Kerja sama China-Indonesia fokus pada manufaktur cerdas & berlanjutan

antaranews.com
3 jam lalu
Cover Berita
Xiamen (ANTARA) - Forum Kemitraan Revolusi Industri Baru BRICS 2026 dibuka pada Rabu (27/5) di Xiamen, Provinsi Fujian, China tenggara, dengan dihadiri oleh para perwakilan dari departemen pemerintah, perusahaan, dan organisasi internasional dari 27 negara.

Selama forum tersebut berlangsung, kerja sama antara China dan Indonesia terus diperdalam. Perusahaan-perusahaan China berinvestasi dan membangun pabrik di Indonesia, sementara perusahaan Indonesia membawa proyek mereka ke China untuk mencari mitra kerja sama.

Kolaborasi kedua negara berfokus pada manufaktur cerdas, industri hijau, dan pembangunan berkelanjutan.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Republik Indonesia (RI) Tri Supondy menyampaikan pidato pada upacara pembukaan forum tersebut.

Dia mengatakan bahwa perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini, seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), internet industri, teknologi robotika, dan mahadata (big data), sedang membentuk ulang industri manufaktur global.

"Bagi negara-negara Global South, transformasi ini menjadi hal yang mendesak. Kita perlu meningkatkan pengembangan sumber daya manusia, memperkuat kerja sama internasional, dan memperbarui teknologi. Indonesia percaya tidak ada satu negara pun yang dapat menjalani transformasi ini sendirian," ujarnya.

Dia juga memperkenalkan peta jalan nasional bertajuk "Making Indonesia 4.0" dan menyerukan penguatan kerja sama di antara negara-negara BRICS.

"Kami percaya bahwa melalui kerja sama dalam mengembangkan teknologi cerdas, menetapkan standar cerdas, dan membina talenta-talenta unggul, kita dapat membangun lanskap industri yang siap menghadapi masa depan serta memastikan revolusi industri baru membawa kemajuan yang inklusif, berkelanjutan, dan adil bagi seluruh negara," kata Tri Supondy.

Tri Supondy juga membagikan data terbaru sektor manufaktur Indonesia. Pada kuartal pertama 2026, sektor manufaktur Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 5,0 persen dan menyumbang lebih dari 19 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Pada Januari hingga Februari 2026, ekspor manufaktur menyumbang lebih dari 80 persen dari total ekspor Indonesia.

Menurutnya, pencapaian tersebut menegaskan pentingnya pembangunan industri bagi transformasi ekonomi jangka panjang Indonesia.


Kepala Pusat Kebijakan Strategis Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) RI Oki Suryowahono mengatakan kepada Xinhua bahwa perekonomian China menunjukkan kinerja yang kuat berkat penggunaan teknologi yang sangat maju.


"Kami berharap dapat bekerja sama dengan berbagai produsen dari China, khususnya di bidang teknologi. Kami tidak ingin hanya menjadi konsumen, tetapi juga ingin menjadi produsen," ujar Suryowahono. Berdasarkan informasi proyek yang disediakan CATL, proyek baterai terintegrasi di Indonesia tersebut mulai dibangun pada 30 Juni 2025 dengan nilai investasi hampir 6 miliar dolar AS dan luas lahan lebih dari 2.000 hektare, mencakup seluruh rantai nilai baterai.


Zeng Yuqun, pendiri sekaligus ketua dan CEO Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL), dalam pidato utamanya di forum tersebut menggunakan proyek di Indonesia sebagai contoh untuk menjelaskan bagaimana negara-negara BRICS dapat mengubah keunggulan sumber daya menjadi keunggulan industri.

Menurut Zeng, CATL bersama perusahaan tambang milik negara Indonesia ANTAM dan Indonesia Battery Corporation (IBC) membentuk konsorsium dengan total investasi hampir 6 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.743) untuk membangun proyek rantai industri baterai kendaraan listrik yang mencakup penambangan dan peleburan nikel, material baterai, produksi baterai, hingga daur ulang baterai.

Proyek tersebut diperkirakan dapat menciptakan lebih dari 8.000 lapangan kerja langsung dan 35.000 lapangan kerja tidak langsung. Pemerintah Indonesia menyebut proyek itu sebagai kerja sama penting tingkat pertama yang memberikan manfaat bagi semua pihak.

Dia menegaskan bahwa revolusi industri baru bukan sekadar peningkatan sederhana dari industri tradisional, melainkan transformasi industri yang didorong secara bersamaan oleh teknologi hijau dan kecerdasan.

"Bagi negara-negara BRICS, teknologi nol karbon bukanlah beban, melainkan peluang baru untuk meningkatkan daya saing di masa depan," ujar Zeng.







Berdasarkan informasi proyek yang disediakan CATL, proyek baterai terintegrasi di Indonesia tersebut mulai dibangun pada 30 Juni 2025 dengan nilai investasi hampir 6 miliar dolar AS dan luas lahan lebih dari 2.000 hektare, mencakup seluruh rantai nilai baterai. Evlin Marcelline menjelaskan bahwa perusahaannya telah menjalankan sistem backend rumah sakit, sistem informasi rumah sakit, dan layanan otomatisasi di Indonesia. Namun, saat ini, mereka menghadapi tantangan dalam pembangunan infrastruktur rumah sakit dan AI.


Pabrik baterai fase pertama di Karawang akan memiliki kapasitas produksi tahunan sebesar 6,9 GWh. Proyek itu juga akan membangun sistem sirkulasi energi terbarukan pertama di Indonesia dengan tingkat daur ulang logam lebih dari 95 persen. Setelah beroperasi penuh, proyek tersebut diperkirakan mampu memproduksi 142.000 ton nikel dan 30.000 ton material katode per tahun, serta mengolah sekitar 20.000 ton baterai bekas setiap tahun.

Perusahaan "Fortune Global 500" asal Xiamen, Xiangyu Group, juga telah lama mengembangkan bisnisnya di Indonesia. Grup tersebut membangun proyek peleburan terintegrasi baja tahan karat dengan kapasitas tahunan 2,5 juta ton di Indonesia, yang menggabungkan teknologi dan pasar dari China dengan keunggulan sumber daya Indonesia.

Hingga Desember 2025, proyek tersebut telah mendorong nilai perdagangan impor dan ekspor lebih dari 20,8 miliar dolar AS dan secara langsung menciptakan sekitar 12.000 lapangan kerja lokal, sekaligus membangun rantai industri internasional yang saling menguntungkan antara China dan Indonesia.

Xiangyu Group juga aktif berkontribusi bagi masyarakat setempat dengan memasang jaringan pipa air bersih ke desa-desa sekitar kawasan industri, memanfaatkan limbah terak besi hasil produksi untuk membangun jalan di 10 desa sekitar, serta menjalankan program pendidikan "Bantuan 100 Siswa" dan "Pengembangan 1.000 Talenta", sehingga menjadi pendorong hubungan antarmasyarakat dalam mekanisme kerja sama BRICS.

Dalam kegiatan akselerator inovasi lintas negara BRICS "Plug and Play", Evlin Marcelline, sebagai CEO perusahaan teknologi asal Indonesia PT Nusantara Innovation Global, mengatakan bahwa proyek yang dibawanya berfokus pada sistem manajemen pintar rumah sakit, dan tujuan kedatangannya ke Xiamen sangat jelas, yakni mencari mitra strategis.









Evlin Marcelline menjelaskan bahwa perusahaannya telah menjalankan sistem backend rumah sakit, sistem informasi rumah sakit, dan layanan otomatisasi di Indonesia. Namun, saat ini, mereka menghadapi tantangan dalam pembangunan infrastruktur rumah sakit dan AI. Setelah melalui proses seleksi selama setengah tahun, sebanyak 20 proyek unggulan dipilih dari 136 proposal untuk mengikuti kegiatan akselerasi luring selama 10 hari di Xiamen pada 21-30 Mei tahun ini.


"Saya berharap dapat menemukan mitra di Xiamen dan juga berencana membuka kantor di sini untuk memahami regulasi dan kebijakan di China maupun Xiamen," ujar Evlin.

"Saat ini, kami telah mencapai kesepakatan dengan sejumlah rumah sakit di Indonesia dan menyelesaikan verifikasi konsep awal. Kami berharap dapat menemukan mitra dari China dalam waktu kurang dari enam bulan untuk menjalankan proyek percontohan di Indonesia. Setelah itu, kami mungkin akan membentuk usaha patungan atau melakukan kerja sama yang lebih mendalam," tuturnya.

Menurut Direktur Eksekutif Pusat Layanan Terpadu Inkubator Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Era Baru China-BRICS Lin Zhiqiang, program akselerator inovasi lintas negara BRICS mulai merekrut peserta secara global sejak Desember 2025. Program tersebut telah menggelar lebih dari 10 kegiatan daring dan luring di enam negara, termasuk Brasil, Rusia, dan Arab Saudi, dengan melibatkan lebih dari 500 perusahaan luar negeri, lembaga penelitian, dan inkubator inovasi.









Setelah melalui proses seleksi selama setengah tahun, sebanyak 20 proyek unggulan dipilih dari 136 proposal untuk mengikuti kegiatan akselerasi luring selama 10 hari di Xiamen pada 21-30 Mei tahun ini


Sebanyak 20 proyek inovasi yang terpilih berasal dari 10 negara, termasuk Brasil, Rusia, Afrika Selatan, dan Jerman. Proyek-proyek tersebut mencakup bidang biomedis dan kesehatan, energi baru, peralatan pintar dan manufaktur maju, serta platform digital dan layanan cerdas. Proyek milik Evlin menjadi salah satu di antaranya.






Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Oknum Lurah di Sulsel Digerebek Ngamar Bareng Staf Wanita di Penginapan
• 8 jam laludetik.com
thumb
Trump Ancam Ledakkan Oman Terkait Kendali Selat Hormuz
• 2 jam lalukatadata.co.id
thumb
Get The Look: Inspirasi Cool Girl Outfit ala Charlotte Olivia
• 3 jam lalubeautynesia.id
thumb
3 Wisata Anak Sekolah Lokasinya Tidak Jauh dari Jakarta
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Marc Klok Bicara Hattrick Juara Persib Bandung: Bakal Terkenang Sampai Mati
• 10 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.