Jakarta, VIVA – Perubahan iklim merupakan isu nyata yang dampaknya semakin dirasakan di berbagai aspek kehidupan. Namun, penjelasannya kerap bersifat teknis dan kompleks membuat banyak kalangan, terutama anak-anak usia sekolah dasar, kesulitan memahaminya.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, peneliti dari Indonesia dan Australia berkolaborasi melakukan penelitian dan merancang permainan edukatif berbasis board games sebagai media pembelajaran perubahan iklim yang lebih mudah dipahami dan menyenangkan.
Uji coba permainan ini dilakukan Nusa Tenggara Timur (NTT), melibatkan anak-anak usia sekolah. Temuan riset tersebut dibahas secara komprehensif dalam diskusi bertajuk Shaping Climate Resilience Policy Through Inclusive Research di Jakarta, Selasa (26/5).
Yusra Tebe, Ahli Manajemen Risiko Bencana dari PREDIKT, menegaskan bahwa pemahaman tentang perubahan iklim di kalangan peserta didik, guru, bahkan pengambil kebijakan masih tergolong rendah. Tidak sedikit yang masih meragukan kenyataan perubahan iklim itu sendiri.
“Kita tahu bahwa perubahan iklim itu nyata dan mengganggu seluruh sektor, khususnya pendidikan, dan ternyata pengetahuan tentang perubahan iklim di peserta didik cukup rendah, termasuk para guru dan pengambil kebijakan. Masih ada yang berpendapat bahwa perubahan iklim itu tidak nyata,” ujar Yusra. dikutip Rabu, 27 Mei 2026.
Ia menambahkan, Indonesia sebenarnya sudah memiliki panduan tentang perubahan iklim dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), namun belum dapat diimplementasikan secara merata di seluruh sekolah. Karena itu, pendekatan board games dipilih sebagai jembatan antara teori dan praktik. Yang menarik, permainan ini tidak dirancang secara sepihak—melainkan dikembangkan bersama (co-create) oleh anak-anak di NTT dan anak-anak di Sekolah Harkaway, Victoria, Australia.
“Kenapa ada (pakai) board games, supaya anak-anak dan guru bisa belajar perubahan iklim melalui permainan sehingga lebih menyenangkan, jadi teori dan aplikasi bisa lebih dapat,” imbuh Yusra.
Ditanya soal mengapa anak-anak menjadi fokus utama edukasi ini, Yusra menegaskan bahwa anak-anak adalah penentu arah masa depan, bukan orang dewasa yang sudah terlalu tenggelam dalam kesibukan sehari-hari.
“Orang dewasa sudah terlalu sibuk dengan dunianya, dengan keluarganya. Mereka akan bilang perubahan itu penting, tapi tidak akan long lasting. Sementara anak-anak akan menjadi penentu kebijakan, arah, dan masa depan keluarga di desa, kecamatan, dan negara. Merekalah yang akan jadi penghubung kita, penentu di masa depan,” ujarnya.





