Ruang konseling bukan lagi satu-satunya tempat kerja psikolog puskesmas di Kota Yogyakarta. Kini mereka hadir di sekolah, kantor urusan agama, hingga komunitas lansia, menyambangi masyarakat alih-alih sekadar menunggu mereka datang.
Selain jemput bola, Kepala Puskesmas Gondomanan, Fajar Meitaharti, menyebut tugas psikolog di puskesmas saat ini memang sudah jauh melampaui tugas klinis sehari-hari, mulai dari rapat hingga menjadi pengisi acara.
“Belum kalau mereka harus ke sekolah, mereka diminta ngisi (acara atau seminar terkait kesehatan mental) sana, ngisi sini, rapat,” tutur Fajar.
Terkait praktik jemput bola, Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Lana Unwanah, menyebut salah satu bentuknya yakni berupa pelatihan peer counselor di sekolah-sekolah. Lewat program ini, siswa dilatih untuk menjadi teman sebaya yang mampu mendengar dan membantu rekan-rekannya yang menghadapi tekanan psikologis.
"Kita di sekolah itu kan juga ada anak-anak yang bisa berperan sebagai teman sebaya ya, peer counselor gitu. Kita mulai melatih itu mulai 2023," jelas Lana. Usai pelatihan, dilakukan monitoring rutin terhadap sekolah-sekolah tersebut agar program ini bisa terus berlanjut.
Dalam menjalankan program ini, Dinas Kesehatan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk mengidentifikasi sekolah mana yang paling mendesak mendapat intervensi bantuan psikolog.
"Kita kerja sama dengan Dinas Pendidikan, jadi kita sampaikan nih kita butuh empat sekolah yang mungkin kira-kira yang mendesak banyak persoalan di SMP mana gitu. Data itu kita dapatkan dari Dinas Pendidikan," jelas Lana.
Persoalan yang dihadapi siswa, lanjut Lana, jauh lebih beragam dari yang tampak di permukaan. Contohnya yakni tekanan akademik, konflik dengan guru, hingga masalah di lingkungan keluarga.
Selain menyasar remaja di sekolah, layanan psikolog puskesmas juga menjangkau calon pengantin. Psikolog Klinis Puskesmas Gondomanan, Annisa Hartono, menjelaskan bahwa pasangan yang hendak menikah akan mendapat pengantar dari KUA untuk menjalani pemeriksaan kesehatan di puskesmas, termasuk sesi dengan psikolog.
Dalam sesi tersebut, psikolog akan menggali pola komunikasi, kemampuan resolusi konflik, serta kesiapan masing-masing pihak dalam menerima pasangannya.
"Yang dicari adalah pola komunikasinya bagaimana, resolusi konflik mereka itu seperti apa, terus kayak sudah sejauh apa sih sikap penerimaannya mereka terhadap satu sama lain," jelas Annisa.
Dampak dari pendekatan proaktif ini mulai terlihat.
Sebagai psikolog, Annisa melihat langsung dampak dari pendekatan ini. Ia pernah mendapati seorang lansia yang datang sendiri ke puskesmas untuk menemui psikolog. Hal ini dianggapnya sebagai bentuk nyata tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan jiwa.
"Ada lansia datang sendiri, atas kemauannya sendiri. Itu kan luar biasa ya sebenarnya, lansia yang punya kesadaran bahwa, oh, ada yang perlu kuselesaikan nih," kata Annisa.





