Hampir seluruh umat Islam dunia merayakan hari raya Idul Adha 10 Zulhijah 1447 pada Rabu (27/5/2026) ini. Selama perayaan, media sosial dipenuhi dengan konten tentang perilaku hewan kurban, mulai dari menangis, pasrah saat akan dikurbankan, hingga mengamuk dan menimbulkan kepanikan. Meski ada di dekat kita, banyak perilaku hewan yang belum sepenuhnya dipahami manausia.
Salah satu konten yang memicu reaksi emosional warganet adalah seekor sapi yang akan dijual oleh pemiliknya. Tampak raut muka sapi murung, sedih, sambil mengeluarkan air mata. Sapi juga terlihat pasrah saat dielus-elus dan diajak ngobrol oleh pemiliknya. Keluarnya air mata sapi menimbulkan iba warganet yang menganggap sapi sedih, enggan dijual, atau takut berpisah dengan tuannya.
Reaksi emosional pemilik pun tak kalah menarik. Bagi banyak masyarakat Indonesia, sapi yang dirawat sejak kecil adalah tabungan untuk berbagai keperluan. Karena itu, ikatan emosional di antara sapi dan orang yang merawatnya (handler) terbangun cukup kuat. Tahun 2025, sebanyak 627.130 sapi dikurbankan selama Idul Adha yang merupakan 65 persen sapi yang disembelih di Indonesia selama setahun.
Selain sapi, sejumlah hewan mamalia, reptil, hingga burung memang bisa mengeluarkan air mata karena mereka semua memiliki kelenjar air mata. Secara psikologi, sapi dan sejumlah hewan memang memiliki emosi. Sapi juga termasuk hewan sentien, artinya bisa merasakan sesuatu, seperti sakit, tidak nyaman, takut, dan berbagai emosi lain. Namun, emosi itu tidak berarti mereka bisa merasakan seperti yang dirasakan manusia.
“Emosi yang sapi rasakan lebih ke arah naluri bertahan hidup,” kata pakar anatomi dan dosen Divisi Anatomi Histologi dan Embriologi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University Bogor Jawa Barat Supratikno, Senin (25/5/2026).
Karena itu, sapi yang menangis tidak bisa dimaknai mereka sedih dan terharu akibat akan dijual atau dikurbankan. Sapi menangis sebagai respon fisiologis tubuh mereka, seperti mata yang teriritasi debu, angin, atau kotoran lain. Sapi juga bisa menangis karena stres akibat perubahan lingkungan, perubahan pakan, kesakitan, atau reaksi normal untuk membasahi mukosa mata. Bahkan, sapi bisa mengeluarkan air mata jika minumannya kelebihan natrium atau garam.
Sapi juga termasuk hewan sentien, artinya bisa merasakan sesuatu, seperti sakit, tidak nyaman, takut, dan berbagai emosi lain. Namun, emosi itu tidak berarti mereka bisa merasakan seperti yang dirasakan manusia.
Anggapan bahwa sapi dan hewan lain memiliki sifat, perilaku, dan karakter manusia itu, seperti ditulis ahli biologi perilaku di Odisee University of Applied Sciences Belgia Hilde Vervaecke di Scientific American, 1 Maret 2024, merupakan fenomena antropomorfisme. Manusia umumnya menganggap aneh hewan yang mengeluarkan air mata dan mereka merespon balik perilaku hewan tersebut secara emosional pula.
Studi memang menunjukkan manusia menganggap binatang yang berurai air mata itu sedang sedih, sama seperti manusia. Air mata itu juga membuat binatang terlihat kurang agresif, lebih ramah, dan memiliki intensitas emosional yang tinggi. Padahal, sejatinya mereka tetap hewan non-manusia yang bisa agresif dan menyerang siapa saja.
Manusia dan hewan mengeluarkan air mata karena mereka memang memiliki kelenjar air mata yang mengeluarkan cairan. Namun, komponen kimia penyusun air matanya berbeda antarspesies, bergantung pada proses evolusinya sebagai cara mereka beradaptasi dengan lingkungan.
Menurut Vervaecke, setidaknya ada tiga jenis air mata yang diproduksi manusia atau hewan. Air mata basal dilepaskan kelenjar air mata secara spontan untuk melindungi kornea, sedangkan air mata refleks diproduksi sebagai respon atas rangsangan eksternal, seperti iritasi, cedera, dingin, atau paparan zat tertentu. Terakhir, ada air mata emosional yang hanya dihasilkan manusia dan dipicu oleh kondisi mental mereka.
Namun, hingga kini belum diketahui pasti fungsi air mata emosional manusia. Hipotesis yang banyak diterima menyebut manusia menangis emosional untuk mengatasi tantangan dengan memberi sinyal rasa sakit emosional, kesusahan, atau kerentanan yang dialami. Air mata dapat memengaruhi orang-orang di sekitar, memperkuat hubungan sosial, mendorong perilaku kooperatif, hingga menghambat agresi atau memunculkan perhatian, bantuan, dan perlindungan.
Hingga kini, konsensus ilmiah menunjukkan bahwa air mata emosional adalah hal yang unik pada manusia. Belum ada bukti ilmiah yang mendukung bahwa hewan non-manusia menangis karena sedih atau gembira seperti manusia.
Konsensus ilmiah menunjukkan bahwa air mata emosional adalah hal yang unik pada manusia. Belum ada bukti ilmiah yang mendukung bahwa hewan non-manusia menangis karena sedih atau gembira seperti manusia.
Sementara itu, sapi yang dielus dan menunjukkan ekspresi tenang dan diam, lanjut Supratikno, terjadi karena sapi memiliki memori dan kepercayaan dengan pemilik atau orang yang merawatnya karena selalu diperlakukan dengan baik. Elusan atau garukan itu membuat nyaman dan wujud interaksi yang menyenangkan, apalagi sapi tidak dapat menggaruk sendiri.
Jika elusan atau garukan itu dilakukan orang lain, seperti yang banyak ditemukan di tempat penjualan atau lokasi penampungan sapi kurban untuk menenangkan atau menunjukkan rasa sayang pada binatang, maka sapi yang digaruk justru dalam mode waspada. Elusan oleh orang tak dikenal itu tidak akan menimbulkan masalah jika sapi tidak merasa terancam atau tidak memiliki pengalaman diperlakukan kasar. Namun, butuh waktu agar sapi bisa menerima elusan asing itu hingga dia akhirnya bisa menyesuaikan diri dan berinteraksi dengan orang baru.
Di sisi lain, selain sapi kurban yang menangis, media sosial dan pemberitaan selama Idul Adha juga banyak dipenuhi oleh konten tentang sapi kurban yang lepas dari ikatan di tempat penampungan dan mengamuk. Lepasnya hewan kurban itu menimbulkan kepanikan massal karena hewan berlari kencang tanpa arah, ke jalan raya, masuk gang, terjebur ke kali atau selokan, menyelinap ke rumah atau toko warga hingga menyeruduk apa saja dan siapa saja yang ditemuinya di sepanjang jalan.
Supratikno yang merupakan peneliti dan pelatih penyembelihan halal di Halal Science Center IPB University mengatakan sapi adalah hewan yang memiliki modalitas sensorik. Artinya mereka memiliki cara khusus untuk mengolah informasi dari lingkungannya dengan indra yang dimilikinya.
Sebagai hewan sosial, sapi akan gelisah dan sedih jika dipisahkan dari anak atau temannya. Sapi akan takut jika diisolasi sendirian karena pada dasarnya sapi senang hidup berkelompok.
Mata sapi memiliki pandangan yang luas, tetapi tidak fokus. Dia hanya melihat bayangan dan gerakan benda saja, bukan wujud yang jelas seperti pandangan manusia. Akibatnya, saat sapi melihat gerak bayangan dari orang yang berlalu lalang di sekitarnya, apalagi dengan gerak cepat dan terus menerus, maka itu akan dianggap sebagai sinyal bahaya yang bisa membuatnya stres.
Stres sapi akan semakin bertambah jika dia mendangar suara teriakan atau keributan di dekatnya. Telinga sapi itu peka terhadap suara keras atau berfrekuensi tinggi. Karena itu, jangan pula mengasah pisau yang akan digunakan untuk menyembelih di dekat sapi karena itu sangat menganggunya.
Tak hanya itu, sapi akan takut jika melihat temannya disembelih, dikuliti, atau dipotong-potong tubuhnya sehingga areal penyembelihan dan pengolahan daging kurban harus tertutup atau tidak bisa dilihat hewan lain. Sapi juga akan ketakutan jika melihat orang yang pernah menyiksanya karena dia punya memori terhadap perlakuan orang yang pernah menanganinya (handler).
Meski mata sapi bersifat dikromatik alias buta warna, tetapi dia bisa membedakan warna yang memiliki gelombang panjang yang membuatnya tidak nyaman seperti warna merah dan oranye. Masalahnya, banyak sapi ditempatkan di lokasi penampungan yang dinaungi terpal warna oranye.
Hidung sapi memiliki kemampuan mencium yang lebih tajam dibanding binatang lain. Sapi bisa mencium aroma darah dari hewan lain yang disembelih. Sapi juga bisa mencium aroma stress dari hewan lain yang diperlakukan kasar. Bahkan, sapi mampu mendeteksi orang atau pekerja di sekitarnya yang ketakutan terhadap sapi.
“Makanya kalau mau menangani sapi, kalau takut jangan berani-berani dan kalau berani jangan takut-takut, supaya hormon stres manusia tidak terdeteksi oleh sapi,” kata Supratikno.
Saat menangani sapi yang mengamuk atau terlepas dari ikatannya maka harus ditangani oleh orang yang paham tentang bagaimana mengurus sapi. Sebagai hewan sosial, keberadaan sapi lain bisa digunakan untuk memancing agar sapi yang kabur tidak makin lari menjauh karena mereka akan cenderung mengumpul dengan sesamanya.
Kalau mau menangani sapi, kalau takut jangan berani berani dan kalau berani jangan takut takut supaya hormon stres manusia itu tidak terdeteksi oleh sapi.
Selain itu, orang yang tidak punya kepentingan dengan sapi sebaiknya menyingkir. Pasalnya di Indonesia, saat ada sapi kurban kabur, orang-orang justru beramai-ramai berusaha menonton atau ikut menangkapnya. Kehadiran banyak orang awam ini sejatinya justru berbahaya karena membuat sapu makin stres, takut, hingga beringas untuk melawan atau membela diri.
Sebaliknya, keikutsertaan orang-orang mengejar sapi yang mengamuk tanpa kemampuan itu akan membahayakan mereka sendiri karena rawan diseruduk sapi atau jatuh menabrak atau tertabrak sesuatu selama proses pengejaran sapi berlangsung.
Untuk menghindari sapi mengamuk saat akan disembelih, Supratikno menyarankan agar hewan ditenangkan dengan menghindarkannya dari hal-hal yang membuatnya stres dan takut, mulai dari menata lokasi penampingan, tempat penyembelihan, hingga pengolahan daging.
Pisau yang tajam penting untuk membuat sayatan pada hewan menjadi halus dan sedikit tekanan sehingga meminimalkan rasa sakit pada hewan. Pisau yang super tajam juga penting untuk menghindair pembekuan darah sehingga darah bisa mengalir deras, tuntas, sehingga hewan cepat mati dan makin singkat penderitaannya.
“Sebaik-baiknya proses penyembelihan yang baik adalah penyembelihan yang cepat sehingga sapi setelah masuk area penyembelihan langsung direbahkan dan disembelih sebelum dia menyadari bahwa nyawanya sedang terancam,” katanya.
Di sisi lain, sebagian masyarakat menganggap hewan kurban yang menurut atau mengamuk sebelum disembelih merupakan cerminan dari sikap sang pemilik. Jika hewan kurban mudah dikendalikan selama proses penyembelihan maka pemiliknya dinilai ikhlas dalam berkuban. Sebaliknya jika hewan kurbannya mengamuk, maka sang pemilik dianggap kurang ikhlas.
Tidak ada korelasi antara perasaan manusia dengan emosi binatang karena tingkat emosi binatang tidak sama seperti pada manusia.
Supratikno menegaskan, “Tidak ada korelasi antara perasaan manusia dengan emosi binatang karena tingkat emosi binatang tidak sama seperti manusia.”
Hewan kurban tenang dan mudah penyembelihannya bisa jadi karena hewan tersebut sudah biasa berinteraksi dengan manusia, tidak pernah diperlakukan kasar, atau telah mengenal baik orang-orang yang biasa menanganinya. Dengan demikian, dia tidak dalam mode flight atau kabur selama proses kurban berlangsung.
Hewan kurban yang mudah ditangani bisa jadi juga karena hewan tersebut sebelumnya condong sebagai subordinat yang bisa didominasi oleh bintang lain sejenis. Bisa jadi pula, hewan itu menganggap orang yang menanganinya sebagai sosok yang dominan sehingga sapi bersikap submisif atau patuh. Bahkan, kaptuhan sapi bisa muncul karena dia sedang dalam keterbatasan, baik karena sakit, terlalu gemuk, hingga gerakannya lebih terbatas.
Hal yang pasti, sikap hewan yang patuh itu tidak bisa dijadikan patokan suksesnya penyembelihan hewan kurban. Kesuksesan penyembelihan hewan kurban bergantung pada proses persiapan sebelum penyembelihan. Karena itu, mengurangi hal-hal yang tidak terlalu penting yang bisa mengganggu kenyamanan hewan, seperti menggunakan pengeras suara untuk memancing orang datang dan menimbulkan keramaian, sangat berguna untuk menjaga hewan tidak stres dan penyembelihannya pun lancar.
Hewan memang tidak memiliki emosi seperti manusia, tetapi hewan memiliki naluri yang bisa membuat stres dan takut. Berlaku ihsan terhadap hewan kurban adalah tuntunan agama. Namun, cara kita memperlakukan hewan kurban itu sejatinya juga menunjukkan karakter kita sebagai bangsa tentang bagaimana kita memperlakukan binatang dengan tetap menjaga kesejahteraannya.





