Tekanan Harga Properti, Perbankan Komitmen Dukung Pertumbuhan di Sulsel

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, MAKASSAR - Sejumlah perbankan nasional menunjukkan komitmennya untuk menjaga penetrasi pertumbuhan sektor properti di Sulawesi Selatan (Sulsel), meskipun industri real estat dibayangi kenaikan harga material imbas pelemahan kurs rupiah.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI, misalnya, belum lama ini menjalin kerja sama dengan 15 pengembang yang bernaung di bawah Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Sulsel.

Regional Consumer Banking Head BRI RO Makassar Eko Jayaputra menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk memperluas akses layanan pembiayaan perumahan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, melalui kemudahan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Dia mengutarakan optimisme bahwa kolaborasi tersebut mampu memperkuat ekosistem bisnis properti di Indonesia Timur, juga diproyeksikan dapat memacu pertumbuhan kredit konsumer yang sehat dan berkelanjutan.

“Melalui kerja sama dengan para developer REI Sulsel ini, kami berharap dapat memberikan nilai tambah baik bagi mitra pengembang maupun masyarakat yang membutuhkan hunian,” ujar Eko, belum lama ini.

Di sisi lain, perbankan syariah juga mengambil ancang-ancang serupa untuk membentengi pasar properti dari gejolak makroekonomi. PT Bank Syariah Indonesia Tbk. atau BSI menyatakan hingga saat ini belum mengerek tingkat margin pembiayaan perumahan (Griya), meskipun bank sentral telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps).

Baca Juga

  • Emiten Properti ASRI, MTLA Cs Cermati Efek BI Rate terhadap Bunga KPR
  • Tekanan Properti di kuartal III
  • Emiten Properti BSDE, CTRA, Hingga ASRI Berpacu Jaga Marketing Sales Usai BI Rate Naik

RCEO BSI RO X Makassar Sukma Dwie Priardi mengungkapkan, pihaknya masih mempertahankan tingkat equivalent rate yang ada sembari mencermati dinamika pasar. Evaluasi komprehensif terkait biaya dana (cost of fund) baru akan digodok dalam rapat asset liability committee (Alco) dalam waktu dekat.

“Untuk sementara ini kami masih menggunakan rate yang sama. Kami masih menunggu perkembangan yang ada, dan dalam waktu dekat Komite Alco akan melakukan analisa lebih lanjut apakah kemudian akan mengikuti kebijakan regulator, atau tetap mempertahankan pricing pembiayaan yang ada saat ini,” jelas Sukma.

Komitmen dari industri perbankan ini menjadi angin segar di tengah mulai munculnya tekanan biaya produksi di tingkat pengembang. Korporasi properti regional, Kalla Land, mencatat biaya konstruksi perumahan telah terkoreksi naik sekitar 8% akibat lonjakan harga bahan baku material yang dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Pengembang Tahan Harga

Chief Operating Officer (COO) Kalla Land M. Natsir Mardan memaparkan, situasi di lapangan menunjukkan adanya penyesuaian pada Harga Pokok Penjualan (HPP) akibat inflasi bahan bangunan. Kendati demikian, Kalla Land memilih untuk tidak terburu-buru menaikkan harga jual properti ke konsumen.

"Pelemahan rupiah ini tentunya berpengaruh kepada kenaikan harga bahan. Biaya produksi perumahan kami mengalami peningkatan kurang lebih hampir 8%. Namun, kami belum mengambil keputusan untuk mengerek harga jual dan masih melakukan kalkulasi mendalam," urai Natsir.

Menariknya, tekanan kurs sejauh ini belum mengoreksi minat beli masyarakat di pasar perdana secara signifikan. Penjualan Kalla Land diklaim masih berjalan sesuai target.

Optimisme pelaku usaha di Sulsel ini tidak lepas dari kokohnya fundamental ekonomi daerah. Sebagai informasi, pada kuartal I/2026, ekonomi Sulsel tercatat mampu tumbuh di atas 6% secara tahunan (year-on-year/YoY), melaju mentereng di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

Prospek cerah ini turut diamini oleh Ketua DPD Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Sulsel Yasser Latief. Organisasi hilir properti ini meyakini sektor perumahan akan tetap menjadi motor penggerak utama roda ekonomi daerah hingga akhir tahun.

Untuk menjaga momentum ekspansi di kawasan Indonesia Timur tersebut, Apersi Sulsel berharap sektor perbankan dapat terus memberikan dukungan pembiayaan yang kuat guna menjaga daya beli. 

"Di samping itu, koordinasi intensif bersama pemerintah pusat dan daerah terus kita lakukan guna menyinkronkan regulasi di lapangan demi mempermudah kepemilikan hunian bagi masyarakat," ungkap Yasser .

1779967307_ef567a90-d34f-4f9b-bd28-d289ab6b48e1.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jelajahi Jejak Sejarah Kereta Manggarai Lewat Walking Tour kumparan Hangout
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
AS Peringatkan Oman soal Selat Hormuz, Ketegangan Kawasan Memanas
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
Singgung Soal Penalti di F1 GP Kanada 2026, Isack Hadjar Sampaikan Permintaan Maaf Kepada Charles Leclerc
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Kata-kata Bojan Hodak Setelah Hengkang dari Persib Bandung, Pilih Fokus Masalah Pribadi dengan Tugas Baru di Balik Layar
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Polda Riau Potong 195 Hewan Kurban, Daging Dibagikan Hingga Pelosok
• 10 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.