Dedi Mulyadi Tanggapi Fenomena Pocong di Jabar, Warga Diminta Hidupkan Siskamling

grid.id
5 jam lalu
Cover Berita

Grid.IDDedi Mulyadi kini tanggapi fenomena pocong di Jabar. Warga diminta hidupkan kembali siskamling.

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, turut menyoroti fenomena pocong di sejumlah daerah di Jawa Barat yang mulai meresahkan masyarakat.

Terbaru, Dedi Mulyadi tanggapi fenomena pocong di Jabar. Warga kini diminta hidupkan kembali siskamling.

Menurut Dedi, kemunculan orang menggunakan pakaian seperti pocong di jalan umum, dinilai membahayakan karena dilakukan di siang hari, sambil meminta uang kepada pengendara.

"Ini pocong memang menjadi hal yang meresahkan warga. Kalau di Lembang dan di Bandung, pocong dioperasi Satpol PP, karena keluarnya salah. Nah, harusnya pocong keluar malam hari, ini siang hari untuk minta-minta ke setiap mobil yang lewat," ujar Dedi, Selasa (26/5/2026), dikutip dari TribunJabar.id.

Bahkan, kata Dedi, dibeberapa tempat ada orang berkostum pocong yang diduga melakukan tindak kriminal dengan modus beragam, mulai dari meminta uang hingga diduga melakukan pencurian.

"Di berbagai tempat ada pocong yang dikejar warga karena mencuri kambing. Ada pocong yang ngetuk-ngetuk rumah dengan berbagai modus," ucapnya.

Dedi juga mengimbau masyarakat agar kembali berperan aktif dalam menjaga keamanan lingkungan dengan mengadakan patroli serta mengaktifkan ronda malam.

Selain itu, ia menambahkan bahwa warga bisa memanfaatkan grup WhatsApp sebagai sarana koordinasi cepat apabila terjadi gangguan keamanan di sekitar tempat tinggal mereka.

"Untuk itu, mari kita bersama-sama untuk melakukan patroli si siskamling di lingkungan masing-masing. Ada grup WA yang bisa diaktifkan di setiap lingkungan warga," ucapnya.

Kemudian warga diminta memanfaatkan alarm maupun kentongan sebagai tanda bahaya jika ada hal mencurigakan.

 

"Ada alarm yang bisa dibunyikan saat ada sesuatu yang dianggap bahaya, termasuk pocong yang mengganggu kenyamanan warga. Ada kentongan kalau di desa-desa," katanya.

Selain itu, pemerintah bersama personel TNI dan Polri turut meningkatkan pengawasan keamanan di tengah masyarakat melalui patroli rutin.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga akan menjalin koordinasi dengan aparat keamanan guna memastikan kondisi tetap aman dan terkendali. Warga pun diminta tetap tenang serta tidak terpancing kepanikan dalam menyikapi fenomena tersebut.

"Mari kita hadapi berbagai hal yang mengganggu warga dengan sungguh-sungguh dan mari kita bersama menjaga keamanan dan ketertiban warga. Untuk warga, panik jangan. Salam untuk semuanya," ucapnya.

Maraknya kemunculan sosok hantu buatan seperti pocong di beberapa daerah di Jawa Timur, termasuk Lamongan dan Kediri, mendapat perhatian dari kalangan akademisi. Dosen Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya, Radius Setiyawan, menilai kejadian tersebut tak lagi dapat dianggap hanya sebagai kisah mistis atau legenda perkotaan semata.

Menurut Radius, dari sudut pandang sosial dan budaya, figur hantu kini mengalami pergeseran fungsi menjadi sarana kontrol sosial yang bersifat merusak, baik di lingkungan masyarakat maupun di media digital.

“Ketika hantu muncul di ruang-ruang tertentu, maka yang terjadi adalah daya kejut masyarakat sehingga sangat mungkin orang panik dan kehilangan nalar rasionalnya. Di situlah praktik kriminalitas (begal) bekerja. Hantu sengaja digunakan sebagai instrumen teror,” ujar Radius, dikutip dari Kompas.com.

Radius mengatakan bahwa dalam perspektif budaya, hantu merupakan simbol yang menggambarkan ketakutan bersama di tengah masyarakat. Kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk kepentingan kriminal maupun pembuatan konten digital demi meraih keuntungan ekonomi.

Selain dipakai untuk aksi prank dan rekayasa visual, fenomena hantu palsu juga marak dijadikan materi konten horor di media sosial. Menurut Radius, besarnya minat masyarakat terhadap hal-hal berbau mistis membuat konten horor menjadi hiburan yang memiliki nilai komersial tinggi.

Lewat tingginya jumlah penonton, pengikut, hingga interaksi di media sosial, para kreator konten dapat memperoleh pemasukan dari unggahan tersebut. Meski begitu, Radius menilai praktik semacam itu sudah melewati batas etika serta mengabaikan empati sosial.

“Kalau motifnya menciptakan ketakutan kolektif semacam prank atau bahkan begal, ini sudah berbeda cerita. Berarti pembuat konten tersebut mengalami krisis etika dan krisis empati. Ini tentu jadi persoalan sosial yang sangat serius,” tegasnya.

 

Radius turut menghubungkan fenomena tersebut dengan tekanan ekonomi yang dialami masyarakat. Ia menilai, situasi ekonomi yang sulit mendorong sebagian orang mencari cara instan untuk memperoleh penghasilan tanpa terlalu memedulikan norma sosial yang berlaku.

Menurutnya, kondisi itu mirip dengan tren konten mandi lumpur yang sempat ramai dan viral di media sosial beberapa waktu lalu.

“Di tengah tekanan ekonomi, orang cenderung berpikir instan. Bagaimana caranya memperoleh uang dengan cara-cara yang irasional. Mereka menegasikan empati dan etika,” jelasnya.

Ia menilai kemiskinan ekstrem kerap melahirkan perilaku ekstrem yang tidak rasional.

“Krisis etika dan empati ini salah satu faktor pendorong utamanya adalah persoalan ekonomi atau kemiskinan yang mendera masyarakat,” pungkasnya. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Masjid Istiqlal Gunakan Sistem By Name By Address Distribusikan Daging Kurban
• 15 jam lalurctiplus.com
thumb
Jadi Titik Paling Rawan, DPR Wanti-wanti Petugas Haji Tak Boleh Ada Jemaah yang Tertinggal di Muzdalifah
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Pemkot Jakbar siap sebar 55 hewan kurban untuk Idul Adha
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Absen Lima Tahun, Conor McGregor Ungkap Alasan Semangat Comeback ke UFC: Tubuh Saya Segar, Pikiran Tajam
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Tanggal 29 Mei Apakah Libur? Simak Ketetapan SKB 3 Menteri
• 5 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.