Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah emiten Tanah Air kini tengah menanti efek gelaran pesta sepak bola World Cup 2026 terhadap kinerja fundamental perusahaan. Analis meramal, pesta sepak bola internasional yang digelar empat tahun sekali ini berpotensi mendatangkan banyak pelanggan baru bagi emiten media.
PT Folago Global Nusantara Tbk. (IRSX) menjadi salah satu emiten yang telah mengambil posisi terhadap peluang ini. Mengandalkan platform streaming over the top (OTT) FolaPlay, IRSX menggandeng TVRI dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) untuk menyiarkan konten Piala Dunia 2026.
Dalam hal ini, TVRI selaku pemegang hak siar resmi Piala Dunia 2026 menunjuk FolaPlay sebagai platform digital untuk penayangan iklan dan distribusi konten berbasis OTT.
Direktur Utama Folago Global Nusantara Subioto Jingga, mengatakan kerja sama tersebut tidak hanya berfokus pada aspek komersial, tetapi juga membawa semangat inklusi digital dan kebersamaan nasional melalui momentum Piala Dunia 2026.
Menurut Subioto, FolaPlay akan menjadi ruang baru bagi brand dan agensi periklanan untuk menjangkau audiens digital di tengah tingginya antusiasme masyarakat terhadap pesta sepak bola dunia tersebut.
“Kenapa FolaPlay berani untuk ambil [lisensi]? Ini momentum untuk kami meningkatkan subscriber menjadi jutaan. Kalau kami tidak ambil, sayang sekali,” katanya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Senin (25/5/2026).
Baca Juga
- Harga Tiket Piala Dunia 2026 Naik Drastis, Termahal Rp583 Juta
- Piala Dunia 2026 Hadirkan Empat Negara Debutan, Ada Uzbekistan hingga Curacao
- TVRI, Folago (IRSX), Surge (WIFI) Kolaborasi Tayangkan Piala Dunia 2026
Subioto menerangkan, rencana ini telah disiapkan Folago sejak lama. Hanya saja, FolaPlay disebut baru bakal launching pada awal Juni 2026, sementara Piala Dunia berlangsung pada periode 11 Juni—19 Juli 2026.
”Kami akan memastikan Piala Dunia melalui FolaPlay, kami akan mendeliver yang terbaik dan kami juga menjalin kerja sama dengan Internet Rakyat,” katanya.
Riset dari Retail Research Analyst Sinarmas Sekuritas Dipta Daniswara, menunjukkan posisi IRSX dalam ekosistem siaran Piala Dunia TVRI cukup signifikan. Salah satunya, IRSX dinilai dapat menjadi pelengkap atas keterbatasan infrastruktur TVRI yang belum memiliki infrastruktur OTT atau mobile streaming.
Selain itu, monetisasi digital IRSX dinilai lebih fleksibel karena TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik dinilai memiliki keterbatasan dalam memonetisasi iklan.
”FolaPlay juga membidik segmen muda/mobile user yang lebih menarik bagi pengiklan dibandingkan audiens tradisional TVRI,” katanya dalam riset yang dikutip Kamis (28/5/2026).
Dipta menilai, selain IRSX, sejumlah emiten lain juga berpotensi meraup berkah dari momentum ini. Terhadap SCMA dan EMTK, kenaikan trafik iklan diramal terjadi dalam gelaran Piala Dunia 2026.
Sementara terhadap emiten dalam sektor telekomunikasi dan data, berpotensi mengalami kenaikan penggunaan internet dan streaming selama Piala Dunia berlangsung. Sementara sektor konsumer, berpotensi mengalami peningkatan permintaan makanan dan minuman saat gelaran acara tersebut.
Hanya saja, secara historis, periode Piala Dunia disebut kerap kali diiringi penurunan aktivitas dan likuiditas pada transaksi pasar saham. Pada 2022 misalnya, RNTH IHSG pada kuartal IV/2022 tercatat turun 11,2% menjadi Rp13,05 triliun.
”Strategi short-term lebih cocok untuk memanfaatkan momentum jangka pendek, terutama karena saham yang sudah naik lebih dulu menjelang Piala Dunia cenderung lebih rentan mengalami profit taking saat event berlangsung,” katanya.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




