Bisnis.com, JAKARTA — PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY) mengatakan akan mempertahankan strategi harga tetap sama di tengah tantangan kenaikan biaya operasional dan bahan baku.
Direktur sekaligus Chief Financial Officer MDIY, Rika Juniaty Tanzil, mengatakan optimistis mampu menjaga pertumbuhan bisnis hingga akhir tahun meskipun kondisi ekonomi global masih penuh ketidakpastian.
Menurut Rika strategi tersebut didukung fondasi bisnis yang solid, termasuk efisiensi operasional dan kekuatan jaringan distribusi perusahaan yang kini telah memiliki lebih dari 1.300 toko di seluruh Indonesia.
"Leverage negosiasi dengan pemasok dalam volume besar, jaringan distribusi yang efisien, dan model bisnis berbasis volume memungkinkan perusahaan menyerap tekanan biaya secara struktural," ujarnya, Rabu (27/2/2026).
Selain itu, pengelolaan biaya yang disiplin juga menjaga gearing ratio perusahaan tetap rendah di level 0,3 kali, mencerminkan kondisi neraca yang sehat di tengah tekanan ekonomi global.
Rika menambahkan pendekatan value retail kini menjadi semakin relevan seiring perubahan perilaku konsumen yang semakin selektif dalam berbelanja. Menurut dia, masyarakat kini lebih memperhatikan aspek keterjangkauan harga, nilai produk, serta konsistensi harga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga
- Mr. D.I.Y. (MDIY) Agresif Ekspansi Ritel, Strategi Harga Tetap Sama
- Mr. D.I.Y. (MDIY) Masuk Jadi Investor Non Pengendali di KKV
- Laba MR DIY (MDIY) Tembus Rp306,5 Miliar di Awal 2026, Ini Strateginya
Dia menilai dengan pertumbuhan profitabilitas, peningkatan margin, serta fondasi keuangan kuat menegaskan kemampuan perseroan menghadirkan komitmen harga tetap sama kepada seluruh pelanggan.
“Kemampuan menghadirkan harga tetap sama ditopang dengan ketahanan operasional yang solid, seiring kinerja positif perusahaan sepanjang kuartal I/2026," imbuhnya.
Pada kuartal I/2026, MDIY berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp2,4 triliun atau tumbuh 31% secara tahunan (year-on-year/YoY). Sementara laba bersih perseroan melonjak 35,5% YoY menjadi Rp306,5 miliar.
Meski demikian, perseroan mengakui akan terus memantau perkembangan ekonomi global dan domestik untuk menentukan keberlanjutan strategi tersebut ke depan. Namun, keterjangkauan harga bagi masyarakat disebut tetap menjadi prioritas utama perusahaan.
“Bagi kami, peritel yang mampu menjaga relevansi dengan kebutuhan konsumen, menjalankan operasional secara disiplin, serta menghadirkan nilai yang konsisten akan memiliki posisi yang lebih kuat untuk bertahan dan tumbuh secara berkelanjutan,” katanya.
Adapun kinerja emiten ritel nasional masih dibayangi tantangan berat sepanjang 2026.
Meski daya beli masyarakat mulai menunjukkan perbaikan, tekanan dari rantai pasok global hingga kenaikan harga bahan baku akibat tensi geopolitik masih menjadi ancaman nyata bagi pelaku usaha.
Tantangan biaya operasional dan rantai pasok global, termasuk harga energi yang diproyeksikan naik 24% sampai akhir 2026 hingga kenaikan harga bahan baku plastik hingga 80%-100%.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





