Yogyakarta (ANTARA) - “Selamat Hari Raya Idul Adha ya, Ibu,” ujar Suster Joyce kepada seorang perempuan Muslim, usai pelaksanaan Shalat Idul Adha di Gumuk Pasir Parangkusumo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pagi itu.
Sapaan singkat itu disambut senyum hangat dari ibu-ibu yang duduk di dekatnya. Usai pelaksanaan shalat, Suster Joyce tampak berbincang ringan dengan mereka yang sedang merapikan mukena dan sajadah.
Tidak tampak jarak antara Suster Joyce dengan jamaah lain, meskipun pakaian biarawati yang dikenakannya terlihat kontras di tengah ratusan perempuan yang mengenakan mukena berwarna putih dan pastel.
Penerimaan hangat dari jamaah tersebut, seketika meruntuhkan dinding pembatas yang sempat ia rasakan.
“Perasaan sungkan atau asing menjadi cair, sehingga saya merasa menjadi bagian dari semua yang ada di lapangan,” ujar Suster Joyce.
Suster Joyce merupakan biarawati dari Kongregasi Puteri Reina Rosari, sekaligus mahasiswa Program Magister Islam Nusantara di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang datang ke Gumuk Pasir Parangkusumo untuk melakukan riset mengenai pelaksanaan Shalat Idul Adha di kawasan tersebut.
“Saya sedang meneliti bagaimana Shalat Id di Gumuk Pasir menjadi titik pertemuan antar-iman, budaya lokal, ruang alam, dan media digital,” katanya.
Sajadah hamparan pasir
Sejak pagi, kawasan Gumuk Pasir Parangkusumo memang telah dipenuhi ribuan orang yang datang untuk melaksanakan Shalat Idul Adha 1447 Hijriah. Sejuknya udara perlahan mulai menghilang ketika matahari terbit dari ufuk timur. Langit yang sebelumnya diselimuti warna keabu-abuan mulai berubah terang, sementara hamparan pasir perlahan diterpa cahaya fajar.
Di waktu yang sama, kumandang takbir terdengar bersahut-sahutan dari pengeras suara, memecah sunyinya kawasan gumuk pasir yang biasanya lebih dikenal sebagai objek wisata dan lokasi bermain jip wisata.
Permukaan pasir perlahan dipenuhi jejak kaki jamaah yang melangkah menanjak, meninggalkan bekas yang langsung hilang tersapu angin. Di sisi lain, deru mesin sepeda motor, mobil, hingga jip wisata terdengar silih berganti memasuki kawasan, hingga sedikit demi sedikit area yang semula lengang itu berubah menjadi lautan manusia.
Di tengah kepadatan itu, warna-warni sajadah mulai dibentangkan di atas hamparan pasir. Untuk mengantisipasi butiran pasir yang menembus kain, beberapa jamaah terlebih dahulu menggelar tikar plastik atau tikar bambu sebagai alas tambahan sebelum melaksanakan ibadah.
Ketika jamaah mulai berdiri dan merapikan saf, kesunyian yang khusyuk seketika menyelimuti kawasan gumuk tersebut. Takbir, doa, dan lantunan ayat suci yang berkumandang kemudian terdengar berpadu indah dengan deru angin dan ombak dari arah pantai selatan.
Di bawah langit yang mulai terasa hangat, anak-anak pun tampak antusias ikut di samping orang tua mereka di dalam saf. Atmosfer yang tercipta di sini terasa begitu berbeda, menawarkan kekhidmatan tersendiri dibanding pelaksanaan Shalat Idul Adha di masjid atau lapangan pada umumnya.
Umat Islam melaksanakan Shalat Idul Adha 1447 H di Gumuk Pasir, Parangkusumo, Bantul D.I Yogyakarta, Rabu (27/5/2026). ANTARA/Rahid Putra Laksana Menembus sekat
Kawasan Gumuk Pasir Parangkusumo menarik perhatian Suster Joyce untuk diteliti karena merupakan bentang alam unik di kawasan pesisir selatan yang sarat cerita dan mitos masyarakat. Shalat Idul Adha di lokasi tersebut menunjukkan bagaimana praktik ibadah dapat hadir dan menyatu dengan lanskap alam terbuka.
Kehadiran Suster Joyce di tengah jamaah kali ini sebenarnya bukanlah yang pertama. Ia mengenang, momen pertamanya menginjakkan kaki di gumuk pasir terjadi saat pelaksanaan Shalat Idul Fitri lalu, ketika rasa segan dan asing masih menyelimuti dirinya di antara ribuan Muslim.
“Ada rasa segan, sungkan, merasa asing, tapi senang melihat banyak orang beribadah dan turut merasakan sukacita teman-teman Muslim,” ujarnya.
Biarawati ini pertama kali mengetahui adanya pelaksanaan Shalat Id di gumuk pasir tersebut melalui unggahan di media sosial yang sempat viral, beberapa waktu lalu.
Bagi Suster Joyce, menyaksikan langsung suasana tersebut memberikan kesan yang jauh berbeda dibandingkan hanya melihatnya di layar kaca.
Ketika shalat mulai dilakukan, suster itu menyadari sebagai "yang lain" harus menghormati. Karena itu, dia berdiri diam sambil merasakan juga kekhusyukan ibadah. Dia ikut merasakan Tuhan sedang dimuliakan di hamparan pasir yang luas.
Setelah khatib selesai menyampaikan khotbah dari atas mimbar sederhana, suasana hangat langsung tercipta. Beberapa jamaah perempuan tampak duduk berdekatan dan mengajak Suster Joyce berfoto bersama. Momen spontan ini menjadi gambaran nyata betapa hidupnya toleransi dalam keseharian masyarakat Yogyakarta.
Ruang berjumpa
Senada dengan itu, Pendeta Risang Anggoro Elliarso, akademisi dari Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Marturia Yogyakarta, menilai bahwa memperbanyak interaksi antarumat beragama adalah salah satu cara paling efektif untuk melawan intoleransi.
Dari interaksi itu, yang semula orang asing, lalu menjadi tetangga, dan lama-lama bisa jadi sahabat, bahkan saudara.
Di Indonesia, perayaan hari besar keagamaan memang kerap tidak berhenti sebagai ritual ibadah semata. Momen ini menjelma menjadi ruang sosial tempat masyarakat saling menyapa dan hidup berdampingan.
Kementerian Agama, bahkan mencatat Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) Indonesia konsisten berada pada kategori tinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi masyarakat sekitar, Gumuk Pasir Parangkusumo adalah bukti nyata dari indeks tersebut. Tempat ini bukan sekadar lokasi wisata. Setiap Idul Adha maupun Idul Fitri, kawasan pesisir itu berubah menjadi wadah bersama tempat ribuan orang berkumpul untuk beribadah menghadap Tuhan Yang Maha Esa.
Suster Joyce merenungkan momen kebersamaan itu melalui sebuah refleksi filosofis yang mendalam.
Bagi dia, "Orang lain" adalah Tuhan yang tampak, sekaligus bagian dari dirinya dalam rupa yang lain.
Kalimat itu seolah menangkap dengan sempurna suasana yang ia rasakan pagi itu di Gumuk Pasir Parangkusumo. Di tengah ribuan Muslim yang datang untuk beribadah, seorang biarawati Katolik diterima tanpa jarak, duduk berdampingan, berbincang hangat, hingga saling mengucapkan selamat hari raya.
Hamparan pasir yang biasanya riuh oleh wisatawan dan kendaraan jip, pagi itu menjelma menjadi ruang pertemuan yang memperlihatkan wajah asli toleransi di Yogyakarta. Sebuah potret yang bukan hanya tentang perayaan keagamaan, tetapi juga tentang bagaimana manusia dapat saling menghormati dan hadir utuh satu sama lain di tengah perbedaan keyakinan.
Suster Joyce duduk di pinggir saf jamaah perempuan, seusai melaksanakan Salat Idul Adha 1447 H di Gumuk Pasir, Parangkusumo, Bantul, D.I Yogyakarta, Rabu (27/5/2026). ANTARA/Rahid Putra Laksana
Sapaan singkat itu disambut senyum hangat dari ibu-ibu yang duduk di dekatnya. Usai pelaksanaan shalat, Suster Joyce tampak berbincang ringan dengan mereka yang sedang merapikan mukena dan sajadah.
Tidak tampak jarak antara Suster Joyce dengan jamaah lain, meskipun pakaian biarawati yang dikenakannya terlihat kontras di tengah ratusan perempuan yang mengenakan mukena berwarna putih dan pastel.
Penerimaan hangat dari jamaah tersebut, seketika meruntuhkan dinding pembatas yang sempat ia rasakan.
“Perasaan sungkan atau asing menjadi cair, sehingga saya merasa menjadi bagian dari semua yang ada di lapangan,” ujar Suster Joyce.
Suster Joyce merupakan biarawati dari Kongregasi Puteri Reina Rosari, sekaligus mahasiswa Program Magister Islam Nusantara di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang datang ke Gumuk Pasir Parangkusumo untuk melakukan riset mengenai pelaksanaan Shalat Idul Adha di kawasan tersebut.
“Saya sedang meneliti bagaimana Shalat Id di Gumuk Pasir menjadi titik pertemuan antar-iman, budaya lokal, ruang alam, dan media digital,” katanya.
Sajadah hamparan pasir
Sejak pagi, kawasan Gumuk Pasir Parangkusumo memang telah dipenuhi ribuan orang yang datang untuk melaksanakan Shalat Idul Adha 1447 Hijriah. Sejuknya udara perlahan mulai menghilang ketika matahari terbit dari ufuk timur. Langit yang sebelumnya diselimuti warna keabu-abuan mulai berubah terang, sementara hamparan pasir perlahan diterpa cahaya fajar.
Di waktu yang sama, kumandang takbir terdengar bersahut-sahutan dari pengeras suara, memecah sunyinya kawasan gumuk pasir yang biasanya lebih dikenal sebagai objek wisata dan lokasi bermain jip wisata.
Permukaan pasir perlahan dipenuhi jejak kaki jamaah yang melangkah menanjak, meninggalkan bekas yang langsung hilang tersapu angin. Di sisi lain, deru mesin sepeda motor, mobil, hingga jip wisata terdengar silih berganti memasuki kawasan, hingga sedikit demi sedikit area yang semula lengang itu berubah menjadi lautan manusia.
Di tengah kepadatan itu, warna-warni sajadah mulai dibentangkan di atas hamparan pasir. Untuk mengantisipasi butiran pasir yang menembus kain, beberapa jamaah terlebih dahulu menggelar tikar plastik atau tikar bambu sebagai alas tambahan sebelum melaksanakan ibadah.
Ketika jamaah mulai berdiri dan merapikan saf, kesunyian yang khusyuk seketika menyelimuti kawasan gumuk tersebut. Takbir, doa, dan lantunan ayat suci yang berkumandang kemudian terdengar berpadu indah dengan deru angin dan ombak dari arah pantai selatan.
Di bawah langit yang mulai terasa hangat, anak-anak pun tampak antusias ikut di samping orang tua mereka di dalam saf. Atmosfer yang tercipta di sini terasa begitu berbeda, menawarkan kekhidmatan tersendiri dibanding pelaksanaan Shalat Idul Adha di masjid atau lapangan pada umumnya.
Umat Islam melaksanakan Shalat Idul Adha 1447 H di Gumuk Pasir, Parangkusumo, Bantul D.I Yogyakarta, Rabu (27/5/2026). ANTARA/Rahid Putra Laksana Menembus sekat
Kawasan Gumuk Pasir Parangkusumo menarik perhatian Suster Joyce untuk diteliti karena merupakan bentang alam unik di kawasan pesisir selatan yang sarat cerita dan mitos masyarakat. Shalat Idul Adha di lokasi tersebut menunjukkan bagaimana praktik ibadah dapat hadir dan menyatu dengan lanskap alam terbuka.
Kehadiran Suster Joyce di tengah jamaah kali ini sebenarnya bukanlah yang pertama. Ia mengenang, momen pertamanya menginjakkan kaki di gumuk pasir terjadi saat pelaksanaan Shalat Idul Fitri lalu, ketika rasa segan dan asing masih menyelimuti dirinya di antara ribuan Muslim.
“Ada rasa segan, sungkan, merasa asing, tapi senang melihat banyak orang beribadah dan turut merasakan sukacita teman-teman Muslim,” ujarnya.
Biarawati ini pertama kali mengetahui adanya pelaksanaan Shalat Id di gumuk pasir tersebut melalui unggahan di media sosial yang sempat viral, beberapa waktu lalu.
Bagi Suster Joyce, menyaksikan langsung suasana tersebut memberikan kesan yang jauh berbeda dibandingkan hanya melihatnya di layar kaca.
Ketika shalat mulai dilakukan, suster itu menyadari sebagai "yang lain" harus menghormati. Karena itu, dia berdiri diam sambil merasakan juga kekhusyukan ibadah. Dia ikut merasakan Tuhan sedang dimuliakan di hamparan pasir yang luas.
Setelah khatib selesai menyampaikan khotbah dari atas mimbar sederhana, suasana hangat langsung tercipta. Beberapa jamaah perempuan tampak duduk berdekatan dan mengajak Suster Joyce berfoto bersama. Momen spontan ini menjadi gambaran nyata betapa hidupnya toleransi dalam keseharian masyarakat Yogyakarta.
Ruang berjumpa
Senada dengan itu, Pendeta Risang Anggoro Elliarso, akademisi dari Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Marturia Yogyakarta, menilai bahwa memperbanyak interaksi antarumat beragama adalah salah satu cara paling efektif untuk melawan intoleransi.
Dari interaksi itu, yang semula orang asing, lalu menjadi tetangga, dan lama-lama bisa jadi sahabat, bahkan saudara.
Di Indonesia, perayaan hari besar keagamaan memang kerap tidak berhenti sebagai ritual ibadah semata. Momen ini menjelma menjadi ruang sosial tempat masyarakat saling menyapa dan hidup berdampingan.
Kementerian Agama, bahkan mencatat Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) Indonesia konsisten berada pada kategori tinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi masyarakat sekitar, Gumuk Pasir Parangkusumo adalah bukti nyata dari indeks tersebut. Tempat ini bukan sekadar lokasi wisata. Setiap Idul Adha maupun Idul Fitri, kawasan pesisir itu berubah menjadi wadah bersama tempat ribuan orang berkumpul untuk beribadah menghadap Tuhan Yang Maha Esa.
Suster Joyce merenungkan momen kebersamaan itu melalui sebuah refleksi filosofis yang mendalam.
Bagi dia, "Orang lain" adalah Tuhan yang tampak, sekaligus bagian dari dirinya dalam rupa yang lain.
Kalimat itu seolah menangkap dengan sempurna suasana yang ia rasakan pagi itu di Gumuk Pasir Parangkusumo. Di tengah ribuan Muslim yang datang untuk beribadah, seorang biarawati Katolik diterima tanpa jarak, duduk berdampingan, berbincang hangat, hingga saling mengucapkan selamat hari raya.
Hamparan pasir yang biasanya riuh oleh wisatawan dan kendaraan jip, pagi itu menjelma menjadi ruang pertemuan yang memperlihatkan wajah asli toleransi di Yogyakarta. Sebuah potret yang bukan hanya tentang perayaan keagamaan, tetapi juga tentang bagaimana manusia dapat saling menghormati dan hadir utuh satu sama lain di tengah perbedaan keyakinan.
Suster Joyce duduk di pinggir saf jamaah perempuan, seusai melaksanakan Salat Idul Adha 1447 H di Gumuk Pasir, Parangkusumo, Bantul, D.I Yogyakarta, Rabu (27/5/2026). ANTARA/Rahid Putra Laksana





