Di depan Presiden Perancis Emmanuel Macron saat pertemuan billateral, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dengan percaya diri mengatakan: “Sekarang saya sudah instruksikan bahwa semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar bahasa ePrancis, melihat perkembangan dunia ke depan.”
Kalimat itu terdengar megah. Diplomatik. Modern. Seolah Indonesia sedang melangkah menuju pergaulan global yang lebih elit dan kosmopolitan.
Namun pada saat yang sama, sebuah pertanyaan menyelinap: apakah kita terlalu jauh menatap Paris, sementara ruang-ruang kelas di negeri sendiri masih sibuk mengeja huruf demi huruf?
Masalah pendidikan Indonesia hari ini bukan sekadar kekurangan bahasa asing.
Problem utamanya justru lebih mendasar: kemampuan membaca, memahami, dan bernalar masyarakat kita masih tertinggal.
Data OECD melalui Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan kemampuan literasi membaca pelajar Indonesia masih berada di kelompok bawah dunia.
Dalam berbagai siklus PISA, skor membaca Indonesia konsisten berada di bawah rata-rata negara-negara OECD.
Baca juga: Lelah Menjadi Kelas Menengah
Bahkan banyak siswa Indonesia dikategorikan belum mencapai level minimum kompetensi membaca yakni kemampuan memahami gagasan utama dari teks sederhana. itu menunjukkan kemampuan literasi pelajar Indonesia masih tertinggal.
Dari 81 negara dan ekonomi peserta, Indonesia memperoleh skor membaca 359, matematika 366, dan sains 383, masih berada di bawah rata-rata
Ironinya terasa pahit. Di satu sisi negara ingin memperluas cakrawala global melalui bahasa Perancis, tetapi di sisi lain jutaan anak masih kesulitan memahami isi bacaan dalam bahasa Indonesia sendiri.
Kita seperti rumah yang ingin memasang jendela bergaya Eropa, tetapi fondasi lantainya masih retak.
Bahasa asing tentu penting. Tidak ada yang salah dengan belajar bahasa Perancis, Ingris, Mandarin, Arab, Jepang, atau bahasa mana pun.
Dunia memang bergerak menuju keterhubungan global. Tetapi pendidikan memiliki urutan logika. Anak yang belum kokoh membaca dalam bahasa ibu akan kesulitan meloncat pada bahasa dunia.
Bonjour di Tengah Darurat LiteralBonjour dipakai karena ia adalah sapaan paling dikenal dalam bahasa Prancis dan langsung menghadirkan asosiasi tentang Perancis, modernitas, diplomasi, serta dunia internasional.
Kata itu tidak digunakan sekadar sebagai ucapan “halo,” melainkan sebagai simbol atau metafora tentang ambisi global pendidikan Indonesia, keinginan untuk terlihat maju, kosmopolitan, dan terhubung dengan dunia luar melalui bahasa asing.





