REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Hong Kong untuk pertama kalinya berhasil melampaui Swiss sebagai pusat transaksi kekayaan lintas batas terbesar di dunia. Lompatan itu terjadi setelah aset lintas batas Hong Kong tumbuh pesat hingga mencapai 2,95 triliun dolar AS (Rp51.173 triliun) pada 2024, menurut laporan terbaru Boston Consulting Group (BCG) yang dirilis Rabu.
BCG mencatat kekayaan lintas batas Hong Kong tumbuh rata-rata 10,7 persen per tahun pada 2025, didorong derasnya aliran dana dari China daratan serta kuatnya performa pasar saham yang memicu gelombang penawaran saham perdana (IPO) dan lonjakan keuntungan perusahaan teknologi berbasis internet.
- Bupati Jeje Pantau Langsung Kesibukan Rumah Jagal Saat Idul Adha
- Bank BSN Salurkan Ratusan Hewan Kurban ke Berbagai Daerah
- Grup MIND ID Salurkan 1.735 Hewan Kurban dari Sumatra Hingga Papua
Laporan tersebut menegaskan posisi Hong Kong semakin kokoh sebagai pintu utama China menuju pasar keuangan global. Lebih dari 60 persen aset yang dikelola di Hong Kong disebut berasal dari aliran dana China daratan, memperlihatkan ketergantungan yang semakin besar antara pusat finansial itu dengan ekonomi China.
“Hong Kong terus memperkuat perannya sebagai gerbang utama China ke pasar global,” tulis BCG dalam laporannya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Kenaikan posisi Hong Kong juga dipandang sebagai pukulan simbolik bagi Swiss yang selama puluhan tahun dikenal sebagai pusat pengelolaan kekayaan internasional dunia. Pergeseran ini menunjukkan pusat gravitasi keuangan global mulai bergerak ke Asia, seiring meningkatnya pengaruh ekonomi dan investasi China di pasar internasional.
BCG memperkirakan tren pertumbuhan Hong Kong masih akan berlanjut. Kekayaan lintas batas kota tersebut diproyeksikan meningkat sekitar 9 persen setiap tahun hingga 2030, memperkuat ambisi Hong Kong mempertahankan statusnya sebagai salah satu pusat finansial paling berpengaruh di dunia.
Asia Jadi Pusat Keuangan DuniaKeberhasilan Hong Kong melampaui Swiss sebagai pusat kekayaan lintas batas terbesar di dunia dinilai bukan sekadar pencapaian satu kota finansial. Fenomena ini mencerminkan pergeseran besar dalam peta ekonomi global: pusat gravitasi keuangan dunia perlahan bergerak dari Barat menuju Asia.
Selama puluhan tahun, kota-kota seperti Zurich, London, dan New York menjadi simbol dominasi finansial Barat. Bank-bank Eropa dan Amerika menguasai pengelolaan kekayaan global, sementara Asia lebih sering dipandang hanya sebagai pasar produksi dan manufaktur. Namun situasi itu kini mulai berubah drastis.
Pertumbuhan ekonomi Asia yang jauh lebih cepat dibanding banyak negara Barat membuat kawasan ini semakin dipenuhi kelas menengah baru, konglomerat, serta investor besar dengan kekayaan raksasa. China, India, Singapura, dan negara-negara Asia lainnya kini bukan hanya pusat perdagangan, tetapi juga mulai menjadi sumber utama aliran modal dunia.




