Tren berkurban populer di kalangan generasi Z di sejumlah wilayah di Jawa Tengah pada Idul Adha 2026. Mereka rela membatalkan rencana menonton konser hingga harus mengurangi piknik demi bisa berkurban. Sebagian lagi memutuskan untuk mulai menabung dari tahun ini untuk berkurban di tahun depan.
Pada Agustus 2026 mendatang, iKON, salah satu boyband asal Korea Selatan yang menjadi idola Ulfa Rahmadita (27) bakal konser di Jakarta. Sedianya, warga Kelurahan Bendan Ngisor, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang itu berencana menonton konser tersebut.
Uang sebesar Rp 3 juta sudah disiapkan Rahmadita yang karib disapa Dita itu sejak setahun belakangan untuk membeli tiket konser dan tiket kereta api ke Jakarta. Namun, beberapa pekan terakhir, rencana itu berubah.
Dita yang sejak tahun-tahun sebelumnya sudah dimotivasi orangtuanya untuk berkurban, akhirnya tergerak untuk berkurban. Uang yang semula dialokasikan untuk menonton konser itu pun dipakai membeli kambing kurban.
"Kalau dipikir ulang, saya sebenarnya sudah pernah nonton iKON di tahun 2023. Tapi kalau kurban ini kan sebelumnya belum pernah, jadi kepingin kurban. Lagipula, di konser tahun ini, personel iKON sedang tidak lengkap. Sembari nanti menunggu mereka lengkap di konser selanjutnya, saya memutuskan untuk kurban dulu," kata Dita saat dihubungi, Selasa (27/5/2026) malam.
Setelah berkurban, Dita merasakan kebahagiaan yang mirip dengan saat dirinya usai menonton konser. Ia merasa hatinya penuh. Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan swasta itu juga tak sabar untuk berkurban lagi di tahun depan.
"Ternyata pertama kali kurban itu sama nagihnya sama kayak pertama kali nonton konser. Kalau biasanya sekali nonton konser pingin nonton terus. Nah, kalau kurban itu sama, jadi kayak pingin kurban lagi di tahun-tahun berikutnya," ucapnya.
Pengalaman pertama yang berkesan bagi Dita itu pun diceritakannya kepada teman-teman sebayanya. Menurut Dita, teman-temannya jadi termotivasi untuk mengikuti jejak Dita di tahun-tahun berikutnya.
Di lingkungannya, kesadaran gen Z untuk berkurban disebut Dita sudah mulai terbangun. Di masjid tempat ia berkurban misalnya, anak-anak muda, seperti milenial dan gen Z sudah mulai mendominasi daftar nama orang yang berkurban.
Keinginan untuk berkurban juga timbul di hati Arina Zulfa (25), warga Desa Sawangan, Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen. Setelah menabung selama dua tahun. Perempuan yang bekerja sebagai karyawan swasta itu berkurban sapi, patungan dengan rekan-rekan kerja ayahnya.
Arina menyebut, dirinya iuran sebesar Rp 4 juta untuk membeli sapi dengan harga Rp 28 juta. Uang itu disisihkan Arina dari anggaran yang sedianya dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan rekreasional.
Di tengah tuntutan kerja yang padat, Arina sering kali menyempatkan diri untuk berpiknik sebagai bagian dari upaya menjaga kewarasan. Namun, karena tekadnya untuk berkurban sangat kuat, keinginannya untuk piknik itu dikesampingkan.
Menurut Arina, berkurban membuat dirinya semakin menyadari makna ketaatan dan pengorbanan dalam Idul Adha. Melalui kurban, Arina telah mengorbankan kesenangan pribadinya supaya bisa berbagi kepada orang lain, terutama yang lebih membutuhkan.
"Setelah berkurban ini saya merasa bangga dengan diri saya. In this economy, yang tidak baik-baik saja ini, orang-orang memilih untuk menabung uangnya atau membeli sesuatu yang penting bagi dirinya, saya justru punya keinginan untuk berkurban," ujarnya saat dihubungi, Rabu (27/5/2026).
Sama dengan Dita, Arina juga ketagihan berkurban. Tahun depan, Arina mengaku ingin kembali berkurban kambing.
Arina menyebut, kurban sudah menjadi tradisi di keluarganya. Sejak kecil, Arina sudah berulang kali menyaksikan orangtuanya berkurban saat Idul Adha. Hal itu pula yang sedikit banyak mempengaruhi keputusan Arina untuk berkurban.
Berkurban disebut Arina mulai menjadi tren di kalangan Gen Z di sekitarnya. Arina mengaku senang karena tren itu positif dan bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Gen Z yang berkurban mendapatkan pahala, sementara orang lain mendapatkan daging kurban.
"Gen Z itu kan sering dikatain uangnya habis buat ngopi, habis buat ngonser, habis buat main, tapi lewat tren ini kami membuktikan bahwa Gen Z bisa kok menyimpan uangnya untuk berkurban. Ini juga berarti bahwa Gen Z tidak cuma memikirkan kebahagiaan duniawi, tapi juga sudah memikirkan akhirat," katanya.
Tren berkurban di kalangan Gen Z salah satunya mempengaruhi Fifi Cahya (26), warga Kelurahan Purwosari, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. Tahun ini, Fifi mengaku belum bisa berkurban karena uangnya belum cukup untuk membeli hewan kurban. Fiti berencana untuk berkurban pada tahun depan.
Fifi mengaku, ingin berkurban karena merasa apa yang dia milik bukan hanya miliknya, tetapi milik Tuhannya. Berkurban dianggap Fifi bisa menjadi salah satu bentuk mengembalikan apa yang diberikan oleh Tuhan kepadanya.
"Setahu saya, hewan kurban kita itu nanti akan menjadi tabungan pahala dan kendaraan kita saat di akhirat. Dalam agama, ada anjuran untuk berkurban bagi yang mampu. Sehingga, nanti saat memang sudah mampu, saya ingin berkurban," ucap Fifi.
Meski tahun ini belum bisa ikut berkurban, keluarga Fifi turut mengorbankan waktu dan tenaganya untuk menyukseskan perayaan Idul Adha di kampungnya. Ayahnya berperan sebagai jagal hewan kurban. Sementara itu, ibunya terlibat dalam proses pembagian hewan kurban.
Sosiolog Universitas Negeri Semarang, Fulia Aji Gustaman mengatakan, fenomena Gen Z berkurban menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan mereka tentang kesalehan. Peningkatan pengetahuan itu yang pada akhirnya menimbulkan niat para Gen Z untuk beribadah, salah satunya melalui berkurban.
Dalam kajian sosiologi, berkurban disebut Aji memiliki kaitan yang erat dengan teori solidaritas mekanik dari Emile Durkheim. Berkurban dinilai sebagai salah satu bentuk kohesi sosial.
"Ini menjadi momentum solidaritas, saling membantu di dalam masyarakat. Yang punya rezeki bisa berkurban, kemudian yang membutuhkan bisa mendapatkan daging kurban," ujar Aji.
Berkurban di kalangan Gen Z juga disebut Aji bisa menjadi salah satu cara mereka menunjukkan ekspresi kemandirian finansialnya. Para Gen Z yang sebagian sudah mulai memasuki dunia kerja dan hidup mandiri, mulai sadar perlunya aktualisasi diri, salah satunya dengan cara berkurban.
"Gen Z itu kan kompetitif ya, tapi kompetitifnya ini positif, dalam hal kebaikan. Jadi, ketika melihat teman-temannya mulai berkurban, timbul keinginan untuk berkurban juga dalam diri mereka," katanya.
Selama ini, Gen Z yang hampir semuanya melek digital juga disebut Aji mulai terpapar dengan konten-konten para pedagang hewan kurban yang memasarkan produknya melalui media sosial. Pemasaran daring itu memungkinkan para Gen Z membeli hewan kurban dengan mudah. Mereka tak lagi harus repot-repot datang ke tempat-tempat penjualan hewan kurban.
Di satu sisi, para pedagang hewan kurban juga memberikan kemudahan lain bagi calon pembelinya. Jika dulu membeli hewan kurban hanya bisa dilakukan dengan cara membayar secara kontan, kini, para pedagang hewan kurban mulai menyediakan fasilitas berupa cicilan yang meringankan para pembeli, termasuk Gen Z.





