Presiden ke-7 RI Joko Widodo mengumumkan akan melawat ke beberapa daerah di dalam negeri. Para pengamat politik menilai langkah itu merupakan bagian dari kegiatan politik mengumpulkan suara akar rumput dalam menghadapi Pemilihan Presiden 2029.
Peneliti Centre for Strategic and International Studies atau CSIS Indonesia D. Nicky Fahrizal menilai lawatan Jokowi sebagai fase investasi politik dalam menghadapi Pesta Demokrasi 2029. Menurutnya, hal tersebut hanya bisa dilakukan Jokowi mengingat dirinya sebagai politikus nonkonvensional.
"Dia dalam fase menanam dukungan di mana-mana dan setelah terakumulasi dengan optimal akan disalurkan ke kendaraan mana yang bisa menjalankan agenda politiknya, termasuk dukungan pada Gibran pada Pilpres 2029," kata Peneliti Departemen Politik CSIS Indonesia, D. Nicky Fahrizal kepada Katadata.co.id, Selasa (26/5).
Nicky menilai Jokowi masih memiliki kekuatan politik yang cukup besar. Namun dirinya menjadi politikus yang tidak lazim karena tidak memiliki partai politik setelah dipecat oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada akhir 2024.
Nicky mencatat Jokowi memiliki kombinasi yang cukup unik, yakni memiliki tujuan yang sama dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), tapi tidak memiliki ikatan politik. Selain itu, mantan Wali Kota Solo ini memiliki keterikatan emosional dengan ratusan relawan yang tergabung dalam kelompok Projo.
Terakhir, Nicky menilai Jokowi masih memiliki akses dengan figur-figur partai politik nasional, salah satunya Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia. Walau demikian, Nicky meramalkan seluruh sumber daya politik tersebut tidak akan mendorong Jokowi untuk membentuk partai politik baru dalam menghadapi Pilpres 2029.
"Menurut saya, ongkos membuat partai politik baru terlalu besar. Namun Jokowi akan menghimpun suara dengan cara nonkonvensional tersebut," katanya.
Karena itu, Nicky berpendapat Jokowi akan memanfaatkan dua saluran utama untuk melakukan investasi politik pada tahun ini, yakni PSI dan Projo. Secara rinci, PSI akan digunakan sebagai alat untuk melakukan negosiasi politik elit, sementara Projo akan menjadi petugas lapangan dalam menghimpun suara akar rumput.
Adapun, Nicky memproyeksi hasil investasi dukungan tersebut akan diberikan pada putra sulung Jokowi pada Pilpres 2029, yakni Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Sebab, Nicky meyakini Gibran telah mulai menghimpun suara akar rumput yang kerap luput dari sorotan media massa.
"Mas Gibran saat ini aktif berinteraksi dengan masyarakat lewat kunjungan-kunjungan ke daerah. Kunjungan Jokowi ke daerah nanti akan menjadi modal politik bagi Gibran sejak dini," ujarnya.
Peneliti Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional Wasisto Raharjo Jati menilai kunjungan Jokowi ke daerah adalah wahana untuk menguji dukungan publik kepada keluarganya. Karena itu, Jati memprediksi daerah yang akan dikunjungi Presiden Widodo memiliki infrastruktur yang dibangun pada masa pemerintahannya pada 2014-2024.
Berbeda dengan Nicky, Jati menilai hasil evaluasi popularitas selama kunjungan daerah akan menentukan apakah Jokowi akan membentuk partai politik baru atau tidak. Karena itu, PSI dan Projo diproyeksi menjadi dua entitas yang akan sering ditemui dalam setiap lawatan Jokowi nantinya.
"Apakah Jokowi dan keluarganya masih diterima antusias oleh publik di daerah? Lalu, apakah PSI dan Projo ini tetap berjalan masing-masing atau memungkinkan digabung sebagai kendaraan politik Jokowi?" kata Jati.



