Jalur Jamarat di Mina, Ketika Jemaah Haji Belajar Arti Kemanusiaan

kumparan.com
20 jam lalu
Cover Berita

Jalur menuju Jamarat, kompleks di Mina yang jadi lokasi utama jemaah haji melempar jumrah, bukan sekadar lintasan ibadah.

Di antara lautan manusia yang berjalan kaki di bawah terik Mina, ada pelajaran panjang tentang bagaimana manusia belajar menjadi sesama bagi manusia lainnya.

Sejak kaki mulai melangkah dari tenda-tenda Mina, arus manusia sudah tampak mengalir tanpa putus. Wajah-wajah lelah terlihat di mana-mana, tetapi anehnya tetap menyimpan semangat yang sulit dijelaskan. Mereka berjalan menuju satu titik yang sama: Jamarat.

Di perjalanan itu, perbedaan seperti lenyap begitu saja. Tidak ada yang bertanya siapa paling kaya, siapa paling miskin. Tidak ada yang peduli berasal dari negara mana, berbicara bahasa apa, atau memiliki jabatan setinggi apa di dunia.

Semua berjalan dalam langkah yang sama, memanggul lelah yang sama, dan membawa doa-doa yang sama besarnya.

Benar kata banyak orang, haji adalah ibadah fisik. Tubuh benar-benar diuji. Jarak tempuh menuju lokasi lempar jumrah tidak pendek. Di tengah suhu panas Mina yang menyengat, jutaan manusia bergerak dalam satu jalur yang padat. Kadang langkah harus melambat, kadang berhenti total karena arus manusia menumpuk di depan.

Namun justru di situlah sisi lain haji terasa begitu kuat: kemanusiaan.

Gema Takbir

Di sepanjang jalan menuju Jamarat, takbir menggema tanpa henti. “Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Suara itu datang dari berbagai arah, dengan logat yang berbeda-beda. Sebagian jemaah berjalan sambil terus berzikir, sebagian lagi sibuk menenangkan anggota keluarganya yang mulai kelelahan.

Di sela perjalanan itu, ada pemandangan-pemandangan kecil yang diam-diam menyentuh hati.

Di hampir setiap persimpangan, orang-orang berdiri membagikan air minum dingin. Ada yang membawa kardus berisi jus, ada yang menyodorkan buah, roti, bahkan sekadar semprotan air ke wajah-wajah yang kepanasan.

Mereka tidak mengenal siapa yang mereka bantu. Tidak tahu nama, tidak tahu asal negara, bahkan mungkin tak saling memahami bahasa. Namun tangan mereka tetap terulur.

Senyum dan doa menjadi bahasa yang paling mudah dipahami di jalur itu.

“Insyaallah haji mabrur.”

Kalimat sederhana itu terdengar berkali-kali, dari orang asing kepada orang asing lainnya.

Saling Menjaga

Jemaah pun saling menjaga satu sama lain. Ada yang tersesat dari rombongan lalu dibantu dicarikan jalan. Ada lansia yang kesulitan berjalan lalu dipapah bersama-sama. Ada yang berhenti karena sesak dan kelelahan, lalu spontan beberapa orang menepi membantu memberi ruang agar ia bisa bernapas lebih lega.

Tak sedikit pula yang rela menahan langkah demi memastikan orang di sebelahnya baik-baik saja.

Di jalur Jamarat, manusia seperti sedang diingatkan kembali bahwa hidup tidak selalu tentang diri sendiri.

Panas Mina memang menyengat. Keringat membasahi pakaian. Telapak kaki terasa nyeri karena berjalan jauh. Tetapi di tengah kondisi itu, rasa ego perlahan luruh. Yang muncul justru kepedulian-kepedulian kecil yang mungkin jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Semua orang tampak sadar bahwa perjalanan ini terlalu berat jika dijalani sendirian.

Lempar Jumrah

Sesampainya di area Jamarat, langkah-langkah itu kembali melambat. Bangunan besar tempat melempar jumrah berdiri di hadapan jutaan manusia yang sejak lama memimpikan momen tersebut.

Dari kantong-kantong kecil, jemaah mulai mengeluarkan kerikil yang sebelumnya dipungut saat mabit di Muzdalifah. Kerikil sederhana itu digenggam erat, seolah membawa seluruh doa dan perjuangan panjang selama hidup mereka.

Lalu satu per satu dilemparkan.

“Bismillahi, Allahu Akbar!”

Ada yang melempar dengan mata berkaca-kaca. Ada yang bibirnya terus bergetar menahan tangis. Ada yang setelah selesai langsung menengadahkan tangan begitu lama, seolah sedang menumpahkan seluruh isi hati yang selama ini disimpan rapat-rapat.

Di sudut lain, beberapa jemaah tampak bersujud syukur di lantai. Wajah mereka basah oleh air mata dan peluh yang bercampur jadi satu. Mungkin mereka sedang mengingat perjalanan panjang menuju titik itu.

Bukan tanpa sebab, tak sedikit dari mereka harus menabung bertahun-tahun, menanti puluhan tahun, memanjatkan doa yang tak pernah putus sedari muda. Dan hari itu, di bawah langit Mina, semuanya terasa lunas.

Jalur Jamarat akhirnya bukan hanya tentang melempar kerikil. Lebih dari itu, jalur ini mengajarkan tentang kerendahan hati, tentang kesabaran, tentang bagaimana manusia saling menguatkan di tengah beratnya perjalanan ibadah.

Di tempat itu, jutaan manusia datang membawa cerita masing-masing. Membawa luka, harapan, rasa takut, dan doa-doanya.

Di jalur Jamarat ini pula, keinginan, perjuangan, air mata, dan harapan tumpah ruah menjadi satu. Mungkin, di sanalah manusia benar-benar belajar arti menjadi manusia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pelaku Pembunuhan dan Pemerkosa Siswi SD di Makassar Ditangkap
• 14 jam lalueranasional.com
thumb
Marco Bezzecchi Bidik Kemenangan di MotoGP Italia, Sebut Juara di Mugello Sebagai Mimpi Besar
• 17 jam lalupantau.com
thumb
Fajar/Fikri ke Semifinal Singapore Open 2026, Ungkap Kunci Kemenangan atas Goh/Izzuddin
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Ngakak plus Merinding, Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih Beri Sajian Komedi dalam Horor Pesugihan
• 9 jam laluintipseleb.com
thumb
Presiden Dorong Sekolah-Sekolah di Indonesia Belajar Bahasa Prancis
• 19 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.