Saham Konglomerat Paling Terpukul Sejak Awal 2026: DSSA, RISE, hingga TPIA

idxchannel.com
7 jam lalu
Cover Berita

Deretan saham yang terafiliasi dengan konglomerat besar Indonesia menjadi kelompok yang paling terpukul sepanjang tahun berjalan (year to date/YTD) per Selasa (

Saham Konglomerat Paling Terpukul Sejak Awal 2026: DSSA, RISE, hingga TPIA. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Deretan saham yang terafiliasi dengan konglomerat besar Indonesia menjadi kelompok yang paling terpukul sepanjang tahun berjalan (year to date/YTD) per Selasa (26/5/2026).

Tekanan besar terjadi setelah isu konsentrasi kepemilikan tinggi alias high shareholding concentration (HSC), keluarnya sejumlah saham dari indeks global, hingga anjloknya likuiditas memicu aksi jual masif di pasar.

Baca Juga:
Hadapi Aturan Ekspor Satu Pintu, MGRO Sesuaikan Operasional 

Saham PT Hillcon Tbk (HILL), yang terafiliasi dengan Hersan Qiu, tercatat menjadi yang paling dalam koreksinya dengan penurunan mencapai 89,86 persen YTD ke level Rp15 per unit.

Di bawahnya, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) milik Grup Sinarmas merosot 89,31 persen ke Rp432 per unit.

Baca Juga:
Rupiah Tergelincir ke Rp17.857 di Tengah Tekanan Global dan Polemik Ekspor 

Tekanan juga melanda saham-saham milik konglomerat lain. PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) yang terafiliasi dengan pengusaha Hermanto Tanoko dari Grup Tancorp jatuh 80,41 persen ke Rp1.195 usai sempat menembus Rp10.200 pada 27 Oktober 2025.

Sementara PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN), yang sebagian sahamnya diakuisisi Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo, merosot 78,74 persen ke Rp825.

Baca Juga:
Harga Tembaga Sentuh Level Terendah Sepekan, Konflik Timur Tengah Bayangi Pasar

Sorotan terbesar tertuju pada saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu.

Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) anjlok 78,42 persen ke Rp505, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turun 72,86 persen ke Rp1.900, dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) tergelincir 72,78 persen ke Rp2.640.

Selain faktor sentimen pasar, tekanan terhadap saham-saham konglomerasi tersebut juga dipicu revisi aturan indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau HSC.

Kebijakan baru itu membuat sejumlah saham jumbo berisiko keluar dari indeks utama seperti LQ45 dan IDX80.

Tidak hanya dari dalam negeri, tekanan juga datang dari indeks global. MSCI pada review Mei 2026 menghapus beberapa saham yang terafiliasi konglomerat besar Indonesia dari MSCI Global Standard Index, termasuk BREN, TPIA, DSSA, dan CUAN.

FTSE Russell juga menghapus DSSA dari kategori Large Cap Index dalam evaluasi terbarunya, efektif mulai 22 Juni 2026.

Langkah itu dinilai berpotensi memicu outflow dana pasif asing dan memperburuk tekanan likuiditas saham terkait. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
4 Orang Sekeluarga Ditemukan Tewas di Tempat Wisata Temanggung
• 1 jam lalukompas.id
thumb
Drama Bintang Persija Maxwell Souza! Tiba-tiba Batal Gabung Persib, Ternyata Takut Dicap Pengkhianat
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Live TikTok Pocong Jadi-jadian, Tiga Pelajar Sragen Diamankan Polisi
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Geger Bos Besar Raksasa Energi Inggris British Petroleum Dipecat
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Ekonom Beberkan Faktor Penentu Rupiah Bisa Menguat Kembali ke Rp 16.000/Dolar AS
• 20 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.