Jakarta, VIVA – Setiap perayaan Idul Adha, umat Muslim melaksanakan ibadah kurban dengan menyembelih hewan seperti sapi, kambing, atau domba sesuai syariat Islam. Namun setelah proses penyembelihan dilakukan, banyak yang bertanya ke mana sebenarnya hewan kurban tersebut “pergi”.
- VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis
Berikut VIVA rangkum Rabu, 27 Mei 2026, secara fakta, hewan kurban tidak benar-benar pergi ke suatu tempat, melainkan mengalami serangkaian proses lanjutan yang telah diatur secara sistematis agar dagingnya dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat.
Setelah disembelih, hewan kurban langsung masuk ke tahap pengolahan. Pada tahap ini, daging dipisahkan dari bagian tubuh lainnya seperti kulit, tulang, dan jeroan oleh panitia atau petugas yang sudah berpengalaman.
Proses ini biasanya dilakukan di lokasi penyembelihan seperti masjid, lapangan, atau rumah potong hewan yang telah memenuhi standar kebersihan dan kesehatan. Tujuannya adalah memastikan daging tetap layak konsumsi dan dapat didistribusikan dengan aman kepada masyarakat.
Setelah proses pemotongan selesai, daging kurban tidak disimpan dalam waktu lama. Berdasarkan praktik yang umum dilakukan di Indonesia, daging langsung dikemas dan dibagikan kepada masyarakat pada hari yang sama atau sesegera mungkin setelah proses penyembelihan.
Penerima daging kurban umumnya adalah masyarakat sekitar, terutama mereka yang membutuhkan seperti fakir miskin, serta sebagian lainnya dibagikan kepada panitia dan pihak yang terlibat dalam proses kurban sesuai ketentuan syariat.
Dalam perkembangannya, distribusi daging kurban kini semakin terorganisir. Banyak lembaga dan panitia kurban yang menggunakan sistem pendataan agar pembagian lebih tepat sasaran. Sistem ini memastikan bahwa daging benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan tanpa terjadi penumpukan di satu pihak saja.
Diketahui, beberapa daerah juga menyalurkan daging melalui masjid, panti asuhan, dan lembaga sosial lainnya untuk memperluas manfaatnya.
Secara ilmiah dan sosial, tidak ada bagian dari hewan kurban yang “hilang” atau pergi ke tempat lain setelah disembelih. Yang terjadi adalah transformasi dari hewan hidup menjadi sumber pangan yang kemudian didistribusikan kepada masyarakat. Proses ini menjadi inti dari ibadah kurban itu sendiri, yaitu berbagi rezeki dan memperkuat solidaritas sosial di antara umat manusia.





