Bisnis.com, JAKARTA — Korea Selatan mengumumkan rencana pengembangan kapal selam bertenaga nuklir pertama yang dibangun secara domestik, dengan target peluncuran pada pertengahan 2030-an.
Kementerian Pertahanan Korea Selatan pada Selasa memaparkan peta jalan proyek “Jangbogo N Project” sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat keamanan maritim dan menghadapi ancaman nuklir serta rudal berbasis kapal selam dari Korea Utara.
“Kami akan mengupayakan peluncuran kapal selam bertenaga nuklir pertama pada pertengahan 2030-an dan melanjutkan pengembangannya hingga dapat mulai beroperasi pada paruh kedua 2030-an atau setelahnya,” ujar Menteri Pertahanan Korea Selatan Ahn Gyu-back dalam rapat strategi pertahanan yang dipimpin Presiden Lee Jae Myung dikutip dari Kantor Berita Anadolu, Rabu (27/5/2026).
Kapal selam tersebut dinilai akan meningkatkan kemampuan militer Korea Selatan secara signifikan karena mampu beroperasi lebih lama di bawah laut serta memiliki kecepatan dan mobilitas lebih tinggi dibandingkan kapal selam konvensional berbahan bakar diesel.
Ahn mengatakan kapal selam itu akan menggunakan uranium rendah pengayaan atau low-enriched uranium (LEU) dengan tingkat pengayaan hingga 20% sebagai bahan bakar.
Pengumuman tersebut menyusul kesepakatan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat tahun lalu yang membuka peluang kerja sama lebih erat dalam proyek kapal selam, termasuk pembahasan mengenai pasokan bahan bakar dan persyaratan teknis.
Meski demikian, Korea Selatan masih dibatasi untuk menggunakan material nuklir bagi kepentingan militer berdasarkan perjanjian kerja sama nuklir dengan AS serta komitmennya dalam Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir atau Nuclear Non-Proliferation Treaty (NPT).
“Kami akan mematuhi kewajiban nonproliferasi selama seluruh proses pengadaan dan pengelolaan uranium rendah pengayaan yang diperlukan untuk sistem propulsi kapal selam, melalui konsultasi erat dengan Amerika Serikat,” kata Ahn.
Kementerian Pertahanan menyebut kapal selam tersebut akan dikembangkan dan dibangun sepenuhnya di dalam negeri guna memastikan kemandirian operasional dan keandalan sistem.
Selain memperkuat pertahanan, proyek itu diperkirakan menciptakan lebih dari 40.000 lapangan kerja dan mendukung industri galangan kapal, nuklir, serta pertahanan Korea Selatan dalam beberapa dekade mendatang.





