalui kanal media sosialnya, Kemenhaj kemudian meresponsnya dengan mempersilakan jemaah menjalankan sesuai yang diyakini.
Tidak ketinggalan, layanan haji lain seperti konsumsi, kesehatan dan akomodasi juga diperbincangkan warganet. Dinamika sentimen pada aspek-aspek ini mengindikasikan tingginya atensi warganet terhadap penyelenggaraan haji.
Apalagi, tahun ini merupakan kali pertama otoritas penyelenggaraan berada di bawah naungan Kemenhaj. Potret perbincangan warganet yang menyentuh isu-isu lapangan yang faktual dan near real-time, menunjukkan harapan untuk kementerian ini.
Diharapkan, sebagai pengambil kebijakan Kemenhaj mampu merespons kebutuhan haji dengan adaptif dan solutif. Sepatutnya pula, kompleksitas yang ada mulai dari proses keberangkatan hingga kepulangan jemaah ke tanah air terpetakan secara sistematis. Dengan demikian langkah-langkah kebijakan strategis dapat diambil demi kenyamanan rangkaian ibadah haji. (LITBANG KOMPAS)





