Di tengah kontroversi yang muncul, daging sapi kurban Presiden Prabowo Subianto cukup mengobati kerinduan masyarakat kurang mampu untuk makan daging. Hal itu dirasakan oleh para warga di permukiman padat di kawasan Lorong Oxindo, Kelurahan Satu Ulu, Kecamatan Seberang Ulu Satu, Kota Palembang, Sumatera Selatan.
Selama ini, kebanyakan warga di sana hanya makan daging saat Idul Adha dengan jumlah yang terbatas. Dengan adanya sapi kurban Presiden yang berbobot sekitar 1 ton, warga bisa menikmati daging lebih banyak dari biasanya.
Salah satu warga penerima daging sapi kurban Presiden itu adalah warga RT 29, RW 05, Satu Ulu, Juwita (70). Ditemani cucunya, Anisa Kasturi (8), Juwita berjalan pelan tetapi pasti menuju lokasi pembagian daging sapi kurban Presiden yang berjarak sekitar 50 meter dari rumahya.
Usai menerima sekantong berisi daging, tulang, dan gajih berbobot sekitar 1 kilogram, mata Juwita berbinar. Terpancar keceriaan dari wajahnya yang mulai keriput. Bagi Juwita, daging kurban itu sangatlah berarti.
Selama ini, Juwita hanya kerja sebagai buruh pembersih ikan dengan upah maksimal Rp 30.000 per hari. Upah itu hanya cukup untuk makan sehari-hari dirinya, cucunya, dan anaknya. Menu makan yang tersaji pun sederhana saja. Ada lauk ikan sudah sangat luar biasa. Daging nyaris tidak pernah tersaji di meja makannya.
Praktis, keluarga Juwita hanya makan daging sekali setahun dari pembagian daging kurban Idul Adha. Sejauh ini, daging yang diterima seadanya saja. Sering kali, dia hanya dapat satu kantong daging kurban dengan bobot rata-rata 0,5 kilogram.
Namun, berkat kehadiran sapi kurban Presiden, Juwita bisa mendapatkan daging kurban lebih banyak dari biasanya. Selain sekantong daging dari sapi kurban Presiden, dia pun akan mendapatkan sekantong daging dari sapi kurban warga yang dijadwalkan disembelih pada hari kedua Idul Adha.
”Kami orang tidak mampu. Kalau bukan dari daging kurban, kami nyaris tidak pernah makan daging karena tidak mampu membelinya. Makanya, saya senang sekali bisa dapat daging sapi kurban dari Presiden yang isinya lebih banyak dari biasanya saya dapat. Dengan ini, saya juga bisa dapat dua kantong daging kurban di tahun ini.,” ujar Juwita saat ditemui, Rabu (27/5/2026).
Akan tetapi, mirisnya, Juwita belum bisa langsung mengolah daging sapi kurban Presiden tersebut. Sebab, Juwita belum punya uang untuk membeli bumbu masak. ”Daging ini belum bisa langsung dimasak. Saya harus kumpulin duit dulu untuk beli bumbu masaknya,” kata Juwita.
Senyum semringah turut terpancar dari warga RT 29, RW 05, Satu Ulu, M Nasir (64), usai menerima dua kantong daging sapi kurban Presiden. Dua kantong daging itu untuk keluarga Nasir dan keluarga anaknya. Sama seperti Juwita, daging kurban itu sangat spesial untuk Nasir.
Selama ini, Nasir hanya mengantungkan hidup dari usaha warung kelontongnya. Keuntungan bersih dari warung itu tidak sampai Rp 100.000 per hari. Hasil keuntungan itu hanya cukup untuk makan sehari-hari Nasir dan istrinya, serta memutar kembali usaha warung tersebut.
Nasir agak lebih beruntung daripada Juwita. Setidaknya, Nasir masih bisa makan daging sekali dalam sebulan. Namun, dengan adanya daging sapi kurban Presiden, keluarga Nasir bisa makan daging dalam beberapa hari ke depan. ”Rencananya daging ini mau kami olah jadi rendang atau pindang,” tutur Nasir penuh semangat.
Ketua RT 29, RW 05, Satu Ulu, Omah Irama (48), mengatakan, sapi kurban Presiden itu menjadi hewan kurban pertama dalam sejarah yang disumbangkan pejabat ke permukiman mereka. Kehadiran sapi kurban Presiden itu pun sangat mengagetkan.
Para ketua RT di kawasan Satu Ulu tiba-tiba dihubungi oleh pihak Pemerintah Kota Palembang bahwa sapi kurban Presiden akan didistribusikan ke kawasan tersebut. Informasi itu diterima tiga hari sebelum Idul Adha.
”Dari sekian banyak tempat, kami tidak menyangka permukiman kami terpilih untuk menerima sapi kurban Presiden. Kami sangat kaget dan bersyukur. Karena itu, kami sempat membuat pengajian syukuran di rumah ustad di sini yang dihadiri oleh sejumlah warga. Itu tanda terima kasih karena kami dapat perhatian dari Presiden,” ujar Omah.
Menurut Omah, pendistribusian sapi kurban Presiden ke kawasan Satu Ulu adalah keputusan yang sangat tepat. Sebab, kondisi ekonomi mayoritas warga di sana merupakan kelas menengah ke bawah. Sebagian besar warga berprofesi sebagai buruh harian lepas, terutama di sektor pembersih ikan dan membantu berjualan di pasar.
Karena perekonomian masyarakat yang terbatas, tradisi berkurban di sana pun tidak semeriah tempat-tempat lain. Umumnya, hewan kurban di sana terdiri dari satu sapi dan dua kambing, seperti yang terjadi tahun lalu. Saat itu, hewan kurban tersebut hanya dibagikan kepada beberapa warga yang memang sangat tidak mampu. Setiap kantong daging pun hanya berbobot 50-100 gram.
Akan tetapi, berkat kehadiran sapi kurban Presiden, banyak warga yang bisa merasakan hewan kurban dengan jumlah yang lebih banyak dari biasanya. ”Ekonomi warga di sini sangat terbatas. Jarang sekali warga di sini bisa menikmati daging. Makanya, kehadiran sapi kurban Presiden ini sangat mengobati kerinduan warga untuk menyantap daging,” tutur Omah.
Ketua Pengurus Mushala Nurul Huda di RT 29 RW 05, Satu Ulu, Mahibat (62), menuturkan, sapi kurban Presiden itu diberi nama Panda dengan jenis Simental. Sapi itu memiliki bobot sekitar 1 ton. Setelah disembelih dan dibersihkan oleh 11 petugas, sapi itu menghasilkan daging, tulang, dan gajih sekitar 400 kilogram.
Semua hasil dari sapi kurban Presiden itu dibagikan kepada masyarakat dalam 400 kantong dengan bobot setiap kantong 1 kilogram. Para warga yang menerima mencapai 400 orang atau keluarga yang berasal dari 34 RT di sekitar Satu Ulu.
”Kami berusaha membagikan setiap bagian tubuh sapi kurban Presiden kepada masyarakat di sekitar Mushala Nurul Huda, terutama warga yang tidak mampu. Kami berusaha semaksimal mungkin agar kebahagiaan mendapatkan sapi kurban Presiden ini bisa dirasakan semua warga, terlebih yang sangat membutuhkan,” tutur Mahibat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumsel Ruzuan Efendi mengatakan, sapi kurban dari Presiden didistribusikan merata ke 17 kabupaten/kota dan satu untuk provinsi. Sapi-sapi itu terdiri dari tiga jenis, yakni Simental, Limosin, dan Brangus. Setiap sapi memiliki bobot rata-rata 1 ton.
Namun, ada tujuh sapi yang memiliki bobot di atas 1 ton, yakni masing-masing seekor di Masjid Raya Taqwa Palembang, di Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Ogan Komering Ulu Selatan, Pagaralam, Banyuasin, dan Lubuklinggau. Di antara semua sapi tersebut, sapi Arjuna untuk Masjid Raya Taqwa menjadi yang terberat di Sumsel.
Ruzuan menyebutkan, ini menjadi tahun kedua Presiden membagikan sapi kurban ke semua kabupaten/kota di Indonesia. Sebelumnya, Presiden hanya membagikan satu ekor sapi kurban per provinsi.
Tujuan pembagian sapi kurban ke semua kabupaten/kota adalah untuk berbagi kebahagiaan dengan masyarakat yang membutuhkan. Oleh karena itu, sapi-sapi tersebut tidak didistribusikan di masjid-masjid utama di setiap kabupaten/kota, melainkan ke masjid atau mushala yang sekitarnya banyak warga yang membutuhkan atau di sekitar lingkungan ekonomi menengah bawah.
Di Palembang contohnya, dua sapi presiden tidak didistribusikan ke Masjid Agung Palembang. Sebaliknya, seekor sapi untuk provinsi didistribusikan ke Masjid Raya Taqwa dan seekor sapi untuk kota didistribusikan ke Mushala Nurul Huda di kawasan Satu Ulu.
”Presiden ingin ada pemerataan pembagian daging sapi kurban untuk warga-warga yang memang membutuhkan. Untuk itu, sapi-sapi kurban Presiden tidak didistribusikan ke masjid-masjid utama di setiap kabupaten/kota,” ujar Ruzuan.
Selain itu, Ruzuan menuturkan, sapi-sapi kurban Presiden berasal dari peternakan lokal di masing-masing kabupaten/kota. Hal itu diharapkan bisa mempromosikan potensi peternakan lokal dan memotivasi peternak lokal dalam menghasilkan ternak berkualitas.
”Presiden minta sapi kurban itu diambil dari peternak-peternak lokal. Tujuannya, untuk memberikan keberkahan bagi peternak lokal dan memacu semangat mereka untuk terus menghasilkan ternak-ternak berkualitas,” kata Ruzuan.
Sapi kurban Presiden boleh jadi menimbulkan kontroversi. Kendati demikian, pemberian sapi kurban itu telah mengungkap realita bahwa kesulitan ekonomi menyebabkan banyak warga yang begitu merindukan menyantap daging. Sapi kurban Presiden menjadi setitik kebahagiaan yang lama dirindukan tak sedikit warga.
Kami berusaha semaksimal mungkin agar kebahagiaan mendapatkan sapi kurban Presiden ini bisa dirasakan semua warga, terlebih yang sangat membutuhkan





