Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, mengakui bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Mei 2026 memberikan tekanan bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.
"Pelemahan kurs rupiah memang berdampak terhadap industri yang menggunakan bahan baku impor," kata Febri pada konferensi pers rilis IKI Mei 2026 di Jakarta, dikutip Rabu (27/5/2026).
Namun di sisi lain, kondisi pelemahan rupiah juga membuat masyarakat cenderung memilih produk dalam negeri dibandingkan impor yang mengalami kenaikan harga.
"Ini menjadi peluang bagi industri manufaktur nasional untuk memperkuat pasar domestik," kata dia.
Kemenperin mencatat, baik industri yang berorientasi ekspor maupun pasar domestik sama-sama mengalami peningkatan optimisme pada Mei 2026. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang berorientasi pasar ekspor tercatat sebesar 53,73 atau meningkat 1,45 poin dibandingkan April 2026 sebesar 52,28.
Sementara itu, IKI yang berorientasi pasar domestik naik lebih tinggi, yakni sebesar 2,56 poin menjadi 53,46 dari sebelumnya 50,90 pada April 2026.
Menurut Febri, kenaikan IKI domestik yang lebih tinggi menunjukkan pasar dalam negeri masih menjadi penopang utama ketahanan industri manufaktur nasional di tengah tekanan global. “Pasar domestik masih menjadi kekuatan utama
industri manufaktur Indonesia dalam menghadapi tekanan akibat gejolak ketidakpastian global. Daya beli masyarakat yang tetap terjaga membuat permintaan produk dalam negeri meningkat sehingga aktivitas produksi industri juga ikut meningkat,” jelasnya.
Baca Juga: Kenapa Rupiah Sekarang Beda dengan 98? Ekonom: Kalau Sama Harusnya Sudah Rp33.000
Baca Juga: Rupiah Jadi Mata Uang Paling Boncos di ASEAN, Ekonom Bongkar Penyebabnya
Sementara itu, peningkatan IKI berorientasi ekspor menunjukkan bahwa produk manufaktur Indonesia masih memiliki daya saing di pasar global meskipun menghadapi tantangan pelemahan ekonomi dunia dan fluktuasi nilai tukar.
“Industri yang berorientasi ekspor tetap mampu tumbuh di tengah tantangan global. Ini menunjukkan sektor manufaktur nasional memiliki daya tahan dan kemampuan adaptasi yang baik. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar pada bulan Mei ini juga ikut meningkatkan ekspor produk manufaktur,” tandas Febri.





