Patriarki di Indonesia: dari Tradisi hingga Ketimpangan Gender

kumparan.com
20 jam lalu
Cover Berita

Belakangan ini, pernyataan seperti ‘perempuan sebaiknya di rumah saja’ atau ‘laki-laki harus selalu jadi pemimpin’ masih sering terdengar di sekitar kita, baik di media sosial maupun dalam percakapan sehari-hari. Sekilas, kalimat-kalimat itu tampak sederhana, tetapi sebenarnya mencerminkan cara pandang yang membatasi peran perempuan dan menormalisasi ketimpangan gender.

Ketika ucapan seperti itu diulang terus-menerus, masyarakat perlahan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar, padahal di dalamnya tersimpan logika patriarki yang kuat. Akar patriarki yang ada di Indonesia dapat dipahami sebagai hasil dari proses sejarah yang panjang, bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba.

Dalam masyarakat Indonesia, patriarki tumbuh dari gabungan antara budaya lokal, struktur keluarga tradisional, pengaruh agama yang ditafsirkan secara tidak seimbang, serta warisan kolonial yang ikut memperkuat ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan.

Karena itu, jika ingin memahami patriarki secara utuh, kita tidak cukup hanya melihatnya sebagai sikap individual, tetapi juga harus melihatnya sebagai sistem sosial yang telah mengakar dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Patriarki di Indonesia merupakan hasil panjang dari proses sejarah yang melibatkan budaya lokal, struktur keluarga tradisional, pengaruh agama yang ditafsirkan secara tidak seimbang, serta warisan kolonial.

Dalam masyarakat Indonesia, laki-laki sejak lama diposisikan sebagai pemimpin keluarga, pencari nafkah utama, dan pengambil keputusan, sementara perempuan diarahkan pada ruang domestik seperti mengurus rumah dan anak. Pembagian peran ini dianggap alami, padahal merupakan konstruksi sosial yang dibentuk oleh kebiasaan, adat, dan pola pikir masyarakat yang terus menerus diperkuat.

Di banyak daerah, laki-laki sejak lama diposisikan sebagai pemimpin keluarga, pencari nafkah utama, dan pengambil keputusan, sementara perempuan diarahkan pada ruang domestik, seperti mengurus rumah, anak, dan kebutuhan keluarga.

Pembagian peran ini kemudian dianggap sebagai sesuatu yang alami, padahal sebenarnya merupakan hasil konstruksi sosial yang dibentuk terus-menerus oleh kebiasaan, adat, dan pola pikir masyarakat. Karena dianggap sebagai tradisi, banyak orang tidak menyadari bahwa pola tersebut sesungguhnya telah membatasi ruang gerak perempuan dan sekaligus menekan laki-laki untuk selalu tampil kuat, dominan, dan tidak boleh lemah.

Selain berasal dari budaya lokal, patriarki di Indonesia juga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh sejarah kolonial. Pada masa kolonial, struktur sosial yang sudah cenderung menempatkan laki-laki di posisi lebih tinggi semakin diperkuat oleh sistem hukum, pendidikan, dan birokrasi yang dibawa oleh penjajah.

Kolonialisme tidak hanya menguasai wilayah secara fisik, tetapi juga mengatur cara masyarakat berpikir, termasuk tentang peran gender. Akibatnya, pengetahuan, otoritas, dan kepemimpinan lebih sering dilekatkan pada laki-laki, sedangkan perempuan dipandang sebagai pihak yang kurang layak mengisi ruang publik.

Warisan ini kemudian tidak hilang setelah Indonesia merdeka, tetapi tetap hidup dalam berbagai bentuk melalui institusi keluarga, pendidikan, dan masyarakat. Bahkan dalam beberapa kasus, patriarki justru semakin kuat karena dilekatkan pada narasi moral dan budaya yang dianggap tidak boleh diganggu gugat.

Dengan demikian, patriarki di Indonesia adalah hasil pertemuan antara nilai-nilai lama yang telah ada dalam masyarakat dengan pengaruh kolonial yang mempertegas ketimpangan gender.

Dari perspektif Islam, sastra Islam Jawa seperti Piwulang Estri mendoktrin perempuan ideal sebagai istri yang tunduk sempurna pada suami, menyenangkan hasratnya, menerima poligami dengan ikhlas, dan menyerahkan tubuh serta jiwa sepenuhnya.

Penolakan dianggap setara menentang Tuhan dengan ancaman azab abadi, sementara cerai distigma sebagai bencana terburuk. Padahal, ajaran Islam seharusnya menekankan keadilan dan kasih sayang, bukan dominasi satu gender.

Patriarki ini merambat ke pendidikan yang mengarahkan perempuan ke bidang domestik, diskriminasi upah dan promosi di dunia kerja, serta minimnya representasi politik perempuan. Akibatnya muncul KDRT, pelecehan seksual, perkawinan anak, dan beban maskulinitas toksik yang merugikan semua pihak.

Demi mengakhiri lingkaran patriarki, kita perlu pendekatan konstruktif yang mengubah sistem dari akarnya. Menghapus budaya patriarki di Indonesia bisa dimulai dari mengubah pola pikir bahwa laki-laki harus selalu dominan.

Laki-laki perlu menyadari bahwa menunjukkan empati atau berbagi peran rumah tangga bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kasih sayang dan tanggung jawab nyata. Menjadi laki-laki keren zaman sekarang berarti tidak lagi merasa gengsi untuk mencuci piring atau mengurus anak, karena tugas domestik adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas perempuan.

Di ruang publik, laki-laki punya peran besar sebagai "penjaga" kesetaraan. Kita harus berani menegur jika ada teman yang merendahkan atau melecehkan perempuan, meskipun itu hanya dalam bentuk candaan. Dengan berhenti menormalisasi perilaku diskriminatif, kita sedang menciptakan lingkungan yang aman bagi siapa saja.

Pendidikan di rumah dan sekolah juga harus mulai mengajarkan bahwa setiap orang, tanpa memandang gender, punya hak yang sama untuk bermimpi dan memimpin. Jika sistem hukum kita sudah mendukung dan setiap individu sudah saling menghargai martabat satu sama lain, ketimpangan ini perlahan akan hilang.

Pada akhirnya, mengurangi patriarki bukan soal siapa yang lebih kuat, melainkan soal bagaimana kita bisa hidup berdampingan secara adil dan bahagia sebagai sesama manusia. Budaya yang sehat adalah budaya yang memanusiakan semua orang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IMM: Presiden Kurban Pakai APBN Tak Langgar Aturan, Bentuk Kepedulian Sosial
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
[FULL] AS dan Iran Saling Serang Lagi, Perdamaian di Ujung Tanduk? Ini Analisis Pakar!
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
5 Cara untuk Mengurangi Distraksi Saat Sulit Fokus
• 12 jam lalubeautynesia.id
thumb
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini Naik Rp20 Ribu, Jadi Rp2.774.000 per Gram
• 18 jam laluidxchannel.com
thumb
Penonton Hari Pertama 4 Film Indonesia Terbaru: Sekawan Limo 2 Ngamuk, 3 Lainnya Ikut Panen
• 19 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.