REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para ilmuwan memperkirakan es di Puncak Jaya di Barisan Sudirman, Papua, akan mencair pada 2030. Dengan menghilangnya dua gletser yang tersisa, Carstensz dan East Northwall Firn di Puncak Jaya, Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara bersama Venezuela dan Slovakia yang kehilangan seluruh gletsernya akibat pemanasan global.
Selama 44 tahun terakhir, Puncak Jaya kehilangan 97 persen es dan empat gletsernya. Para ilmuwan mengatakan pemanasan global berkontribusi langsung terhadap pencairan gletser es di seluruh dunia.
- Penelitian Ungkap Rotasi Bumi Melambat Akibat Perubahan Iklim
- PBB Pertegas Kewajiban Negara Tangani Krisis Iklim
- FAO: Pertanian Hanya Terima 4 Persen Pendanaan Iklim Global
Di Indonesia, proses itu diperparah fenomena El Niño. Fenomena El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan pola iklim global yang berganti antara kondisi La Niña dan El Niño, dengan dampak berbeda di tiap wilayah dunia. Di Indonesia, El Niño memicu peningkatan drastis pencairan gletser.
“Di Papua, kondisi menjadi lebih kering dan hangat selama El Niño, yang berarti lebih sedikit salju di dataran tinggi dan pencairan lebih besar. Keduanya bisa menjadi lonceng kematian, terutama bagi gletser kecil,” kata ahli geologi dari Lamont-Doherty Earth Observatory Mike Kaplan seperti dikutip dari situs resmi Columbia Climate School, Rabu (27/5/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}Kaplan meneliti sejarah gletser, iklim, dan bentang alam masa lalu. Ia mengatakan peristiwa El Niño 2015-2016 memberikan dampak besar terhadap gletser di Indonesia.
Peneliti iklim yang memimpin pemantauan gletser di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Donaldi Permana, mengatakan pemanasan global menyebabkan ketinggian titik beku meningkat sehingga curah hujan lebih sering turun dalam bentuk hujan dibandingkan dengan salju.
“Kondisi itu mempercepat pencairan alih-alih menambah massa gletser,” kata Permana kepada GlacierHub.
Permana menjelaskan laju penipisan vertikal gletser meningkat dari sekitar satu meter per tahun menjadi 5,3 meter selama El Niño 2015-2016, atau hampir lima kali lipat lebih cepat. Permana dan timnya menggunakan inti es sepanjang 32 meter yang diambil pada 2010 untuk menelusuri variabilitas iklim kawasan tersebut selama setengah abad terakhir. Analisis inti es menunjukkan pengaruh ENSO terhadap perubahan gletser di Papua.
Tim peneliti menyimpulkan tren penurunan es yang signifikan terus terjadi dan semakin memburuk selama periode El Niño. Berdasarkan tren itu, mereka memodelkan kehilangan es di masa depan.
“Pemodelan dan pengamatan terbaru menunjukkan penurunan terminal. Luas gletser berkurang dari sekitar 19,3 kilometer persegi pada 1850 menjadi hanya sekitar 0,16 hingga 0,23 kilometer persegi pada 2022-2024,” ujar Permana.
Artinya, luas gletser menyusut dari setara sekitar 3.500 lapangan sepak bola menjadi hanya sekitar 40 lapangan. Ia memperingatkan sejumlah model menunjukkan gletser di Indonesia bahkan bisa lenyap dalam satu tahun ke depan.
“Dengan meningkatnya kemungkinan El Niño kuat pada paruh kedua 2026, hilangnya gletser Indonesia kemungkinan terjadi pada 2026-2027,” katanya.
Kaplan menilai nasib gletser Papua kemungkinan sudah tidak dapat diselamatkan. Menurut dia, sekalipun emisi gas rumah kaca dapat dihentikan secara ajaib hari ini, sistem iklim tetap memiliki jeda respons.
“Suhu akan terus meningkat selama beberapa tahun meskipun kadar gas rumah kaca sudah stabil karena planet membutuhkan waktu untuk mencapai keseimbangan,” kata Kaplan.
Ia mengatakan dalam skenario hipotetis tersebut, pemanasan masih dapat berlanjut hingga 2030. Bahkan jika emisi karbon dioksida distabilkan saat ini, kondisi dinilai sudah terlalu hangat dan kering bagi gletser di Papua untuk bertahan, terutama jika El Niño kuat kembali terjadi.
Hilangnya gletser Papua tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga kehilangan budaya yang besar. Bagi banyak komunitas adat Papua, gletser memiliki nilai sakral.




