Risiko Harga Bahan Bakar: IMC Pelita (PSSI) Fokus Jaga Likuiditas dan Efisiensi

bisnis.com
8 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — PT IMC Pelita Logistik Tbk. (PSSI) menilai kondisi sepanjang kuartal I/2026 cukup menantang bagi sektor jasa maritim logistik, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar yang berdampak langsung terhadap biaya operasional perusahaan. 

Direktur Utama PSSI Yolanda Watulo menyampaikan bahwa perseroan akan fokus menjaga stabilitas operasional dan pengelolaan usaha secara disiplin di tengah dinamika industri logistik dan energi nasional. 

"Kuartal I/2026 masih cukup menantang, terutama akibat penyesuaian volume pengangkutan dan tekanan margin operasional," ujarnya dikutip, Rabu (27/5/2026)

Oleh karena itu, lanjutnya, perseroan saat ini lebih memprioritaskan stabilisasi operasional dan kesehatan keuangan dibanding mengejar pertumbuhan agresif. Fokus utama diarahkan pada efisiensi biaya, menjaga utilisasi armada tetap optimal, serta mempertahankan arus kas dan likuiditas yang sehat.

Baca Juga : Pasar Pantau Negosiasi AS-Iran, Harga Minyak Global Bergerak Variatif

Untuk tahun ini, perseroan belum memberikan panduan atau guidance spesifik terkait target pendapatan maupun laba bersih. Meski demikian, kondisi fundamental perusahaan dinilai masih cukup solid.

Dia juga menjelaskan bahwa bahan bakar atau fuel merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam industri pelayaran sehingga kenaikan harga BBM non subsidi otomatis meningkatkan beban operasional perusahaan. 

Namun, dampak tersebut dinilai belum terlalu mengganggu kinerja karena sebagian kontrak perseroan telah memiliki mekanisme pass through atau penyesuaian tarif kepada pelanggan, terutama untuk kontrak berbasis time charter.

“Dampaknya masih relatif dapat dikelola karena sebagian kontrak perseroan memiliki mekanisme pass through atau penyesuaian biaya kepada pelanggan,” katanya.

Selanjutnya perseroan juga terus memperkuat langkah efisiensi operasional melalui pengelolaan konsumsi bahan bakar, optimalisasi voyage, preventive maintenance, hingga peningkatan utilisasi armada. Strategi tersebut dilakukan untuk menjaga margin usaha di tengah kondisi industri yang masih fluktuatif.

Per 31 Maret 2026, perseroan mencatat kas dan setara kas sebesar US$58,7 juta dengan debt to equity ratio (DER) sekitar 0,06 kali dan current ratio yang tetap berada pada level sehat. Selain itu, lanjutnya, di tengah tekanan industri, perusahaan juga masih melanjutkan sejumlah pengembangan strategis secara selektif dan bertahap guna mendukung pertumbuhan jangka panjang.

Secara sektoral, dia memperkirakan industri logistik maritim masih dibayangi sejumlah tantangan mulai dari volatilitas harga BBM, tekanan tarif angkutan, margin operasional, hingga fluktuasi volume pengangkutan. Selain itu, sektor ini juga cukup sensitif terhadap pergerakan harga komoditas dan kebijakan energi domestik.

Meski demikian, perseroan melihat masih terdapat sejumlah katalis positif yang dapat menopang bisnis pelayaran hingga akhir tahun. Kebutuhan distribusi energi domestik, logistik batu bara dan bulk commodity, serta aktivitas transshipment dinilai masih menjadi penopang utama permintaan jasa logistik maritim.

Dengan kondisi tersebut, perseroan menegaskan akan tetap fokus menjaga utilisasi armada, meningkatkan kualitas operasional, memperkuat efisiensi biaya, serta menjaga kesehatan arus kas sambil melanjutkan pengembangan usaha secara hati-hati dan terukur.

PSSI juga tetap menyiapkan ekspansi armada secara selektif. Perusahaan direncanakan untuk menambah dua set tug & barge serta dua unit barge yang ditargetkan selesai pada akhir kuartal III/2026 dan awal kuartal IV/2026. Tak hanya itu, PSSI juga mulai menjajaki peluang bisnis baru di segmen liquid bulk untuk memperluas sumber pendapatan di luar angkutan batubara.

PSSI tercatat membukukan pendapatan sebesar US$ 10,59 juta per kuartal I/2026, atau menurun 29,51% dibandingkan US$ 15,02 juta pada posisi yang sama tahun lalu. Penurunan pendapatan tersebut membuat kerugian PSSI membengkak ke angka US$ 1,28 juta, dibandingkan US$ 464,50 ribu pada kuartal I/2025. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Warga Grobogan Keluhkan Sawah Masih Tertimbun Lumpur Pascabanjir, Ini Respons Sekda Jateng
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
TNI AU Buka Pendaftaran Bintara Gelombang II 2026, Begini Cara Daftarnya
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
ART RI-AS Tuai Kritik, Indonesia Harus Ubah Banyak Aturan Demi Amerika
• 16 jam lalukatadata.co.id
thumb
Momen Khidmat Prabowo dan Diaspora RI Salat Iduladha di KBRI Paris
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Jemaah Haji RI Ditipu Travel, Tak Bisa Pulang-Disuruh Kerja Paksa
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.