Grid.ID - Masyarakat baru-baru ini resah dengan teror pocong bersenjata di Bandung Barat. Polisi ungkap fakta sebenarnya.
Warga Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, dilanda kepanikan usai beredarnya foto pocong membawa senjata tajam di media sosial. Manusia berpakaian pocong tersebut dikabarkan melakukan modus kejahatan menggunakan senjata parang.
Foto dan video pocong itu pun berseliweran di media sosial dengan narasi menakutkan. Disebutkan bahwa pocong tersebut mendatangi rumah-rumah warga pada larut malam dengan senjata tajam.
Polisi kemudian melakukan rangkaian penyelidikan atas teror pocong bersenjata di Bandung Barat tersebut. Dari hasil penyelidikan, terungkap fakta bahwa foto-foto yang beredar adalah hoax alias editan dengan teknologi AI.
"Hasil penyelidikan kita, ternyata itu konten buatan warga Ngamprah, jadi itu foto pocong hasil dari AI," kata Kasat Reskrim Polres Cimahi, AKP Teguh Kumara, dikutip dari Tribun Jabar.
Terungkap bahwa teror tersebut dibuat oleh sejumlah remaja. Polisi pun telah mengamankan beberapa pelaku yang membuat konten tersebut dan telah dimintai keterangan.
"Untuk pelaku pembuat foto pocong dari AI benar merupakan warga Ngamprah," ungkapnya.
Usai meminta klarifikasi dari pelaku, polisi juga melakukan pendataan dan pembinaan agar mereka tidak kembali melakukan hal serupa di kemudian hari.
"Untuk sementara pelaku akan dilakukan pendataan dan pembinaan," lanjutnya.
Kasi Humas Polres Cimahi, Iptu Gofur Supangkat mengatakan bahwa kepolisian telah menerima informasi tentang teror pocong di wilayah Cimahi, Kabupaten Bandung Barat. Meski begitu, hingga saat ini belum ada laporan resmi dari warga mengenai tindak kejahatan dengan modus pocong.
Pihaknya juga telah melakukan identifikasi lokasi-lokasi dalam foto-foto teror pocong yang tersebar di media sosial.
"Kita sedang penyelidikan, termasuk mengecek langsung TKP," lanjutnya.
Lebih lanjut, Gofur mengimbau kepada masyarakat untuk segera melapor ke polisi jika mengalami teror tersebut.
"Kita imbauan sudah ada agar waspada, tapi sejauh ini belum ada laporan dari korban, kalau ada segera lapor," pungkasnya.
Diketahui bahwa teror pocong bersenjata di Bandung Barat baru-baru ini meresahkan warga. Menurut narasi yang beredar, teror pocong ini telah tersebar di beberapa daerah, dari Ngamprah, Padalarang, Cipatat, hingga Cikalongwetan.
Pocong tersebut dikabarkan mendatangi rumah-rumah warga pada tengah malam dan mengetuk pintu atau jendela. Disebutkan bahwa hal itu adalah langkah awal dari tindakan kriminal dari sekelompok penjahat.
Akan tetapi dari hasil penyelidikan polisi, terungkap bahwa foto-foto pocong bersenjata tersebut adalah hoax. Hingga kini polisi belum menemukan fakta lapangan adanya sosok menyerupai pocong yang membawa senjata.
Tanggapan Psikolog
Isu tentang teror pocong yang tersebar di sejumlah wilayah baru-baru ini mendapat sorotan dari banyak pihak. Isu tersebut terus berulang meski pelaku penyebar hoax telah ditindaklanjuti.
Psikolog sekaligus Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Rose Mini Agoes Salim, memberikan tanggapannya atas fenomena sosial yang terjadi. Menurutnya, tak hanya kepada pelaku, masyarakat seharusnya juga harus dibekali cara berpikir kritis serta literasi digital agar situasi ini tidak kembali terulang.
“Berpikir kritis itu adalah kemampuan orang menerima informasi tapi bisa menganalisanya apakah informasi ini patut diterima, tolak atau ditangguhkan dulu,” ujar Rose, dikutip dari Kompas.com.
Rose berpesan agar masyarakat tidak langsung menyebarluaskan informasi tanpa berpikir lebih dalam mengenai kebenaran informasi tersebut.
“Nah ini kan harusnya orang mikir benar apa tidak dan sebagainya. Jangan kemudian pada satu berita yang sudah betul memang tidak benar itu di-share ke mana lagi, ke mana lagi, sehingga kemudian jadi viral akibatnya gitu,” jelasnya.
Menurut Rose, berita hoax dibuat sensasional untuk menarik perhatian publik dan memancing emosi masyarakat. Seharusnya, masyarakat perlu mendapatkan edukasi untuk menelaah setiap informasi yang diterima sebelum disebarluaskan.
“Nah ini yang harus dikasih edukasi adalah masyarakat secara umum. Jadi segala sesuatu yang viral dan itu ternyata hoax memang dibuat sedemikian rupa untuk mencari sensasinya,” kata Rose.
“Kita harus punya kemampuan untuk berpikir kritis, kemampuan untuk menerima informasi tidak seperti apa adanya tetapi ditelaah dulu apakah ini patut diterima, apakah ditolak atau kemudian kita tidak memberikan tanggapan apa-apa dulu gitu dan tidak di-share," pungkasnya.
Senada dengan Rose, seorang Sosiolog, Rakhmat Hidayat juga memberikan pandangan serupa. Menurutnya, teror mistis yang menghantui masyarakat tidak cukup berhenti pada pemberian klarifikasi.
“Langkah menghadapi fenomena seperti ini tidak cukup hanya dengan membubarkan atau memberikan klarifikasi,” kata Rakhmat.
Ia pun berpendapat bahwa masyarakat seharusnya tidak boleh langsung menyebarkan informasi tanpa verifikasi dan harus membiasakan untuk mengecek fakta.
Fenomena teror pocong dan isu mistis ini tak luput dari budaya sensasionalisme di media sosial yang masih tinggi. Oleh sebab itu, diharapkan masyarakat dapat mengelola rasa takut dan berpikir secara rasional agar tidak menimbulkan kepanikan massal.
“Budaya sensasionalisme di media sosial masih tinggi,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Rakhmat juga menyebut bahwa aparat kepolisian memiliki peran penting untuk meredam keresahan masyarakat. Dalam hal ini, petugas harus bergerak cepat untuk menghentikan teror yang terjadi dan menindak pelaku.
“Aparat perlu bergerak cepat memberikan klarifikasi resmi, menjaga komunikasi terbuka dengan warga, melakukan patroli agar rasa aman terjaga, serta menindak oknum yang sengaja membuat keresahan publik,” ujar dia. (*)
Artikel Asli




