Suasana pagi yang tenang di sebuah lahan pertanian berbukit di pelosok Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mendadak berubah riuh oleh gonggongan anjing dan teriakan para pemburu.
Aktivitas berburu babi hutan yang dilakukan komunitas perantau asal Sumatera Barat itu kembali digelar sebagai tradisi sekaligus upaya membantu warga mengendalikan hama liar perusak kebun.
Matahari mulai meninggi saat belasan anjing pemburu dilepaskan menuju semak-semak dan lahan berbatu. “Atua… atua!,” teriak para pemburu dalam bahasa Minang sembari melepas tali pengikat anjing mereka.
Bak lomba lari lintas alam, anjing-anjing itu melesat mengejar target yang diyakini berada di balik rimbunnya tanaman. Para pemburu ikut berlari menyusuri medan berbatu dan semak belukar demi mengejar babi hutan yang menjadi sasaran.
Kurang dari 30 menit perburuan berlangsung, seekor babi hutan akhirnya terkepung oleh belasan anjing. Hewan liar itu tak mampu lolos dari gigitan anjing-anjing pemburu hingga akhirnya mati di lokasi.
Tiga orang pemburu kemudian bergegas menarik bangkai babi hutan dari kerumunan anjing. Salah seorang pemburu, Habibi, mengatakan bangkai harus segera diambil agar kualitas daging tidak rusak.
Sebagian hasil buruan dijual kepada komunitas masyarakat tertentu untuk dikonsumsi. Namun ada pula pemburu yang membuang bangkai babi hutan atau memanfaatkannya sebagai pakan anjing.
Komunitas pemburu tersebut tidak menetap di satu lokasi. Mereka berpindah-pindah mengikuti laporan warga yang lahannya dirusak babi hutan. Menurut Osri, aktivitas berburu juga dilakukan untuk membantu mengendalikan populasi babi hutan yang dianggap sebagai hama pertanian.





