DEFISIT rupanya tak jauh-jauh dari kehidupan BPJS Kesehatan. Sejak berdirinya, sambil menahan nafas kehidupannya, BPJS Kesehatan selalu defisit yang mengancam keberlangsungannya.
BPJS Kesehatan tetap dapat bertahan karena komitmen negara menjamin kesejahteraan dan kesehatan masyarakat.
Dalam periode awal 2015-2018, BPJS Kesehatan tiap tahun mengalami defisit. Jumlah defisit terus meningkat hingga mencapai triliun rupiah.
Waktu itu, BPJS Kesehatan sebagai harapan baru masyarakat, kehadirannya sangat dibutuhkan. Pemerintah dan BPJS terus mencari jalan keluar dari defisit.
Pada periode 2023-2025, defisit kembali terjadi setelah melewati periode pandemi Covid-19 (2019-2022). Pada 2020, BPJS dilaporkan sempat mengalami surplus karena keterbatasan akses layanan.
Selepas pandemi Covid-19, kunjungan ke layanan kesehatan kembali meningkat. Maka defisit datang kembali mengancam kelangsungan program BPJS Kesehatan.
Tiga tahun terakhir, defisit mencapai Rp 7,1 triliun, Rp 9,5 triliun dan Rp 20 triliun. Tahun 2026, setiap bulan BPJS Kesehatan akan defisit Rp 2 triliun. Pada akhir tahun nanti, defisit akan mencapai Rp 30 triliun.
Baca juga: Mode Bertahan Kelas Menengah Indonesia
Seperti yang sudah-sudah, hal ini terjadi karena pendapatan BPJS Kesehatan dari iuran peserta lebih rendah dibanding pembayaran klaim layanan kesehatan. Defisit tak bisa dibiarkan jika negara punya komitmen menjamin layanan kesehatan masyarakat.
'Universal coverage' menjadi angka cakupan keberhasilan yang tinggi, tapi belum tentu fungsional dalam menjamin keberlangsungan BPJS kesehatan. Hal demikian mengkhawatirkan.
Kepesertaan 99 persen penduduk, tapi yang aktif membayar di bawah 70 persen. Tanpa iuran yang masuk dengan lancar, defisit akan selalu mengancam, dan negara tak akan mampu menanggungnya.
Secara statistik orang yang jatuh sakit jauh lebih sedikit daripada mereka yang sehat. Di Indonesia, paling sekitar 12,66 persen orang sakit yang datang ke fasyankes atau rumah sakit.
Angka kesakitan menggambarkan persentase penduduk yang mengalami gangguan dalam periode tertentu.
Namun, akses masyarakat dalam layanan kesehatan terus meningkat, baik dalam arti kuantitas maupun kualitas.
Akses layanan fasyankes kini menembus lebih 2 juta manfaat tiap hari, dengan total pemanfaatan layanan mencapai 673,9 juta tahun lalu.
Di sini kita melihat biaya kesehatan bukan sekadar hitungan statistik. Meledaknya layanan rujukan, penyakit khronis dan katastropik membutuhkan pembiayaan besar yang mesti dijamin.





