Oleh: Yusran – Pendidik SMA Islam Athirah Makassar
Kisah Ibrahim bukan kisah biasa. Ia bukan hanya cerita tentang seorang ayah, seorang anak, dan sebuah perintah. Ia adalah kisah tentang keberanian manusia menundukkan dirinya di hadapan kehendak Tuhan. Di dalamnya ada cinta, ada ujian, ada air mata, ada kepatuhan, dan ada keikhlasan yang tidak mudah dijelaskan dengan bahasa sederhana. Ibrahim mengajarkan bahwa iman bukan sekadar ucapan yang manis di bibir, melainkan kesediaan untuk melepas sesuatu yang paling dicintai ketika Tuhan memintanya.
Di sinilah Iduladha menjadi sangat relevan bagi masyarakat modern. Kita hidup dalam zaman yang mengajarkan manusia untuk memiliki sebanyak-banyaknya. Rumah harus lebih besar, kendaraan harus lebih baru, jabatan harus lebih tinggi, pengikut media sosial harus lebih banyak, dan pengakuan publik seolah menjadi kebutuhan batin yang tidak pernah selesai. Manusia modern sering merasa berhasil ketika mampu menggenggam lebih banyak hal. Padahal, melalui Ibrahim, Iduladha justru mengajarkan bahwa kemuliaan manusia kadang terletak pada kemampuannya untuk melepaskan.
Melepaskan bukan berarti kalah.
Melepaskan tidak selalu berarti kehilangan. Dalam bahasa Iduladha, melepaskan adalah bentuk tertinggi dari kepercayaan. Ibrahim mencintai Ismail, tetapi cintanya kepada Tuhan lebih besar dari segala cinta yang ada. Di titik itulah manusia diuji apakah ia mampu menjadikan Tuhan sebagai pusat hidup, atau justru menjadikan kepemilikan, ambisi, dan egonya sebagai berhala baru?
Masyarakat modern mungkin tidak lagi menyembah patung sebagaimana masyarakat kuno, akan tetapi berhala zaman ini bisa hadir dalam bentuk yang lebih halus. Ada yang menyembah popularitas, sampai rela kehilangan kejujuran demi tepuk tangan. Ada yang menyembah jabatan, sampai tega mengorbankan nurani. Ada yang menyembah harta, sampai lupa bahwa di dalam rezekinya ada hak orang lain. Ada pula yang menyembah dirinya sendiri, merasa paling benar, paling hebat, dan paling layak didengar.
Maka, ketika hewan kurban disembelih pada hari raya Iduladha, seharusnya yang ikut tumbang bukan hanya tubuh seekor sapi atau kambing. Yang lebih penting untuk disembelih adalah ego yang selama ini tumbuh diam-diam dalam diri kita. Ego yang membuat kita sulit meminta maaf. Ego yang membuat kita enggan berbagi. Ego yang membuat kita merasa lebih mulia dari orang lain. Ego yang membuat kita mudah merendahkan, tetapi sulit merangkul.
Iduladha bukan semata peristiwa pembagian daging. Jika hanya berhenti pada daging, maka kita kehilangan ruh terdalam dari kurban itu sendiri. Daging kurban memang penting karena ia menjadi jalan menghadirkan kegembiraan bagi sesama, terutama mereka yang jarang menikmati makanan layak. Tetapi lebih dari itu, kurban adalah simbol bahwa keberagamaan harus melahirkan kepedulian sosial.
Ibadah yang benar tidak boleh hanya membuat seseorang dekat dengan Tuhan, tetapi jauh dari manusia.
Di tengah kehidupan yang makin individualistis, pesan ini menjadi sangat penting. Kita sering tinggal berdekatan, tetapi tidak benar-benar saling mengenal. Kita berada dalam satu lingkungan, tetapi sibuk dengan urusan masing-masing. Kita mudah terhubung lewat gawai, tetapi belum tentu tergerak saat tetangga sedang kesusahan. Di sinilah Iduladha mengingatkan bahwa hidup tidak boleh hanya berputar pada diri sendiri. Ada orang lain yang perlu disapa, ditolong, dan diberi ruang dalam hati kita.
Jejak Ibrahim adalah jejak keberanian untuk melawan kecenderungan zaman. Ketika dunia mengajarkan untuk menumpuk, Ibrahim mengajarkan untuk memberi. Ketika zaman mendorong manusia mengejar pengakuan, Ibrahim mengajarkan ketulusan. Ketika kehidupan modern sering membuat manusia sibuk membangun citra, Ibrahim mengajarkan kejujuran batin di hadapan Tuhan. Ia tidak bertanya berapa banyak orang yang melihat pengorbanannya. Ia hanya tahu bahwa Tuhan melihat ketundukannya.
Inilah pelajaran besar yang perlu dibawa pulang dari Iduladha 1447 H/2026 M. Bahwa kurban bukan hanya tentang kemampuan ekonomi membeli hewan. Kurban adalah tentang kesanggupan batin untuk mempersembahkan yang terbaik. Bagi yang mampu, berkurban dengan hewan adalah ibadah yang mulia. Namun bagi setiap manusia, ada kurban lain yang juga harus terus dilakukan: mengurbankan kesombongan, keserakahan, iri hati, dendam, dan kebiasaan buruk yang menjauhkan kita dari kebaikan.
Seorang pemimpin berkurban ketika ia mengesampingkan kepentingan pribadi demi keadilan. Seorang guru berkurban ketika ia tetap sabar mendidik meski tidak selalu dihargai. Orang tua berkurban ketika ia mengutamakan masa depan anak-anaknya. Anak muda berkurban ketika ia memilih jalan jujur meski jalan curang tampak lebih cepat mengantar pada keberhasilan. Masyarakat berkurban ketika mereka mau bergotong royong, saling menolong, dan tidak membiarkan yang lemah berjalan sendirian.
Iduladha mengajarkan bahwa kemajuan sebuah masyarakat tidak hanya diukur dari gedung tinggi, jalan lebar, teknologi canggih, atau ekonomi yang tumbuh. Masyarakat benar-benar maju ketika manusia di dalamnya masih punya hati untuk berbagi. Ketika yang kuat tidak menindas yang lemah. Ketika yang kaya tidak melupakan yang miskin. Ketika yang berilmu tidak merendahkan yang belum tahu. Ketika agama tidak berhenti sebagai simbol, tetapi hadir sebagai akhlak yang hidup.
Jejak Ibrahim tidak pernah usang. Ia tetap menyala di tengah dunia yang berubah. Ia mengingatkan kita bahwa manusia boleh menjadi modern, tetapi jangan kehilangan kelembutan hati. Manusia boleh mengejar kemajuan, tetapi jangan sampai kehilangan arah pulang kepada Tuhan. Manusia boleh memiliki banyak hal, tetapi jangan sampai dimiliki oleh hal-hal yang ia genggam.
Iduladha adalah panggilan untuk kembali. Kembali kepada iman yang jernih, hati yang rendah, dan kepedulian yang tulus. Sebab, yang sampai kepada Tuhan bukanlah darah dan daging kurban, melainkan ketakwaan yang tumbuh dari hati yang ikhlas. Dan selama manusia masih mampu menyembelih egonya sendiri, selama itu pula jejak Ibrahim akan tetap hidup di tengah masyarakat modern. (*/)





