Jakarta, VIVA – Aktris sekaligus aktivis kemanusiaan Chiki Fawzi membagikan kesaksian mengejutkan terkait kondisi para relawan Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2 menuju Gaza.
Dalam keterangannya, Chiki mengungkap dugaan kekerasan yang dialami 9 warga negara Indonesia setelah kapal yang mereka tumpangi dihadang militer Israel di perairan internasional. Menurutnya, para relawan mengalami perlakuan fisik hingga intimidasi selama berada dalam penahanan. Scroll untuk tahu cerita lengkapnya, yuk!
“Mereka dipukuli, disetrum, dan diborgol menggunakan cable ties yang sangat kencang sampai melukai tangan,” kata Chiki Fawzi di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Putri mendiang seniman Marissa Haque itu mengatakan para relawan kemudian dipindahkan ke sebuah kapal besar yang disebut telah dimodifikasi menjadi lokasi penahanan sementara.
“Teman-teman kemudian diculik dan dibawa ke sebuah ship war, kapal kargo raksasa yang dimodifikasi jadi penjara terapung,” ucapnya.
Chiki mengaku mengikuti perkembangan situasi secara intens sejak awal misi berlangsung. Ia bahkan turut mendampingi salah satu jurnalis relawan yang mengalami luka serius usai dibebaskan.
“Ada satu jurnalis yang setelah bebas aku temani di rumah sakit, dia sampai kencing darah karena bagian ginjalnya dipukuli terus-menerus,” ujar Chiki.
Tak hanya menyoroti dugaan kekerasan fisik, Chiki juga menyebut adanya tindakan intimidatif yang dilakukan aparat Israel kepada para relawan. Menurutnya, perlakuan yang ditampilkan di depan kamera berbeda dengan situasi yang terjadi di balik dokumentasi publik.
“Israel juga sering bikin drama di depan kamera, pura-pura kasih air minum dengan sopan, tapi begitu kamera mati, mereka mengancam akan menembak kepala relawan kalau tidak mau minum,” katanya.
Selain mengungkap kondisi para relawan setelah penahanan, Chiki turut membagikan suasana mencekam saat kapal misi kemanusiaan mulai diintersep militer Israel. Ia menjelaskan bahwa para relawan sebenarnya telah memiliki prosedur keamanan tertentu ketika kapal patroli mulai mendekat.
“Ada protokol ketat yang harus dilakukan. Begitu kapal militer Israel mendekat sekitar 10 meter, semua ponsel relawan harus segera dilempar ke laut supaya tidak disita dan data-datanya tidak disalahgunakan,” kata Chiki Fawzi.





