Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.789 pada Selasa, 26 Mei 2026. Posisi rupiah itu melemah 46 poin dari kurs sebelumnya di level 17.743 pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Jumat, 29 Mei 2026 hingga pukul 09.03 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.836 per dolar AS. Posisi itu melemah 9 poin atau 0,05 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.827 per dolar AS.
- VIVA/Davro
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, saat ini Bank Indonesia (BI) hanya bisa melakukan intervensi di pasar internasional dan sudah melakukannya sekuat mungkin.
"Tapi faktor eksternal lebih kuat mempengaruhi sentimen pasar,” kata Ibrahim dalam riset hariannya, Jumat, 29 Mei 2026.
Menurutnya, kelicikan AS dalam perangnya terhadap Iran, menjadi pemicu amblasnya mata uang rupiah. Serangan AS ke Selatan Iran di tengah klaim mereka soal kesepakatan damai, membuat harga minyak kembali melambung.
Terlebih, per Kamis kemarin harga minyak dunia naik di sekitar 3 persen. Dimana harga minyak Brent menjadi US$97 per barel dan harga minyak WTI menjadi US$91 per barel.
Kondisi itu masih diperparah dengan kembali memanasnya perang Rusia-Ukraina, setelah kedua belah pihak kembali aktif saling serang. Sehingga, gangguan logistik untuk sumber energi bukan hanya terjadi di Timur Tengah, tapi juga di kawasan Eropa.
Ibrahim menambahkan, kenaikan harga bahan bakar juga sebenarnya menyulitkan AS. Bukan hanya bagi rakyatnya saja, tapi juga terhadao otoritas moneternya karena kekhawatiran akan meningkatnya inflasi.
Pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS alias The Fed masih akan mempertahankan suku bunga tinggi hingga akhir tahun ini. Sebagian bahkan memprakirakan bank sentral akan menaikkan suku bunganya.
Ekspektasi tersebut mendorong penguatan dolar AS, sehingga berimbas pada melemahnya rupiah. Ditambah isu-isu domestik yang muncul membuat para investor asing akhirnya menarik uangnya dari Indonesia.





