Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menunaikan salat Idul Adha 1447 Hijriah bersama jajaran pegawai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan warga sekitar di Masjid Salahuddin, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta. Dalam momen tersebut, dia juga menyerahkan hewan kurban berupa sapi berbobot 868 kilogram.
Bagi Purbaya, perayaan Idul Adha tidak hanya menjadi agenda keagamaan tahunan, tetapi juga pengingat tentang pentingnya nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial dalam menjalankan tugas mengelola keuangan negara.
Seusai pelaksanaan salat Id, Purbaya secara simbolis menyerahkan sapi kurban kepada panitia kurban Masjid Salahuddin untuk kemudian disembelih dan didistribusikan kepada masyarakat yang berhak menerima.
“Idul Adha bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah momentum untuk memperkuat rasa kemanusiaan dan keadilan sosial. Hewan kurban yang kita salurkan hari ini adalah simbol dari komitmen kita untuk saling berbagi, terutama bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan,” kata Purbaya dalam penyerahan hewan kurban di Kantor Pusat DJP, Rabu (27/5).
Di sela kegiatan, Purbaya mengungkapkan tahun ini dirinya menyiapkan dua ekor sapi kurban. Satu ekor disalurkan di lingkungan DJP, sementara satu lainnya berada di rumah pribadinya di kawasan Ciganjur.
“Saya kurban sapi 2, satu di sini (Masjid Shalahuddin Kantor Pusat Jenderal Pajak) dan 1 di kampung,” ungkap Purbaya.
Ia menjelaskan sapi yang diserahkan di Masjid Salahuddin memiliki ukuran yang cukup besar dengan bobot mencapai 868 kilogram.
“Yang di sini sentimental cross beratnya 868 kg,” ujarnya.
Sementara satu ekor sapi lainnya yang berada di Ciganjur disebut memiliki ukuran lebih besar. Purbaya memperkirakan bobotnya bahkan menembus lebih dari satu ton.
“Satu sapinya lagi di Ciganjur. Rumah saya pribadi di situ. Kayaknya lebih gede daripada ini. Satu ton lebih,” lanjutnya.
Purbaya juga menegaskan seluruh pembelian hewan kurban tersebut menggunakan dana pribadi. Ia mengaku dana yang digunakan berasal dari bonus yang diterima, ditambah dana yang sebelumnya disiapkan untuk keberangkatan haji yang akhirnya batal dilakukan tahun ini.
“Dana pribadi lah. Yang di rumah (Ciganjur) juga dana pribadi. Kan lumayan tuh ada bonus,” kata dia.
“Jadi kita pakai di sini (bonusnya buat beli sapi). Terus kan nggak jadi haji. Pokoknya ngumpul (dananya). Ya habisin lah di sini,” sambungnya.
Saat ditanya soal batalnya keberangkatan haji, Purbaya mengaku tetap menerima keadaan tersebut meski merasa sedih. “Ya sedih, tapi emang bukan rejeki. Mungkin tahun depan bisa,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Purbaya juga berpesan kepada seluruh jajaran Kemenkeu agar semangat berkurban tidak hanya dimaknai dalam konteks ibadah, tetapi juga dalam pelaksanaan tugas sebagai pengelola keuangan negara. Menurutnya, nilai pengorbanan dan kepekaan sosial perlu terus dijaga agar APBN dapat benar-benar diarahkan untuk kesejahteraan masyarakat, terutama kelompok rentan.
Berdasarkan data panitia kurban Kemenkeu Pusat, tahun ini Kementerian Keuangan menghimpun total 486 hewan kurban yang terdiri dari 262 sapi dan 224 kambing. Hewan kurban tersebut berasal dari partisipasi mandiri 1.790 pegawai dari berbagai unit eselon I di seluruh Indonesia.
Daging kurban nantinya akan didistribusikan bekerja sama dengan lembaga amil zakat dan pengurus masjid setempat, dengan prioritas warga di sekitar kantor Kemenkeu dan masyarakat prasejahtera.
“Semoga ibadah kurban kita tahun ini diterima oleh Allah SWT, dan menjadi berkah serta penyemangat bagi kita semua untuk terus memberikan yang terbaik bagi Indonesia,” pungkasnya.





