William Hetherington
Kanada melonggarkan aturan masuk bagi sebagian penumpang pesawat dari Malaysia dan Indonesia yang datang ke negara tersebut untuk bepergian atau transit.
Mulai 26 Mei, pelancong dari Malaysia dan Indonesia dapat mengajukan otorisasi perjalanan elektronik (electronic travel authorization/eTA) sebagai pengganti visa kunjungan apabila mereka pernah memegang visa penduduk sementara Kanada dalam 10 tahun terakhir. Mereka yang memiliki visa non-imigran Amerika Serikat yang masih berlaku juga memenuhi syarat.
Menurut departemen imigrasi, eTA biasanya melibatkan proses pengajuan daring yang lebih sederhana dengan biaya sebesar 7 dolar Kanada dan dapat diproses hanya dalam hitungan menit. Sementara itu, visa kunjungan bagi warga Indonesia dan Malaysia dapat menelan biaya lebih dari 100 dolar Kanada dan memerlukan waktu pemrosesan yang jauh lebih lama.
Pemerintah Kanada mengatakan pelonggaran tersebut merupakan bagian dari upaya Kanada untuk memperdalam dan memperluas hubungan di seluruh Asia, memperkuat investasi di kawasan, meningkatkan perdagangan internasional, dan membantu memperluas peluang bagi bisnis Kanada.
“Mengubah persyaratan visa bagi pelancong yang memenuhi syarat dari Indonesia dan Malaysia merupakan bagian dari upaya pemerintah secara menyeluruh untuk memperdalam keterlibatan Kanada di kawasan Indo-Pasifik, mendukung perdagangan dan investasi, serta mempermudah masyarakat untuk terhubung, berbisnis, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang Kanada,” kata Menteri Imigrasi Lena Metlege Diab dalam siaran pers pada 25 Mei.
Perdana Menteri Mark Carney telah melakukan serangkaian perjalanan ke kawasan tersebut dalam enam bulan terakhir seiring upayanya mendiversifikasi perdagangan agar tidak terlalu bergantung pada Amerika Serikat.
Ia bertemu Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dalam sebuah KTT ASEAN di Kuala Lumpur pada Oktober tahun lalu. Dalam pertemuan itu, keduanya sepakat memperdalam investasi di sektor gas alam cair, minyak, nuklir, dan energi terbarukan. Kantor Perdana Menteri Kanada mengatakan kedua negara menargetkan peningkatan perdagangan bilateral dengan fokus kerja sama di bidang “energi bersih dan konvensional”, mineral kritis, pertahanan, dan kecerdasan buatan.
Saat ini Kanada mengalami defisit perdagangan yang cukup besar dengan Malaysia. Nilai perdagangan kedua negara mencapai sekitar 6,1 miliar dolar Kanada pada 2025, terdiri dari 1,7 miliar dolar Kanada ekspor Kanada dan 4,4 miliar dolar Kanada impor.
Carney juga bertemu Presiden Prabowo Subianto di Ottawa pada September 2025. Pertemuan itu merupakan kunjungan bilateral pertama antara pemimpin Kanada dan Indonesia dalam 25 tahun terakhir. Keduanya menandatangani Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Kanada–Indonesia, sebuah usulan pakta perdagangan yang bertujuan menurunkan hambatan perdagangan dan meningkatkan kerja sama di sektor energi, pertanian, manufaktur, dan perdagangan digital.
Kanada juga mengalami defisit perdagangan moderat dengan Indonesia, dengan impor berupa barang manufaktur dan komoditas seperti minyak sawit serta mesin listrik, sementara ekspornya mencakup gandum, pupuk, pulp, dan kertas.
Sumber : Theepochtimes.com





