Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menjamin stok pangan aman selama libur Iduladha 2026.
Muhammad Khusnul Amin Kepala Bidang Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya menyebut, berdasarkan indeks kecukupan pangan, stok pangan di Surabaya saat ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Indeks kecukupan pangan Surabaya saat ini mencapai 3,55. Artinya, stok pangan lebih dari cukup dan aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama libur panjang Iduladha,” kata Khusnul Amin, Rabu (27/5/2026).
Sampai saat ini, lanjutnya, belum ditemukan fenomena panic buying di tengah masyarakat.
“Pembelian dalam jumlah besar lebih banyak dilakukan oleh pedagang atau pelaku usaha untuk kepentingan distribusi dan penjualan kembali. Kalau masyarakat umum sejauh ini belanja secukupnya, belum ada fenomena memborong bahan pokok secara berlebihan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Khusnul Amin mengimbau masyarakat untuk membeli kebutuhan secukupnya.
“Masyarakat diimbau membeli kebutuhan pangan secukupnya sesuai kebutuhan rumah tangga. Pembelian dalam jumlah berlebihan justru berisiko menimbulkan sampah makanan karena bahan pangan tidak terpakai atau rusak sebelum dikonsumsi. Karena itu, masyarakat diminta berbelanja secara bijak dan sesuai kebutuhan,” tuturnya.
Pemerintah, sambungnya, terus melakukan pengawasan distribusi pangan di tengah dinamika global, seperti krisis di Timur Tengah dan penguatan Dollar AS yang berpotensi memengaruhi harga sejumlah komoditas impor.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan pokok tetap terjaga selama momentum Iduladha.
“Masyarakat tidak perlu panik. Stok pangan aman dan pemerintah terus melakukan pemantauan agar kebutuhan pokok tetap terkendali,” tandasnya.
Diketahui, Indeks Kecukupan Pangan (IKP) Kota Surabaya pada Mei 2026 meningkat dibandingkan April 2026 menjadi 3,55.
Selain ketersediaan stok yang terjaga, sejumlah harga komoditas pangan juga terpantau mengalami penurunan.
Berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya pada minggu pertama hingga ketiga Mei 2026, beberapa komoditas diperkirakan menjadi penyumbang deflasi, di antaranya telur ayam ras, daging ayam ras, bawang putih, gula pasir, tomat, semangka, jeruk, anggur, kangkung, hingga ikan mujair.
Sementara itu, dibandingkan April 2026, cabai rawit tercatat menjadi komoditas dengan penurunan harga terbesar pada Mei 2026. Kondisi tersebut turut membantu menjaga stabilitas harga pangan menjelang Hari Raya Iduladha.(lta/rid)




