EtIndonesia.com. Meskipun pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Tiongkok Xi Jinping telah berakhir, serta kedua pihak kembali melanjutkan kontak tingkat tinggi, sikap keras Washington terhadap Partai Komunis Tiongkok (PKT) tampaknya tidak melunak. Perwakilan Dagang Amerika Serikat, Jamieson Greer, pada Selasa (26 Mei) secara terbuka menyatakan bahwa pihak AS tidak lagi berharap PKT akan mengalami perubahan mendasar melalui kerja sama ekonomi. Karena itu, ke depan Washington akan mendorong “perdagangan terkelola” (managed trade) dan mempertahankan tarif tinggi atas produk-produk Tiongkok dalam jangka panjang.
Para analis menilai, hal ini menunjukkan bahwa meskipun setelah “pertemuan Trump-Xi” kedua negara kembali berdialog, strategi inti Amerika terhadap Tiongkok tetap tidak berubah, bahkan semakin beralih ke arah “membatasi PKT dan mengurangi risiko.”
Walaupun dialog AS–Tiongkok kembali dilanjutkan setelah pertemuan Trump-Xi, tekanan ekonomi dan perdagangan Amerika terhadap PKT jelas tidak menunjukkan tanda-tanda pelonggaran.
Pada Selasa, Greer dalam forum di Council on Foreign Relations menyatakan bahwa Washington tidak lagi percaya bahwa PKT akan secara bertahap bergerak menuju reformasi pasar dan reformasi sistem melalui globalisasi serta integrasi ekonomi. Ia mengakui bahwa pemerintah AS kini menerima kenyataan bahwa sistem PKT sulit diubah melalui kerja sama ekonomi, sehingga ke depan kebijakan akan bergeser menuju bentuk tertentu dari “perdagangan terkelola.”
Greer bahkan secara terang-terangan mengatakan bahwa kemampuan Amerika Serikat untuk terus mempertahankan tarif tinggi terhadap Tiongkok adalah sesuatu yang “sangat bagus.” Ia juga memprediksi bahwa tarif terhadap produk-produk Tiongkok akan tetap lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain dalam jangka panjang.
“Dulu Amerika Serikat percaya bahwa selama PKT terintegrasi ke dalam pasar global, Tiongkok perlahan akan bergerak menuju sistem yang lebih terbuka dan berorientasi pasar. Tetapi sekarang Amerika telah menyimpulkan bahwa sistem PKT tidak akan berubah secara mendasar hanya karena kerja sama ekonomi. Karena itu, AS mulai beralih ke perdagangan yang dikelola,” kata penasihat senior Taiwan Institute of Japan Studies, Chen Wenjia.
Greer juga mengungkapkan bahwa pemerintah AS segera akan memulai proses pembentukan “Komite Perdagangan” dan dalam waktu dekat akan menerbitkan pemberitahuan resmi di Federal Register untuk membuka konsultasi publik secara formal.
Ke depan, pihak AS akan menilai produk-produk nonstrategis dan nonsensitif mana yang dapat dimasukkan ke dalam daftar pengurangan tarif timbal balik antara kedua negara.
Para analis menilai bahwa hal ini menunjukkan Amerika Serikat saat ini bukan ingin sepenuhnya “memutus hubungan” dengan PKT, melainkan ingin membangun model perdagangan jangka panjang yang “dapat dikendalikan, dapat dibatasi, dan dapat mengurangi risiko.”
“Tujuan jangka panjang Amerika memang ditujukan kepada PKT. Ketika kekuatan nasional dan ekonomi Tiongkok sedang melemah, AS tentu berharap menggunakan cara-cara ekonomi agar PKT tidak mampu menantang Amerika. Jadi selain militer dan diplomasi, ekonomi tentu menjadi alat yang penting,” kata peneliti dari Taiwan Institute for National Defense and Security Research, Shen Mingshi.
Selain itu, terkait kebijakan tarif global 10% yang saat ini diterapkan berdasarkan Pasal 122 Trade Act of 1974 dan akan berakhir pada Juli mendatang, Greer juga mengisyaratkan bahwa pemerintah AS tidak menutup kemungkinan untuk kembali mengaktifkan instrumen tersebut di masa depan.
Sumber : NTDTV.om





