Jakarta, CNBC Indonesia - Pagi itu, Ningsih sudah terjaga sebelum matahari benar-benar muncul di ufuk timur. Namun karena kuliah baru dimulai pukul tujuh, mahasiswa semester akhir di salah satu kampus swasta Yogyakarta itu memilih bersantai sejenak di atas kasur.
Sayang, niat bermalas-malasan itu tak kesampaian sebab tepat pukul 05.54 WIB, guncangan hebat tiba-tiba menggoyang bangunan kos tempatnya tinggal.
"Lagi goler-goleran, tiba-tiba goyang hebat. Badan kepontang-panting kencang," kata Ningsih kepada CNBC Indonesia, Selasa (26/5/2026), mengenang gempa Yogyakarta tepat hari ini 20 tahun lalu.
Ningsih pun langsung berhamburan keluar bersama penghuni kos lainnya. Namun, sebelum sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi, kabar yang lebih mengerikan mulai beredar dari mulut ke mulut. Tsunami bakal menggulung Yogyakarta dari selatan Jawa.
Saat itu, ingatan masyarakat Indonesia masih dibayangi tragedi tsunami Aceh yang terjadi dua tahun sebelumnya. Atas dasar itu, kabar tersebut dengan cepat dipercaya banyak orang meski belum terbukti benar.
Akibatnya, kepanikan menyebar jauh lebih cepat dibandingkan informasi resmi. Ribuan warga berbondong-bondong meninggalkan rumah dan kos-kosan untuk mencari tempat yang dianggap lebih aman. Bagi Ningsih, pemandangan pagi itu menjadi salah satu kepanikan massal terbesar yang pernah dia saksikan.
"Di situ aku saksi mata, mobil sedan kecil bisa diisi sampai 12 orang. Saking paniknya karena ada informasi tsunami, orang sebanyak itu bisa masuk ke mobil yang biasanya cuma muat empat atau lima penumpang," kenangnya.
Dalam kepanikan yang melanda pagi itu, Ningsih bersama teman-tema sekos hanya membawa pakaian yang dikenakannya. Dia bergegas meninggalkan kos di kawasan Gejayan dan mengikuti arus warga yang bergerak ke arah utara. Tanpa sadar, dia telah berlari belasan kilometer hingga mencapai persimpangan Kaliurang.
Ningsih bersama teman-temannya kemudian ikut menumpang motor warga yang dilanda panik, ikut menanjak hingga mencapai desa yang lebih tinggi di kawasan Kaliurang.
Namun, sesampainya di situ, ketakutan warga belum juga reda. Muncul kabar bahwa Gunung Merapi mengalami erupsi. Informasi itu semakin memperbesar kepanikan yang telah lebih dulu dipicu oleh gempa dan isu tsunami yang belakangan terbukti salah.
Demikianlah suasana yang menyelimuti Yogyakarta tepat 20 tahun lalu. Pada 27 Mei 2006, gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,3 mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah. Pusat gempa berada di wilayah Bantul, tepatnya di sekitar pertemuan Sungai Opak dan Sungai Oya.
Para peneliti belakangan mengonfirmasi gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas Sesar Opak dan aktivitas tektonik di zona tumbukan antara dua lempeng besar di Selatan Jawa, yakni Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia.
Menurut tesis dari ITB berjudul "Gempa Bumi Yogyakarta 27 Mei 2006 dan Paleosesimologi Sesar Opak" (2007), sesar Opak sendiri merupakan sesar geser mengiri (sinistral strike-slip fault) yang memanjang dengan arah barat daya-timur laut. Meski telah lama dikenal sebagai struktur geologi aktif, aktivitasnya tidak banyak terlihat dalam kurun waktu yang panjang sebelum akhirnya kembali melepaskan energi besar pada 27 Mei 2006. Ini menjadikannya sebagai gempa terbesar kedua di Indonesia setelah Gempa Samudera Hindia yang memicu Tsunami Aceh 2004.
Setelah gempa utama yang terjadi pada pukul 05.54 WIB itu, wilayah Yogyakarta masih diguncang ratusan gempa susulan. Kekuatan guncangan memang terus melemah, tetapi cukup untuk menambah kepanikan warga yang masih berusaha menyelamatkan diri. Dalam satu hari setelah gempa utama, tercatat sedikitnya 176 gempa susulan yang dapat dirasakan masyarakat.
Dampak bencana tersebut sangat besar. Mengutip data Departemen Sosial yang dihimpun detikcom, jumlah korban meninggal akibat gempa Yogyakarta dan sekitarnya mencapai 6.234 jiwa. Selain itu, terdapat 33.231 korban luka berat dan 12.917 korban luka ringan.
Kerusakan fisik yang ditimbulkan juga sangat masif. Lebih dari 109.000 bangunan tercatat rusak berat hingga hancur total. Sementara itu, sekitar 301.000 bangunan lainnya mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi. Mulai dari ringan, sedang, hingga berat.
Bagi masyarakat Yogyakarta, gempa 27 Mei 2006 bukan sekadar bencana alam, melainkan tragedi yang mengubah kehidupan ribuan keluarga dalam sekejap. Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat pentingnya kesiap-siagaan dan literasi kebencanaan bagi masyarakat yang hidup di kawasan aktif tektonik seperti Indonesia.
(mfa/mfa) Add as a preferred
source on Google




