Media sosial ramai memperbincangkan soal dugaan pemalsuan riset oleh warga negara Indonesia (WNI) dalam konferensi International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Denmark. Peristiwa yang dinilai bisa mencederai budaya akademik ini mendapat sorotan dari menteri hingga DPR RI.
Untuk diketahui, konferensi ilmiah ISPPD 2026 berlangsung pada 17-21 Mei. Sekelompok periset asal Indonesia yang terdiri atas Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti mempresentasikan sejumlah hasil penelitian yang dianggap sangat impresif.
Kendati demikian, muncul dugaan bahwa penelitian yang dibawakan mereka hasil fabrikasi dan tidak pernah benar-benar dilakukan. Pelaku juga diduga memalsukan identitas.
Peristiwa ini pun mendapat perhatian dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto. Kemdikti disebut melakukan pendalaman terkait dugaan riset palsu yang dilakukan oleh WNI tersebut.
"Kemdiktisaintek memberikan perhatian terhadap informasi yang berkembang terkait dugaan pelanggaran integritas akademik dan etika penelitian yang melibatkan pihak yang menggunakan afiliasi institusi di Indonesia," kata Brian saat dihubungi, Rabu (27/5/2026).
Brian mengatakan pendalaman dilakukan untuk mencari fakta dan status WNI dalam forum tersebut. Koordinasi dilakukan dengan sejumlah pihak untuk mengungkap kebenarannya.
"Saat ini kami terus melakukan koordinasi dan pendalaman bersama pihak terkait untuk memastikan fakta-fakta yang sebenarnya, termasuk status yang bersangkutan, bentuk afiliasi yang digunakan, serta keterkaitannya dengan institusi pendidikan tinggi atau lembaga riset di Indonesia," ujar Brian.
"Namun demikian, kita juga harus mengedepankan prinsip kehati-hatian. Semua pihak perlu diberikan ruang klarifikasi, dan setiap dugaan perlu diverifikasi secara objektif berdasarkan bukti serta mekanisme yang berlaku di lingkungan akademik dan penelitian," lanjutnya.
(dwr/fas)





